Karya Salma
Ratna masih menimang-nimang bros cantik dengan motif burung merak itu. Bros itu baru saja sampai ke tangannya setelah tiga hari yang lalu ia pesan melalui aplikasi belanja online. Cantik sekali, pikir Ratna. Ini sangat cocok untuk Bu Lili, guru bahasa Indonesia idolanya. Seminggu lagi Bu Lili ulang tahun. Ratna memikirkan bagaimana cara ia memberikan bros itu kepada Bu Lili nantinya. Bahkan Ratna juga berencana menulis sebuah puisi singkat untuk Bu Lili. Beberapa goresan pada kertas di depannya menunjukkan Ratna sedang mengarang sebuah puisi. Ia ingin puisi itu memberikan kesan yang mendalam bagi Bu Lili.
Ada
telaga di setiap kehadiranmu/ yang kutimba ‘tuk pelepas dahaga/ Ada purnama di
wajahmu/ yang menerangi jalanku dalam kelam/ Ada rindu menyeruak hati/ kala
bayangmu tiada. Selamat Ulang Tahun, Ibu.
Demikian yang ditulis Ratna dalam sebuah kertas kecil. Tulisannya indah dan
rapi. Di sudut kanan bawah kertas, Ratna mencantumkan namanya. Setelah itu,
Ratna memasukkan kertas itu ke dalam kotak kecil yang sudah berisi bros burung
merak. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Ratna membungkus kotak kecil itu dengan
kertas kado. Kado itu makin cantik setelah Ratna mengikatnya dengan sebuah pita
berwarna putih. Tak lupa ia tempelkan kata-kata “Happy Birthday, Bu Lili” di bagian atas kado itu.
“Kak, pinjam pensil warnanya, boleh?”
tiba-tiba suara Edo, adik Ratna terdengar dari balik pintu kamar.
Buru-buru Ratna menyimpan kado kecil itu
ke dalam tasnya. “Iya, masuk aja, Dik!” katanya sambil membukakan pintu.
Secepatnya Edo mengambil benda yang
dipinjamnya. Ratna bersyukur Edo tidak sempat melihat kado itu. Repot kalau Edo
tahu. Dia akan bercerita ke seisi rumah nanti. Atau Edo akan mengejek kakaknya
itu sok perhatian, cari muka, dan segala macam gelar ia sematkan seperti
kejadian saat Ratna memberi hadiah ulang tahun untuk wali kelasnya dua bulan
yang lalu.
***
“Nana, aku pinjam catatan IPA-mu, ya, catatanku belum lengkap,” kata Ezi pada Ratna yang sedang sibuk membahas tugas kelompok dengan Mita dan Ali.
“Kamu ambil di tasku aja, Zi,” balas
Ratna.
Ezi segera menuju meja Ratna dan membuka
tas Ratna. Pandangan Ezi tertuju pada sebuah kado kecil yang ada di sudut tas
Ratna. Ezi bukannya mencari catatan yang ia pinjam terlebih dahulu, melainkan meneliti
kado kecil itu. Dengan jelas ia membaca nama Bu Lili di sana. Ia kemudian
melihat kembali pada Ratna yang masih saja sibuk berdiskusi dengan teman
kelompoknya. Tanpa pikir panjang, Ezi segera menyembunyikan kado itu ke dalam
tasnya. Setelah itu, Ezi mengambil catatan IPA yang ingin ia pinjam. Tak lupa
Ezi menutup kembali tas Ratna dengan rapi, lalu berjalan ke bangkunya.
Ratna tak menyadari ada yang hilang dari
tasnya. Malam hari sebelum hari ulang tahun Bu Lili, Ratna sibuk mencari kado
kecil yang sudah ia persiapkan. Besok kado itu akan diberikannya kepada Bu Lili,
sebelum masuk ke kelasnya. Namun, Ratna tidak menemukan barang yang dicarinya
itu. Semua tempat yang biasa digunakan Ratna untuk menyimpan benda berharganya
sudah ia bongkar. Bahkan Ratna juga
memeriksa kamar Edo, mana tahu Edo mengambil kado itu.
“Sungguh, Kak, Edo tidak ngambil kado
itu! Jangankan ngambil, Melihat aja pun Edo belum pernah,” kata Edo meyakinkan
kakaknya saat didesak.
“Awas, ya, kalau kamu bohong, kakak gak akan
maafin kamu!” Ratna mencoba pura-pura mengancam adiknya.
“Terserah Kakak!” balas Edo kesal. Ia
kemudian bergegas keluar kamar. Ia merasa malas untuk menanggapi pertanyaan
kakaknya lagi.
Akhirnya Ratna memilih diam dan kembali ke kamarnya dengan perasaan
kecewa. Ia kemudian memilih menyelesaikan PR matematikanya walaupun perasaannya
tidak karuan.
Perasaan kecewa Ratna masih terbawa
hingga ke sekolah keesokan harinya. Hari di mana Bu Lili ulang tahun. Hari yang
sudah dibayangkan Ratna sebagai hari yang berkesan untuk dirinya dan Bu Lili.
Namun, semuanya hanya tinggal angan-angan saja. Aida, teman sebangku Ratna,
heran melihat sikap Ratna yang tidak seceria biasanya. Bahkan, sejak jam
pelajaran pertama hingga istirahat, Ratna lebih banyak diam. Dia pun tidak
bersemangat ketika diajak Aida ke kantin.
Pada jam pelajaran keempat, Bu Lili masuk
ke kelas Ratna. Ratna hanya menunduk. Perasaan kesal dan kecewa membaur menjadi
satu. Ratna tidak menyadari semenjak
masuk tadi, mata Bu Lili sudah tertuju padanya. Saat Bu Lili memulai
pembelajaran, barulah Ratna menegakkan kepalanya. Ia memandang ke depan mencoba
fokus dengan materi yang hendak diberikan Bu Lili. Akan tetapi, mata Ratna
justru tertuju pada bros cantik bermotif burung merak yang tersemat di jilbab
Bu Lili. Ratna tersentak. Ia mengerjapkan matanya berulang-ulang untuk
meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat. Tidak, ia tidak salah lihat. Bros
cantik itu persis seperti bros yang ia beli. Apakah mungkin Bu Ratna juga
membeli bros yang sama dengan yang dibeli Ratna? Atau sebenarnya Ratna sudah
memberikan kadonya pada Bu Ratna? Tetapi, kenapa Ratna tidak ingat? Banyak
pertanyaan yang memenuhi benak Ratna. Ia tak lagi mendengar dengan baik
penjelasan Bu Lili tentang perbedaan teks narasi dengan teks deskripsi. Pikirannya
terganggu oleh bros cantik itu, bahkan hingga jam pelajaran bahasa Indonesia
berakhir.
“Ratna, nanti sepulang sekolah, jumpai Ibu
di kantor, ya!” Tiba-tiba saja Bu Lili sudah berada di samping meja Ratna.
“Ba ... baik, Bu,” jawab Ratna gugup.
Dadanya berdebar tidak karuan. Apakah Bu Ratna tadi melihat dia yang tidak
fokus belajar ataukah ada yang lain? Ratna tidak bisa menebaknya.
“Bu Lili bilang apa?” tanya Ezi yang juga tiba-tiba datang setelah Bu
Lili keluar dari kelas.
Ratna tidak langsung menjawab pertanyaan
Ezi. Takut Ezi nanti akan mengarang cerita aneh-aneh lagi kepada teman-teman di
kelas seperti yang dilakukannya pada Libra. Waktu itu Libra diminta wali kelas mereka
datang ke ruang guru. Sebelum tahu apa yang disampaikan wali kelas kepada
Libra, Ezi sudah bercerita kepada seisi kelas bahwa Libra sudah memakai uang
kas kelas untuk keperluan pribadinya. Waktu itu, hampir semua warga kelas
menggerutu pada Libra karena merasa yakin apa yang disampaikan Ezi benar.
“Oh, Bu Lili menyuruhku mengambil buku
tugasku yang tertinggal di mejanya,” jawab Ratna berbohong. Dalam hatinya, Ratna menyesal telah berbohong
karena bukan sifatnya suka berbohong.
Ezi pun sepertinya puas dengan jawaban
Ratna. Itu sebabnya ia tidak lagi bertanya dan kembali ke bangkunya.
Setelah jam sekolah usai, Ratna bergegas
menuju ruang guru. Jantungnya berdegup kencang. Ia takut dimarahi atau ditanyai
tentang sesuatu yang ia tidak tahu. Begitu meminta izin pada beberapa guru yang
ada di ruangan itu, Ratna langsung menuju meja Bu Lili. Di sana terlihat Bu
Lili yang tersenyum cerah ke arah Ratna. Hal itu membuat Ratna semakin bingung.
“Kamu kehilangan sesuatu?” tanya Bu Lili
membuat Ratna kaget.
“Kok Ibu tahu?”
“Ini!” kata Bu Lili menunjukkan bros
burung merak yang tersemat pada hijabnya.
“Ibu dapat di mana?” Suara Ratna sedikit
kencang karena ia betul-betul kaget dengan kejadian itu. Ternyata kado yang ia
cari dari semalam, tercecer di sekolah ini, pikirnya.
“Kemarin Ezi memberi ibu kado ulang
tahun. Sampai di rumah, tak sabar Ibu buka kado itu, ternyata isinya bros
cantik ini. Ibu juga menemukan ada kertas kecil yang berisi puisi dan ucapan
selamat. Tapi, Ibu merasa heran karena tertulis nama kamu di sana. Nah, Ibu
berkesimpulan bahwa kado itu punya kamu,” jelas Bu Lili.
“Betul, Bu. Saya memang kehilangan kado
yang sudah saya persiapkan untuk Ibu. Tapi saya heran, kenapa bisa sampai ke
tangan Ezi?” kata Ratna masih bingung.
“Sudahlah! Yang penting, kado kamu sudah
sampai ke tangan ibu. Ibu ucapkan terima kasih atas kado dan puisinya, ya,”
kata guru yang bijak itu.
Senyum Ratna mengembang. Ia menyalami Bu
Lili dan memberikan ucapan selamat lagi untuk Bu Lili. Ratna mengerti sekarang
bagaimana kado itu sampai ke tangan Ezi setelah ia ingat bahwa Ezi pernah
meminjam buku catatan IPA yang langsung diambil dari tasnya. Bu Lili juga
berkata bahwa beliau akan melakukan pendekatan dengan Ezi agar Ezi dapat
mengubah perbuatan buruknya itu. Ezi mungkin bisa membohongi siapa saja, tetapi
Tuhan tidak tidur. Tuhan tahu semua yang dilakukan makhluk-Nya.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar