Rabu, 29 September 2021

PAYUNG JOVAN

Karya Salma


Hujan belum menunjukkan tanda akan berhenti sedangkan bel pulang sekolah sudah berbunyi semenjak sepuluh menit yang lalu. Beberapa siswa sudah pulang dijemput oleh orang tua mereka. Ada juga yang pulang naik becak dan naik angkutan umum. Beberapa siswa laki-laki nekat menembus hujan setelah membalut tas mereka dengan mantel tas. Mereka terlihat sangat senang. Sepertinya sengaja pulang sambil main hujan.

Berbeda dengan Jovan, siswa laki-laki yang selalu memakai kaca mata tebal itu. Dia hanya mampu berdiri menatap hujan. Albert yang rumahnya berdekatan dengan Jovan sudah berlari menyusul yang lain. Albert sempat mengajak Jovan, tapi Jovan menolak untuk hujan-hujanan.

Dua puluh menit berlalu, tinggal beberapa siswa lagi yang berdiri di gerbang sekolah. Jovan satu-satunya siswa laki-laki yang ada di sana. Terdengar suara cekikikan siswi-siswi  sambil mengejek Jovan.

Cowok cemen! Dengan hujan aja takut!” ejek Cindy teman sekelas Jovan yang disambut derai tawa Nisa dan Ivi.

Jovan hanya diam. Dia tahu persis kata-kata itu ditujukan untuknya. Jovan tidak peduli. Ia sudah biasa diejek atau di-bully oleh teman-teman sekelasnya.

Lima menit berikutnya, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Seorang ibu turun dengan membawa payung menghampiri Jovan kemudian mengajak Jovan masuk mobil.

“Ada yang rumahnya searah Jovan? Ayo pulang bareng Jovan aja!” ajak sang ibu dengan ramah.

Cindy yang jelas-jelas rumahnya searah rumah Jovan menolak ajakan ibu Jovan. Ia malu karena tadi sudah mengejek Jovan. Begitu mobil orang tua Jovan berlalu, Cindy dan teman-temannya tertawa lagi.

“He he ... ternyata dia anak mama!” Kali ini Ivi yang berciloteh.

“Iya, makanya takut hujan,” balas Cindy sambil memonyongkan mulutnya kemudian tertawa lagi.

      ***

“Jo, kamu nanti bawa payung ke sekolah, ya! Papa gak bisa jemput kamu nanti kalau hujan. Papa sama mama mau ke rumah Tante Nita nanti.” Bu Tio, mamanya Jovan mengingatkan Jovan. “Jangan lupa juga bawa jaketmu! Mama rasa siang nanti bakal hujan lagi,” lanjutnya.

Sebagai anak yang patuh dan menyadari keadaannya, Jovan segera mengambil jaket dan payung, kemudian menyimpannya ke dalam tas sekolahnya. Tak lama setelah itu, terdengar suara seseorang memanggil Jovan dari depan rumah. Dia adalah Albert, tetangga dan teman satu sekolah Jovan. Jika cuaca cerah, keduanya selalu berangkat bersama ke sekolah dengan berjalan kaki. Biasanya mereka butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke sekolah.

“Tasmu penuh, ya?” ujar Albert begitu melihat Jovan menyandang tasnya ke punggung.

“Iya, aku bawa payung dan jaket,” balas Jovan sambil berjalan menyusul langkah Albert.

Albert tidak lagi berkomentar. Baginya sudah biasa melihat Jovan membawa payung dan jaket ke sekolah.  Apalagi di musim hujan seperti saat ini.

Dua sahabat itu berjalan dengan penuh semangat sambil berbagi cerita tentang pelajaran dan tugas sekolah. Tanpa terasa, mereka sampai di sekolah dan berpisah menuju kelas masing-masing.

Menjelang pelajaran terakhir usai, angin bertiup kencang.  Di langit awan hitam menggantung menghalangi matahari. Suara guruh pun terdengar menderu membaur dengan suara angin. Beberapa helai daun kering diterbangkan angin ke dalam kelas 8-B.  Selanjutnya titik-titik air hujan turun membasahi bumi. Hawa dingin pun mulai dirasakan oleh Bu Wati dan siswa di kelas itu. Suara Bu Wati pun tidak bisa lagi didengar siswanya dengan jelas. Sehingga beliau hanya membiarkan siswa menyelesaikan catatannya masing-masing.

Jovan yang duduk dekat jendela, mulai merasa tidak nyaman. Udara dingin mulai menyentuh pori-pori kulitnya. Ternyata dugaan mamanya bakal terjadi hujan siang ini benar. Segera Jovan mengeluarkan jaketnya dan memakai jaket tersebut. Beberapa temannya mulai mencibir ke arah Jovan, namun yang lain tetap fokus pada catatan mereka.

Begitu bel pulang berdering, siswa pun berebutan keluar kelas. Cuaca dingin sepertinya mempercepat rasa lapar mereka hingga ingin segera pulang. Sementara Jovan sengaja keluar belakangan. Ia menunggu suasana sepi untuk pulang menembus hujan. Kalau tidak, seperti biasa Jovan akan jadi bahan tertawaan teman-temannya lagi.

“Jovan, kamu pulangnya gimana?” tanya Bu Wati menghampiri Johan yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.

“Saya bawa payung, Bu,” jawab Jovan sambil mengeluarkan benda pelindung hujan itu dari  dalam tasnya.

Bu Wati tersenyum maklum. Kemudian berlalu meninggalkan Jovan yang juga sudah berjalan keluar kelas. Di teras masih ada beberapa teman sekelas Jovan. Mereka semua perempuan. Siswa laki-laki sudah berlari menembus hujan yang tidak sederas tadi. Tak satu pun siswa laki-laki membawa payung ke sekolah, kecuali Jovan.

Merasa yakin sekolah tidak lagi ramai, Jovan mengembangkan payungnya. Ia tidak peduli senyum-senyum ejekan Ivi, Nisa, dan Cindy. Begitu Jovan melangkahkan kakinya menuju halaman sekolah, payungnya seakan ditarik seseorang. Tidak salah lagi, di belakangnya Cindy menahan pinggir payung Jovan.

“Masa cowok tega biarin teman ceweknya hujan-hujanan, sementara dianya pake payung?” seru Nisa yang juga sudah ikut memegang pinggir payung itu.

“Iya, nih, tega amat jadi cowok!” timpal Ivi yang kemudian berusaha merebut payung itu.

“Maaf, aku tidak bisa kena hujan!” bela Jovan dan berusaha menarik payung itu lagi. Ia berhasil dan segera meninggalkan Cindy, Ivi, dan Nisa.

Begitu sampai di gerbang sekolah, Jovan merasa heran karena Cindy, Ivi, dan Nisa sudah berada di sana  bergabung dengan beberapa siswa lain.  Bersamaan dengan itu, terdengar suara tawa beberapa orang yang disertai kata-kata ejekan. Dengan jelas Jovan mendengarkan kata-kata itu ditujukan kepadanya. Walau dongkol, Jovan tidak menanggapinya dan memilih secepatnya berjalan menuju jalan raya. Ia malas mencari masalah dengan teman-temannya. Lebih baik ia fokus akan kesehatan dirinya, begitu pikirnya.

Baru beberapa meter Jovan berjalan, tiba-tiba payungnya sudah ada yang merebut lagi. Ia memutar badannya yang mulai basah itu. Kali ini bukan Cindy dan gengnya, tapi ada dua orang siswa laki-laki.

Mereka bukan teman sekelas Jovan. Namun sangat jelas mereka meriakkan nama Cindy. Benar saja, hitungan detik, Cindy, Ivi, dan Nisa sudah berlari menuju mereka. Jovan tidak mau diam, ia berusaha merebut kembali payung itu setelah jatuh ke tangan Cindy.

“Tolong, Cindy, aku tidak bisa kena hujan!” Lagi-lagi Jovan memohon pada Cindy dengan wajah memelas.

“Ah, bikin tercemar nama cowok sekolah kita aja, kau! Kalau gak, besok kau pake rok aja ke sekolah!” bentak salah satu siswa laki-laki tadi.

“Iya, nih,” timpal yang lainnya, “Bawa aja, Cin!” lanjutnya mengarah pada Cindy.

Jovan tidak menyahut sama sekali. Ia hanya berusaha agar payung itu kembali ke tangannya. Kali ini tepi payung yang berwarna  abu-abu itu sudah berhasil dipegang Jovan. Cindy berusaha menahan dan menyentakkan payung itu dengan kasar. Ivi pun sudah datang ikut menarik payung tersebut. Jovan tak mau kalah, ia pun berusaha sekuat tenaga untuk merebut payung tersebut sehingga terjadi tarik-menarik satu melawan empat orang. Bukannya berhasil, yang ada malah payung itu sekarang bentuknya sudah mengenaskan. Beberapa kawat penyangga payung itu patah. Sementara badan mereka sudah basah kuyup oleh hujan.

Di tengah perseteruan itu, Albert datang.  Ia telat keluar kelas karena harus mendiskusikan tugas kelompoknya terlebih dahulu.

“Hei, apa-apaan kalian!” bentak  Albert sambil mencoba merebut payung yang sudah tak karuan bentuknya itu dari tangan Ivi.

Karena sudah puas membuat payung Jovan patah, Ivi membiarkan Albert merebutnya, Sementara dua teman laki-lakinya sudah lari terlebih dahulu. Cindy dan Ivi tertawa lepas. Sepertinya mereka sangat senang telah mengganggu Jovan. Selanjutnya mereka berjalan pulang.

“Kalau terjadi apa-apa dengan Jovan, kalian yang bertanggung jawab!” seru Albert.

Cindy dan Ivi tidak peduli dengan apa yang disampaikan Albert. Mereka hanya tertawa lepas menanggapinya.

Tak tega melihat Jovan yang mulai menggigil dan pucat, Albert segera mengajak Jovan untuk berteduh saja di sebuah  warung.

“Percuma kita berteduh, Al. Kita sudah terlanjur basah,” tolak Jovan.

“Kamu gak apa?” tanya Albert sambil mencoba mengembangkan lagi payung Jovan. Sia-sia, payung itu tak bisa lagi dipakai. “Yuk, kita jalannya cepat aja!” lanjut Albert.

Kedua sahabat itu pun berjalan secepatnya di tengah hujan agar segera sampai di rumah. Dalam waktu kurang sepuluh menit, mereka sudah sampai di rumah masing-masing.

 ***

Malam harinya, Jovan harus dibawa ke rumah sakit. Badannya panas, hidungnya tersumbat, dan yang lebih parah, napasnya sesak. Bukan hanya itu, kulit Jovan pun merah dan gatal. Memang Jovan mempunyai penyakit alergi terhadap cuaca dingin. Dari cerita Albert, mama Jovan tahu, kalau teman-teman Jovan yang menyebabkan Jovan pulang sekolah kehujanan.

Keesokan harinya, mama Jovan datang ke sekolah menjumpai Pak Tiar, wali kelas Jovan. Mama Jovan tidak ingin anaknya dijahili terus. Mama Jovan meminta Pak Tiar memberitahu saja keadaan Jovan yang sebenarnya agar tidak ada lagi yang menjahilinya di sekolah. Pak Tiar tentu menindaklanjuti pengaduan mama Jovan.

Akhirnya, pada hari itu juga, Cindy dan teman-temannya mendapat peringatan dari Pak Tiar dan guru BK. Beliau minta, peringatan ini bukan hanya berlaku untuk Cindy dan gengnya saja, tetapi untuk seluruh siswa yang ada di sekolah itu.

Sepulang sekolah, Pak Tiar mengajak Cindy dan gengnya untuk menjenguk Jovan yang sudah berada kembali di rumahnya.

“Maafkan kami, ya, Jo!” pinta Cindy menunduk dengan suara bergetar.  Ada rasa malu dan menyesal yang ditahannya.

Ivi, Nisa, dan dua teman laki-lakinya juga ikut meminta maaf.  Walau masih ada rasa kesal di hatinya, Jovan mengangguk petanda ia memaafkan teman-temannya itu. 

*****

Minggu, 26 September 2021

Menyusun Teks Cerita Pendek

Menyusun teks cerita pendek merupakan bagian materi pembelajaran bahasa Indonesia kelas 9 semester ganjil. Untuk memiliki kemampuan menyusun teks cerpen, tentu kita harus memahami pengertian, ciri-ciri, unsur-unsur, struktur, dan kebahasaan teks cerita pendek tersebut. 

Untuk itu, silakan disimak video pembelajaran berikut. 


Jumat, 24 September 2021

Pelajaran Berharga

Karya Salma

Hanif tergopoh-gopoh memasukkan gorengan yang sudah dibungkus ibunya ke dalam keranjang. Ia takut telat lagi hari ini. Apalagi jam pertama adalah pelajaran IPA. Nanti Pak Naga bisa-bisa menyuruh Hanif berdiri di depan kelas jika terlambat. Ibu membantu Hanif hingga keranjang itu sudah terisi penuh.

Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, Hanif menjajakan kue buatan ibunya. Awal  berjualan, Hanif harus berkeliling kampung sambil berseru, "Kue...kue...gorengan....gorengan...!" Tidak cukup tiga minggu, sepertinya Hanif sudah mempunyai langganan. Sekarang Hanif tidak butuh waktu lama lagi untuk menjajakan kue dan gorengan buatan ibunya. Walaupun tidak selalu habis, setidaknya jualan Hanif masih bisa membantu kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. Ya, semenjak ayahnya pergi dari rumah, Hanif terpaksa membantu ibunya berjualan kue dan gorengan. Semasa ayahnya masih di rumah, hanya ayah dan ibunya yang mencari  nafkah. Bahkan ibunya pun tidak pernah mencari pekerjaan di luar. Tetapi, sekarang jadi berbeda. Ayah pergi begitu saja dari rumah tanpa kabar berita, meninggalkan Ibu, Hanif, dan Hani. Selama dua bulan Ibu berusaha mencari tahu keberadaan Ayah, namun tidak ada jawaban. Akhirnya Ibu berinisiatif untuk segera mengambil alih tanggung jawab kepala rumah tangga. 

Setelah Hanif berangkat ke sekolah, ibu Hanif dan Hani pun berangkat ke rumah Pak Yusuf. Walaupun masih berusia lima tahun, Hani sudah tahu membantu ibunya. Di rumah Pak Yusuf, Ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci, menyetrika, dan membersihkan rumah. Sesekali membantu memasak juga jika Pak Yusuf kedatangan tamu. Saat itu, biasanya Ibu akan membawa makanan pulang.

"Alhamdulillah, aku tidak telat!" seru Hanif setengah bersuara, begitu sampai di gerbang sekolah. Bahkan dia sampai bersamaan dengan Oji teman dekat rumahnya.

"Habis jualanmu, Han? tanya Oji."

"Gak semua, tapi Alhamdulillah, Ji."

"Kita pulang nanti barengan, ya," ajak Oji, "aku duluan, kerja kelompokku belum siap," lanjut Oji dan berlalu menuju kelasnya.

Hanif pun menuju kelasnya. 

"Hai, Han!  Bawa gorengan gak?" tiba-tiba Ragil datang menghampiri Hanif saat jam istirahat.

"Ada, nih, sisa dua biji, jawab Hanif sambil mengeluarkan bakwan dari tasnya.

"Cuma bakwan, ya? Tapi ga papalah," kata Ragil sahabat setia Hanif itu. Dia paham sekali keadaan Hanif. Tiap pagi atau jam istirahat sekolah, Ragil selalu menanyakan sisa jualan Hanif. Tidak jarang Ragil memborong sisa jualan itu lalu  berbagi dengan temannya yang lain. Bisa dimaklumi Ragil adalah anak orang berada dan anak bungsu dari tiga bersaudara.

"Hai, kau mau juga beli sisa-sisa itu? Apa perutmu gak sakit? Lagi pula mana terjamin kebersihan gorengan si Hanif itu?" tiba-tiba Adit berseru sambil mendekati Ragil. 

"Selama ini gak ada masalah. Biasa aja perutku, gak sakit kok," balas Ragil. "Nih, untukmu satu," katanya lagi sambil menyodorkan satu bungkus bakwan kepada Adit.

"Ogaah, mendingan aku beli di kantin sekolah. Jijik aku makan buatan tukang cuci itu," kata Adit seraya mengangkat bahunya.

"Astagfirullah! Kau jangan ngomong gitu. Untung Hanif gak di sini. Coba kalau dia dengar, kan dia sedih," balas Ragil dengan suara agak dipelankan dan sengaja mendekat ke telinga Adit. 

"Alaah, kan betul yang aku bilang, kalau ibunya si Hanif memang tukang cuci di rumah Pak Yusuf!" suara Adit justru lebih keras lagi. Kali ini Hanif mendengar dengan jelas ucapan Adit. Hanif bergegas menuju Ragil dan Adit.

"Emang kenapa kalau ibuku jadi tukang cuci? Itu kan kerjanya halal!" Hanif berusaha membela walau hatinya terasa perih. Bukan sekali ini Adit menghina dia. Ada saja jalan bagi Adit untuk menjelek-jelekkan Hanif. Terlebih lagi jika sebelumnya Hanif tidak mau memberikan contekan PR-nya kepada Adit. 

"Halal, sih, tapi, ya ... kan jorok. Puihhh...!" jawab Adit sambil meludah. Hampir saja Hanif melayangkan tinjunya ke mulut Adit. Tapi Ragil sepertinya lebih sigap lagi dan segera memegang tangan Hanif yang sudah terkepal. 

"Sudahlah, Han! Ayo, kita ke kelas aja!" ajak Ragil sambil menarik tangan Hanif. Hanif mengelak. Hatinya betul-betul panas. Ia sangat ingin membàlas kata-kata Adit itu dengan pukulan.

"Udahlah! Nanti malah panjang masalahnya. Kalau sampai ketahuan guru BP nanti, kamu juga yang repot," nasihat  Ragil menenangkan. 

Hanif tersadar mendengar kata 'guru BP' tersebut. Ia bergidik membayangkan  disidang di ruang BP, apalagi kalau sampai ibunya terpanggil ke sekolah ini gara-gara ia berantam. Kemudian dengan lunglai dia mengikuti langkah Ragil ke kelas. Hanif berusaha membujuk perasaannya agar bisa menahan emosi. Hidup sudah susah, tidak perlu cari masalah lagi, pikirnya.

Begitu bel pulang berdering, siswa-siswa berhamburan keluar kelas. Sebagian besar ingin segera pulang ke rumah karena perutnya mulai lapar. Tak terkecuali Hanif. Perutnya mulai keroncongan minta segera diisi. Hanif bertemu Oji di depan gerbang sekolah. Keduanya berjalan  menuju  pulang. 

Menjelang pertigaan jalan menuju rumah, Hanif, Oji, dan beberapa temannya dikagetkan oleh suara knalpot motor disertai sorak sorai pengendaranya melaju kencang. Salah seorang di antaranya ternyata Adit. Ya, Adit ikut semacam geng motor yang kebanyakan anggotanya anak SMA dan SMK. Hanif heran juga kenapa yang seperti itu dibiarkan di kampung mereka. Padahal kebanyakan mereka tidak mempunyai SIM. 

Barangkali hanya hitungan detik, Hanif dan rombongan pejalan kaki kembali dikagetkan oleh suara jeritan dan benturan yang keras. Orang-orang berlarian menuju sumber suara. Tepat di pertigaan jalan terjadi tabrakan antara sepeda motor dan mobil. Orang berkerumun dan seketika jalanan jadi macet. Ada dua motor yang tampak hancur bagian depannya dan sebuah mobil ringsek juga bagian depannya. Tiga orang tergeletak bersimbah darah, tetapi tak satu pun di antara mereka bergegas hendak memberikan pertolongan. Sebagian mereka malah sibuk menjelaskan kronologi kecelakaan itu. Sedangkan yang lain berbalik seperti orang ketakutan. Bahkan ada yang justru melanjutkan perjalanannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.  Hanif dan Oji memberanikan diri lebih dekat lagi ke tempat orang berkerumun.

"Astaga, bukannya itu motor Adit, Han!?" seru Oji.

"Benar, Ji. Ini Adit!" 

Tubuh Adit tergeletak agak jauh dari motornya. Wajah dan kakinya penuh darah. Adit tidak bergerak. Melihat dua korban yang lain sudah mulai diangkat orang, Hanif segera minta tolong pada seorang laki-laki.

"Pak, Pak, tolong, Pak! Ini teman saya!" pinta Hanif memelas.

" Maaf, Dik, perjalanan saya jauh," jawab laki-laki itu sambil berjalan menuju motornya. Tapi saat itu juga sebuah mobil angkutan mendekat. Hanif segera menghambat mobil tersebut dan meminta membawa Adit segera ke puskesmas.

"Ji, kamu gak usah ikut. Kamu ke rumah Adit aja, kasih kabar orang tuanya,"

"Iya, ya," kata Oji kemudian terus berlari.

Tak berapa lama, mobil yang membawa Adit pun sampai di puskesmas. Adit segera dapat bantuan petugas puskesmas. Hanif betul-betul khawatir melihat keadaan Adit. 

"Tolong selamatkan teman saya, ya, Pak Dokter!" pinta Hanif. 

"Iya, sabar, ya!" jawab dokter.

Hanif menarik nafasnya dalam-dalam. Sebenarnya Hanif berusaha menguatkan badannya yang terasa gemetar. Perutnya mulai tidak enak dan mual begitu dilihatnya para perawat membersihkan luka Adit. Apalagi dokter mengatakan kalau luka di kaki dan kepala Adit harus dijahit.

"Sebaiknya kamu beri tahu orang tuanya, Dik," kata salah seorang perawat kepada Hanif.

"Sudah ada temanku yang ke sana, Bu." jawab Hanif.

Hanif keluar ruangan mencari tempat duduk dan menenangkan dirinya. Dalam hatinya ia sangat berharap Adit segera siuman. Tak berapa lama, seorang ibu masuk tergesa-gesa sambil menangis dan memanggil nama Adit. Hanif menyusul ibu tersebut.

"Adit, bangun, Nak, bangun!" kata mama Adit  memegang tangan Adit.

"Sabar, Bu, darahnya banyak keluar, jadi membuat dia tak sadarkan diri," kata dokter.

Saat perban dipasang di kakinya, Adit membuka matanya. Adit sudah sadar. 

"Mama...auhhh!" Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Adit. Kepalanya terasa berat dan perih. Begitu juga kakinya. Kemudian Adit mengerang kesakitan. Sepintas matanya menatap Hanif. Rasa sakit yang dirasakannya membuat dia tidak ingin bertanya bahkan juga untuk menyapa Hanif. Hanif juga ragu-ragu untuk mendekati Adit. Tetapi dalam hatinya Hanif bersyukur Adit sudah sadarkan diri. Dia berharap Hanif segera sembuh.

"Bu, saya pamit pulang ya, Bu. Nanti ibu saya khawatir. Semoga Adit cepat sembuh!" kata Hanif pada mama Adit. 

"Oh, iya, Nak. Terima kasih banyak, ya, kamu sudah bantu Adit. Kamu memang anak baik. Ini, kamu naik ojek aja pulang, ya," kata mama Hanif sambil menyodorkan uang lima puluh ribuan.

"Udah, Bu. Gak usah, saya jalan kaki aja," balas Hanif dan menolak pemberian mama Adit.

"Gak baik menolak pemberian Ibu. Lagian kamu harus cepat sampai di rumah, kan?" Mama Adit memaksa Hanif untuk menerima uang itu.

Dengan ragu-ragu Hanif akhirnya menerima uang pemberian mama Adit, kemudian berlalu dari ruangan tempat Adit dirawat. Sebelumnya Hanif menyempatkan menatap Adit tanpa berkata apa-apa. Sebaliknya Adit juga tak mampu berkata-kata.

Empat hari sesudah kecelakaan itu, Adit kembali ke sekolah. Kakinya masih diperban. Agak ragu Adit mendekati Hanif begitu sampai di depan kelas.

"Han, terima kasih banyak, ya. Kamu sudah bantu aku. Padahal aku selama ini jahat sama kamu," kata Adit sambil meraih bahu Hanif.

"Alhamdulillah, kamu udah sembuh, Dit! Udahlah, kita lupakan aja, yang lalu gak usah diingat!" balas Hanif sambil memegang pundak Adit.

"Nanti pulang sekolah aku sama mama ke rumahmu. Boleh, ya?"

"Ya, boleh-boleh saja. Tapi maklum aja, rumahku jelek."

"Jangan gitulah, Han. Yang penting hatimu tidak jelek."

Ragil yang sedari tadi memperhatikan kedua temannya itu tersenyum sendiri tanpa mendekati keduanya. Hmmm! Senyum penuh makna. 

*****



      

  

Rabu, 22 September 2021

Penjual Sayur Itu Teman Sekelas Nia

 Karya Salma

Sudah berapa kali Bunda menasihati Nia dan abangnya untuk belajar hidup prihatin. Setiap menasihati itu, selalu membawa-bawa anak penjual sayur yang semenjak tiga bulan terakhir menjadi langganan Bunda. Bukan tidak suka dinasihati, tapi Nia merasa kesal juga jika terlalu sering dibanding-bandingkan dengan penjual sayur itu. Bukankah Nia sekarang sudah rajin nabung? Nia sudah mengurangi kebiasaan jajannya.

“Kamu liat, anak yang selalu mengantar sayur itu! orang tuanya tentu bangga padanya. Setiap hari dia bantu orang tua walau hanya mengharap untung lima ratus rupiah. Tentu dia anak yang berbakti sekali,” kata bunda Nia suatu hari. Kata-kata itu muncul gara-gara Nia menunda-nunda tugasnya  mencuci piring.

Kemarin, Bang Rey yang dibandingkan Bunda dengan penjual sayur itu. Awalnya, Bang Rey ingin mencuci tas sekolahnya. Ia merendam tas itu terlebih dahulu. Namun, karena keasyikan main bola dengan temannya, Bang Rey lupa dengan tas sekolah yang telah direndam. Karena baunya sudah berubah, akhirnya Bunda turun tangan untuk mencuci tas sekolah itu.

“Rey, kalau nyuci tas, jangan kelamaan direndam. Kapan keringnya kalau direndam terus? Nanti matahari keburu hilang,” semprot bunda ketika Bang Rey baru saja sampai di rumah sehabis main bola.

“Eh, iya, Bun. Kalo gak kering, Rey pakai tas yang satu lagi aja,” jawab Bang Rey sambil berlari menuju kamar mandi, sementara bunda hanya bisa geleng-geleng kepala.

Bang Rey heran, ternyata ember tempat ia merendam tas sekolahnya sudah kosong. Ia kembali keluar mencari Nia.

“Dek, kamu yang nyuci tas Abang? Makasih, ya!” ucap Bang Rey sambil nyengir kepada Nia, begitu Nia dijumpainya di ruang keluarga.

“Bukan Adek, tapi Bunda. Lagian Abang kebiasaan, deh! Rendam cucian selalu lama-lama. Bau, tau!” celetuk Nia tanpa menoleh pada abangnya itu.

“Hanya nyuci tas sekolah aja kamu gak beres!” Tiba-tiba saja Bunda sudah berada di samping mereka. 

“Iya, Bun. Tadi Rey  diajak Fauzi main bola,” jawabnya membela diri.

“Bunda tidak melarang kamu main bola. Yang bunda mau, kamu bisa membagi waktumu. Tak ada orang yang sepanjang hari bermain saja. Ada waktunya bekerja juga. Kamu lihat tuh, anak-anak yang berjualan sayur tiap sore itu. Mereka juga sekolah, sempat bermain juga, tapi mereka juga sempat berjualan sayur tiap sore!” nasihat Bunda, kemudian berjalan menuju dapur.

Walau tidak menjawab lagi, dalam hati Nia dan Bang Rey merasa bundanya mengada-ada dan berlebihan mengelu-elukan penjual sayur itu. Mana mungkin anak-anak penjual sayur itu sekolah? Kapan pula mereka punya waktu belajar dan mengerjakan PR? Bukankah mereka juga harus mencari sayur dan mengikat sayur-sayur itu sejak pagi? Demikian kalimat-kalimat pertanyaan yang muncul di hati Nia.

“Kalau Ayah dan Bunda juga petani, kita juga mau jualan sayur, kok,” ujar Nia, menunjuk-kan pembelaannya terhadap abangnya.

“Betul, betul, betul!” balas Bang Rey sambil mengangkat dua jempolnya.

Bunda yang belum sepenuhnya sampai ke dapur, berbalik lagi mendengar celetuk Nia. Lagi-lagi Bunda geleng-geleng kepala. Sepertinya mereka salah memahami maksud Bunda.

“Bunda bukannya nyuruh kalian jualan sayur,” ujar Bunda dengan suara sedikit kesal. “Bunda hanya mau kalian bisa membagi waktu. Anak yang jualan sayur itu hanya contoh kalau dia bisa membagi waktu, paham?” lanjut bunda untuk kemudian betul-betul pergi ke dapur. Sementara abang adik itu hanya saling tatap.

Nia berpindah ke kamarnya karena Bang Rey sudah beranjak ke kamar mandi. Hati Nia masih menyimpan rasa dongkol walaupun kali ini yang ditegur Bunda bukan dirinya. Tapi tetap saja bunda mengarahkan kepada mereka berdua. Terlebih yang dicontohkan lagi-lagi anak penjual sayur itu.

Nia duduk di kursi belajarnya. Diraihnya pulpen yang terletak dalam sebuah kotak, kemudian membuka kembali buku latihannya. Soal matematika yang diberikan Pak Syaiful kemarin belum selesai ia kerjakan. Ada tiga soal lagi yang membuat ia berhenti mengerjakannya tadi. Soal itu terlalu sulit menurutnya. Begitu dilihatnya soal itu lagi, kembali keningnya berkerut. Terlebih soal itu juga menuntut jawaban menyamakan satuan ukuran. “Aduh, pasti nilaiku di bawah Ayu lagi!” gumam Nia sambil menopang dagunya dengan tangan. Tiba-tiba ia ingat pada Ayu teman sekelasnya yang jago matematika itu. Ayu selalu menyelesaikan soal-soal yang diberikan Pak Syaiful lebih awal dan jawabannya juga selalu benar. Sebenarnya Nia penasaran juga dengan Ayu. Nia ingin bertanya Ayu ikut bimbel matematika di mana, tapi Nia tidak begitu dekat dengan Ayu. Ayu anak yang pendiam, tidak terlalu banyak bicara. Ayu juga jarang bergabung dengan teman-teman sekelas untuk menyerbu kantin sekolah pada jam istirahat. Walau tidak banyak bicara, Ayu murah senyum.

“Assalamualaikum, sayur, Bu!” sebuah suara membuyarkan lamunan Nia tentang Ayu.

“Huhhh, pasti si tukang sayur idola Bunda lagi!” gumam Nia sambil mengintip keluar kamar. Betul saja, Bunda sudah bergegas menuju teras rumah. Seperti biasa, Bunda terlihat senang karena selalu dapat sayur yang segar-segar.

“Habisin sayurnya! Itu sayur segar dibawa anak gadis itu tuh. Anak baik dan ramah, ...,”  banyak lagi embel-embel dari Bunda untuk menasihati mereka ketika malas makan sayur. Bahkan Ayah pun akan ikut-ikutan dengan kata-kata,“Biar sehat dan cerdas.” Nia mengira-ngira, nanti apa lagi yang akan disampaikan Bunda kepadanya dan Bang Rey.

Tiba-tiba saja rasa penasaran mengusik Nia. Tiba-tiba Nia ingin melihat wajah penjual sayur kebanggaan bunda itu. Perlahan-lahan Nia keluar kamar dan mengendap-endap menuju ruang tamu. Dari balik gorden, Nia melihat bunda sibuk memilih beberapa ikat sayur sementara gadis penjual sayur terlihat merunduk merapikan dagangannya sehingga Nia tidak bisa melihat wajahnya. Di samping gadis itu, ada seorang anak laki-laki yang memegang sebuah kantong kresek. Mungkin itu adik gadis itu, pikir Nia.

Setelah Bunda menyerahkan uang, Nia bisa melihat dengan jelas wajah penjual sayur itu. “Ayu!” bisiknya. Berulang Nia mengerjapkan matanya untuk meyakinkan bahwa dia salah lihat. Barangkali saja gara-gara Nia sedang mengingat Ayu yang jago matematika di kelasnya itu tadi. Ternyata tidak, Nia tidak salah lihat. Itu benar-benar Ayu, Ayu Amelia, teman sekelasnya. Telinga Nia juga dengan jelas mendengar Bunda menyebut nama anak itu, Ayu.

Sebelum Bunda masuk rumah, buru-buru Nia masuk lagi ke kamarnya. Ia malu ketahuan mengintip oleh bundanya.

Sesampai di kamar, Nia menyandarkan kepalanya ke dinding tempat tidur. Perasaannya tiba-tiba jadi tidak menentu. Ada rasa malu dan menyesal yang membaur jadi satu. Nia malu karena ternyata Ayu yang jago matematika itu masih sempat membantu orang tuanya pada sore-sore seperti ini. Ternyata dia tidak bimbel seperti yang Nia kira, atau mengerjakan PR seperti dirinya saat ini. Tentunya Ayu sudah membagi waktu dengan baik sehingga ia tidak pernah terlambat ke sekolah atau tidak mengerjakan PR. Nia juga sudah menyesal tidak percaya pada Bunda yang mengatakan penjual sayur itu anak sekolah. Nia juga menyesali sikapnya selama ini yang melalaikan pekerjaan di rumah yang diberikan Bunda. Padahal hanya sekadar mencuci piring dan menyapu rumah. Dalam hatinya Nia ingin menceritakan ini pada Bang Rey.

      ***

Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, teman-teman sekelas Nia segera berhamburan keluar kelas menuju kantin sekolah. Hari ini Nia tidak berminat mengikuti teman-temannya ke kantin. Kebetulan juga ia membawa bekal roti dari rumah. Nia beranjak mendekati meja Ayu yang berjarak dua deret dari meja Nia. Ayu menyambutnya dengan senyum.

“Hai, Yu, kamu tidak ke kantin?” tanya Nia agak kikuk. 

“Gak, aku sudah sarapan tadi,” jawab Ayu dengan ramahnya. “Kamu kenapa gak ke kantin?” Ayu balik bertanya.

“Sama, aku juga tadi sudah sarapan. Lagian aku juga bawa roti,” balas Nia. Rasa kikuknya sudah berkurang. 

“Mm ... Yu, aku boleh nanya, ya?”

“Nanya apa?”

“Mmm ... maaf, mm ... yang jualan sayur ke rumahku itu kamu, ya?” Suara Nia terdengar ragu-ragu.

“Iya, aku jualan sayur tiap sore. Tapi aku gak tau rumah kamu yang mana?” jawab Ayu tanpa beban.

“Rumahku yang di depan kantor Pos.”

“Oh, jadi Bu Laila itu ibu kamu?” Ayu tampak sangat senang seperti baru mendapat hadiah.

Nia hanya mengangguk  dan ikut tertawa mengikuti Ayu.

“Ibu kamu baik, ya. Suka borong jualanku. Tidak pernah nawar-nawar lagi seperti ibu-ibu yang lain. Jadi jualanku cepat habis,” lanjut Ayu masih dengan senyum sumringahnya menunjukkan giginya yang rapi.

Sedikit pun Ayu tidak menunjukkan rasa canggung pada Nia. Sementara Nia tidak menjawab. Justru dia terpaku dengan cara bicara dan sikap Ayu. Ternyata Ayu tidak sependiam yang ia bayangkan. Sepertinya Ayu lebih cocok sebagai kakak ketimbang teman sekelasnya. Ia terlihat lebih dewasa di mata Nia.

“Aku jualan sayur untuk bantu-bantu ayahku. Dulu kakakku yang berjualan. Karena sekarang dia sudah kuliah, aku yang menggantikannya,” lanjut Ayu. Kali ini raut muka Ayu berbeda. Ia hanya menunjukkan senyum tipis.

“Hebat, ya, kakakmu sudah mahasiswa!” Nia terpukau mendengar kata mahasiswa itu.

“Kakakku kuliah sambil bekerja, Nia. Maklum, kami keluarga tak mampu. Untung uang kuliahnya gratis dari pemerintah,” jelas Ayu lagi.

Percakapan itu terus berlanjut hingga bel masuk kembali berbunyi. Dari cerita Ayu, Nia mengetahui bahwa Ayu tak lagi punya ibu. Ia ditinggalkan oleh ibunya saat melahirkan adiknya yang paling kecil. Saat itu Ayu dan keluarganya sangat terpukul karena kehilangan ibu dan adiknya sekaligus. Hanya semangat, belajar dengan giat,  dan tetap berdoa kepada Allah yang diandalkan oleh Ayu dan kakaknya untuk bisa mengubah keadaan keluarganya.

Menjelang bel pulang sekolah berbunyi, Nia lebih banyak diam. Cerita Ayu tadi membuat ia banyak melamun dan ingin segera pulang. Untung saja Nia tidak ketahuan guru saat melamun.

     ***

Sudah tiga hari semenjak Nia dekat dengan Ayu, ada perubahan yang sangat mencolok terhadap sikap Nia di rumah. Begitu juga dengan Bang Rey. Sudah tiga hari ini juga Ayah dan Bunda tidak pernah lagi membangunkan dan menyuruh mereka salat Subuh. Bahkan sebelum berangkat ke sekolah, Nia sudah menyapu rumah tanpa diperintahkan Bunda. Tak ada lagi suara meributkan dasi atau kaos kaki antara abang dan adik itu menjelang berangkat sekolah. Ketika Bunda melihat kamar Bang Rey, ternyata kamar tesebut sudah rapi. Tak ada lagi handuk basah di atas kasur atau buku yang berserak di lantai. Semuanya bersih. 

“Heran, kok anak-anak berubah sendirinya, ya, Yah?” tanya Bunda sebelum Ayah berangkat kerja.

“Jangan heran, seharusnya Bunda bersyukur! Tandanya mereka dapat hidayah,” jawab Ayah sambil berlalu menuju motornya. 

Sampai saat ini, Nia belum berterus terang pada Bunda bahwa Ayulah yang membuatnya berubah. Ayu, si penjual sayur itu telah membuka matanya untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Rasa syukur itulah yang mendorong Nia rajin membantu Bunda di rumah.

*****

Senin, 20 September 2021

Engkau Ibuku

Karya Salma

Izinkan kurangkai kata-kata ini, Ibu.
Walau tak seindah cinta yang engkau bingkai.
Walau tak sedalam kasih yang engkau tanam.
Walau tak kan pernah wakili segala rasa yang kupunya.

Di daster lusuhmu, Ibu,
Tergambar cinta yang tiada bermuara.
Terlukis kasih yang tiada berkesudahan.
Tercium tumpah wangi ASI asupanku sepanjang hari.

Di lekang tumitmu, Ibu,
Terukir keras dunia yang kau radang.
Tersirat liku jalan yang engkau arung.
Namun tertopang kakiku untuk berpacu menapak waktu.

Pada kasarnya tangan dan jemarimu, Ibu,
Terpahat keras hidup yang engkau sasar.
Tersurat kesat nasib yang engkau sisip.
Namun kau genggam tanganku menggapai langit biru .

Dalam balutan mukena satinmu, Ibu.
Terbungkus semua pinta pada Sang Pencipta.
Tercurah segala penat yang engkau punya.
Tertumpang ridamu dalam rida Dia Yang Mahakaya.

Kini, engkau berjalan pada arah matahari rebah.
Engkau masih tuntun aku menuju senja.
Bayang-bayang kita pun kian memanjang, Ibu.
Mengarah pada satu titik.

Terima kasih tak berhingga selalu padamu, Ibu.
Doaku tak kan berhenti untukmu.

Sorkam, 22 Desember 2020

Bako

Karya Salma     

        Entah sudah berapa lama aku tidak menginjakkan kaki di rumah ini. Dulu, saat masih duduk di bangku SD aku sering bermain bahkan tidur di sini. Tapi, seiring bertambah usiaku, rumah ini jarang aku kunjungi. Seingatku waktu SMP hanya dua kali aku mendatangi rumah ini. Ketika itu aku disuruh Ibu mengantarkan kain panjang Etek Nursiah yang dipakai untuk menggendong adikku pulang ke rumah sehabis kenduri di rumah ini. Kali yang kedua ketika kami diajak ayah berlebaran ke sini. Waktu itu semua saudara ayah berkumpul di sini. Ketika itulah aku mulai merasa tidak nyaman berada di rumah ini. Aku jadi tidak suka dengan sebutan "Buyung" yang hanya di rumah ini saja populernya. Di rumah kami, di sekolah, juga tetangga, selalu memanggil aku sebagaimana nama yang diberikan ayah dan ibuku. Tetapi di rumah bakoku ini namaku jadi berbeda. Sementara sepupuku yang lain dipanggil sesuai nama mereka masing-masing. Aku jadi merasa tidak dihargai atau diremehkan di sini. Aku jadi kehilangan rasa percaya diri berada di sini. Seingatku, aku jugalah yang paling sering disuruh Etek Nursiah dulu mengangkat air dari sumur ke rumah, habis makan cuci piring sendiri, atau membeli sesuatu yang diperlukan ke warung, sementara saudaraku yang lain dibiarkan bermain tanpa gangguan. Ah, entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak sejak itu. Sejak itu aku juga punya banyak alasan untuk tidak ikut Ayah ke rumah ini. Sebuah sikap yang tidak pantas untuk dicontoh, tetapi aku melakukannya.
       Rumah ini sudah banyak berubah. Dinding bagian belakang tidak lagi dengan anyaman bambu, sudah disemen. Mungkin saat Etek Nursiah membangun rumah sekalian diganti dinding itu. Bahkan itu juga tidak seperti belakang rumah karena ada jendela dan teras yang tersambung dengan rumah Etek Nursiah. Dapur yang dulunya mempunyai tiga buah tungku untuk memasak menggunakan kayu, sekarang sudah berganti dengan lantai keramik, atapnya pun tidak lagi hitam oleh asap.
      "Eh, ada Uda Nasril, " sapa seseorang mengagetkanku. Ternyata itu Hamidah, anak Etek Nursiah. Rupanya panggilannya kepadaku sudah berubah. Bukankah dulu dia tidak pernah memanggil aku 'uda'. Dia selalu memanggil aku 'Buyung', sama dengan penduduk rumah ini.
      "Oh,Hamidah. Bagaimana kabarmu?" jawabku agak kaku.
      "Alhamdulillah sehat, Uda! Mimpi apa Uda datang ke rumah bako?" Sebuah pertanyaan yang cukup menusuk dan membuat aku gugup.
      "Hhemm...namanya juga bako, ya harus dikunjungilah," jawabku akhirnya. "Etek mana?" tanyaku selanjutnya.
      "Ibu ke Payakumbuh, bersama anggota majlis taklim. Ada acara di sana," balasnya sambil meletakkan nampan ke atas meja makan.
      "Setiap lebaran semua berkumpul di sini. Hanya Uda yang tidak pernah ikut berkumpul. Mida tau, Uda pulang kampung setiap lebaran, tapi tak pernah ke sini," sambungnya. Gaya berbicaranya mirip gaya bicara Etek Nursiah.
      "Ee...Mida juga tak pernah datang ke rumah Uda, kan? Harusnya Mida tiap lebaran silaturrahmi dengan mamak," balasku tidak mau kalah. Aku merasa seperti perempuan saja.
      "Untuk apa pula Mida datang lagi, kan Mak Ngah, Etek, dan Risni sudah ke sini setiap lebaran pertama," balasnya lagi, menyebut ayah, ibu, dan adikku.
      "Oohh...!" Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Sungguh, aku tidak mau berdebat dengan Hamidah, kemenakan ayahku ini. Menurutku ternyata pendidikan tidak banyak mengubah pola pikirnya tentang kehidupan sosial. Pola pikirnya sama seperti sikap yang ditunjukkan Etek Nursiah terhadap keluarga ibuku selama ini. Sepertinya rumah kami tidak pantas untuk dikunjungi oleh bakoku ini.
      "Sudah semester berapa Mida sekarang?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
      "Semester enam, Uda."
      "Mudah-mudahan cepat selesai kuliahnya."
      "Aamiin! Semoga Mida juga cepat dapat kerja seperti Uda," katanya.
      "Aamiin! Insya Allah!" balasku sambil beranjak menuju ruang tengah rumah.
      "Assalamualaikum!" ucapku menyapa Pak Uncu yang sedang duduk di kursi rotan. Kursi itu sejak aku kecil sudah ada. Ternyata sampai saat ini masih terpelihara.
       Betapa mirisnya, di saat usianya menuju senja, Pak Uncu hidup tanpa dampingan istri dan anak beliau. Di rumah ini Pak Uncu memasak dan mencuci sendiri. Sesekali makan di rumah Etek Nursiah atau diantar ke rumah ini oleh Etek Nursiah. Tetapi aku melihat Pak Uncu menikmati hari-harinya.
      "Beginilah hidup, Nasril. Beruntung rumah ini masih ada. Kalau tidak, Pak Uncu tentu sudah menumpang di rumah etekmu itu," kata Pak Uncu di sela-sela pembicaraan kami. Aku sendiri tidak banyak memberikan komentar atau bertanya tentang cerita Pak Uncu. Selain segan, sebenarnya ibuku sudah banyak bercerita tentang keadaan Pak Uncu. Semenjak beliau di-PHK dari perusahaan tempatnya bekerja, rumah tangga Pak Uncu selalu bermasalah. Terlebih ketika Pak Uncu menderita stroke,  hingga Pak Uncu memilih untuk tinggal sendiri di rumah ini.
      Aku agak kaget melihat foto wisudaku terpajang di dinding rumah ini. Berderet dengan tiga foto lain yang juga sedang berpakaian wisuda. Itu adalah foto sepupuku. Seingatku, aku tidak pernah mencetak foto dengan ukuran sebesar itu. Yang ada pada album foto di rumah hanya foto yang dicetak oleh tukang foto khusus hari wisuda itu.
      "Itu Mida yang memajangnya, Uda," kata Hamidah tiba-tiba mengagetkanku. Sepertinya dia tahu aku sedang bertanya-tanya dalam hati.
      "Dari mana Mida dapat foto itu?"
      "He he, adalaaah...," jawabnya sambil menunjukkan sederet gigi yang rapi dan senyum manisnya.
      "Hmm...," aku juga membalas dengan tersenyum dan tidak lagi bertanya. Zaman sekarang segalanya mudah didapatkan orang. Apalagi hanya foto seperti itu, pikirku.
      "Uda, ini minum Uda, juga Mak Uncu. Diminum ya, Uda."
      "Iya, terima kasih, Mida," balasku dan segera duduk di samping Pak Uncu. Kulihat ada keripik ubi, peyek, dan beberapa potong bolu coklat di atas meja itu.
     "Minumlah, Nas. Itu juga ada kue sama kerupuk," kata Pak Uncu seraya mengambil cangkir di depannya.
      "Mida yang buat itu, Uda," Mida memberi tahu tanpa kutanya.
      "Oh, ya, anak perempuan harus pintar masak," jawabku tanpa memuji kue buatan Hamidah. Menurutku itu lumrah. Adikku Risni juga sering memasak kue, puding, atau apalah, yang bisa dikudap Ayah sebagai teman minum teh sore-sore sepulang dari sawah.

     Sehabis berbincang-bincang dengan Pak Uncu, aku pamit untuk pulang. Pak Uncu mengajakku untuk menginap di rumah bakoku ini. Tapi, aku juga ingin menikmati kebersamaanku dengan Ayah, Ibu, dan Risni. Apalagi dua hari lagi aku harus kembali ke kota untuk masuk kerja. 

      "Sebentar lagi Ibu pulang, Uda tunggulah dulu. Sudah lama sekali Uda tak bertemu Ibu, kan? Masa sama bako tak rindu?" Hamidah juga mencoba menahanku. 

     Ah, aku jadi serba salah. Di satu sisi aku ingin segera pulang. Di sisi lain, aku merasa tidak enak hati jika sudah sampai di rumah ini, tetapi tidak bertemu dengan Etek Nursiah. Kalau ditanya hati kecilku, sebenarnya memang tidak ada keinginanku untuk bertemu beliau. Entah kenapa sikap beliau terhadapku sewaktu aku kecil membuat aku enggan untuk bertemu beliau.

      "Sebaiknya aku pulang dulu, besok aku ke sini lagi. kebetulan ada temanku juga mau datang ke rumah hari ini," kataku memecahkan sendiri rasa serba salah yang aku hadapi. Aku tidak berbohong, karena memang aku sudah berjanji dengan Alfian, teman SMA-ku dulu. Saat itu juga handphoneku berdering. Kulihat di layar nama Alfian. Ternyata aku sudah ditunggu Alfian di rumah. Alasanku untuk pulang ke rumah menjadi kuat.
      ***
      Masa cuti yang kuambil tanpa terasa sudah akan berakhir. Saatnya aku kembali ke kota tempat aku mengabdikan ilmu yang aku peroleh selama masa pendidikan. Rasa rindu dengan orang tua, adik, sanak saudara, dan teman lumayan terobati. Sejak kemarin, Ibu sibuk memasak makanan yang hendak kubawa ke kota. Mulai dari keripik pisang hingga rendang. Aku sudah melarang Ibu untuk itu, tapi... ya, namanya ibu tetap saja melakukan apa yang dia suka. Katanya dia akan senang bila anaknya kembali ke rantau membawa bekal yang dia masak sendiri. Untuk menyenangkan hatinya itu, aku pun dengan bersemangat mengemas makanan itu ke dalam sebuah dus.
      Tengah sibuk mengepak barang-barangku, suara motor terdengar memasuki halaman rumah. Ternyata Etek Nursiah dengan Hamidah.
      "Jadi Uda berangkat hari ini?" tanya Hamidah langsung saja padaku tanpa menegur Ibu terlebih dahulu.
      "Iya, Mida, si Buyung berangkat nanti habis magrib. Hari Senin dia harus masuk kerja," tiba-tiba Ibu seakan lebih berhak menjawab pertanyaan Hamidah. Alis gadis itu tampak agak terangkat. Mungkin dia kaget karena bukan aku yang menjawab pertanyaannya atau mungkin kaget Ibu menyebut nama Buyung, atau memang dia tidak suka dengan Ibu. Ah, entahlah! Rasanya aku pun tidak perlu mengulang jawaban dari Ibu. Aku hanya mempersilakan Etek Nursiah dan Hamidah duduk.

       "Ini ada oleh-oleh untuk dibawa ke kota, Nas. Si Mida yang buat. Kalau etek,  sudah tak bisa lagi buat kue-kue itu." Tek Nursiah menyodorkan  bungkusan padaku.
      "Aduh, Etek sama Mida jadi repot...makasih, ya, Tek, Mida," balasku walau dalam hati aku sangat heran dengan semua ini. 

     Jangankan untuk memberi, berkunjung ke rumah orang tuaku ini saja boleh dikata mereka sangat enggan. Bahkan pada hari-hari dimana orang-orang saling berkunjung menjalin silaturrahim dengan sanak saudara, bakoku ini tidak melakukannya dengan kami. Boleh dibilang dengan jari berapa kali Tek Nursiah berkunjung ke rumah ini. Yang jelas, seingatku ketika aku kelas tiga SMA, Tek Nursiah datang menjenguk ayah yang sedang sakit dan waktu itu beliau marah pada ibu karena tidak membawa ayah ke rumah sakit. Aku sempat merasa kesal karena Ibu menangis mendengar kata-kata bakoku itu. Saat aku diterima masuk perguruan tinggi negeri melalui  jalur undangan, Tek Nursiah juga datang ke rumah. Waktu itu aku betul-betul kaget karena aku pikir beliau akan mengucapkan selamat padaku seperti yang dilakukan sanak famili yang lain. Tidak taunya, Tek Nursiah malah mematahkan semangatku, ayah, dan juga ibuku. 
     "Ingek, Uda! Biaya kuliah tu indak saketek, jan pulo Uda sampai manggadai tanah pusako untuak kuliah si Buyuang isuak. Kana, Da, Uda punyo kamanakan lo nan paralu dibimbiang (Ingat, Uda! Biaya kuliah tidak sedikit, jangan pula sampai menjual tanah pusaka untuk kuliah si Buyung nanti. Ingat juga bahwa Uda punya keponakan yang perlu dibimbing)!" Demikian Etek Nursiah berkata kepada ayah, yang sampai saat sekarang masih terngiang-ngiang dalam ingatanku. 
     "Eh, Uda Nas dikasih oleh-oleh malah sedih." Suara Hamidah membuat aku sedikit kaget dari lamunan tentang masa lalu itu.
    "Ah, ndak...merasa terharu," balasku berbohong.
     "Mida pikir tadi Uda tidak suka kue buatan Mida," kata Hamidah dengan nada merajuk tetapi bibirnya tersenyum.
     "Kalau rejeki tak pernah ditolak, Mida, apalagi dari bako," ibu ikut menjawab lagi.
     "Betul, Kak Mida. Lagian kue buatan bako beda rasanya dengan yang lain," kata Risni menimpali sambil meletakkan minum di depan Etek Nursiah dan Hamidah. Aku hanya senyum sambil geleng-geleng kepala.

***

     Senja mulai menapak menuju malam. Gerimis yang sempat turun menambah gundah rasa ini untuk berpisah dengan Ayah, Ibu, dan Risni. Walau sudah terbiasa berpisah dengan mereka, tetap saja hatiku merasa sedih pada situasi-situasi seperti ini.
     Keluarga yang melepas keberangkatanku kali ini pun lebih banyak daripada yang biasa karena ada Pak Uncu, Etek Nursiah, dan Hamidah.
      "Jangan lupa berkabar begitu sampai di rantau ya, Uda!" seru Hamidah saat aku berpamitan kepada semua. Yang lain juga menimpali dengan berbagai pesan dan cilotehan, yang aku sendiri sudah tak mampu menangkapnya satu per satu.

***
     Aku kembali sibuk dengan rutinitas keseharianku bekerja di sebuah perusahaan. Ternyata benar cuti bisa mengembalikan semangat kerja seseorang. Aku seakan punya energi baru dalam menghadapi pekerjaan yang sudah terpampang di depan mata. Aku juga yakin ada doa Ayah dan Ibu di setiap langkahku sebab ridha Allah ada pada ridho orang tua, karena Allah ridho, rezeki yang kudapat semoga berkah.
     Sedikit demi sedikit aku bisa mengumpulkan uang untuk membeli sebuah rumah. Walau sederhana, namun aku merasa bangga bisa memiki rumah sendiri. Aku juga ingin mengajak Ayah, Ibu, dan Risni ke kota ini. Sebentar lagi Risni juga tamat SMA. Aku sudah minta pada Ayah dan Ibu agar Risni melanjutkan kuliah dan tinggal bersamaku. Mereka menyetujuinya.
      Belakangan ini pikiranku agak dibebani oleh kabar-kabar yang sesungguhnya membuat aku resah. Pertanyaan teman-temanku melalui WA tentang hubunganku dengan Hamidah serasa menggangguku. Belum lagi kabar dua hari yang lewat aku terima dari ibu yang menyatakan bahwa bakoku menginginkan aku berjodoh dengan Hamidah. Etek Nursiah dengan Hamidah pun semenjak kepulanganku dari kampung semakin sering meneleponku. Pada awalnya aku menganggap itu adalah bentuk perhatian mereka kepadaku. Tetapi makin ke sini arah pembicaraan Etek Nursiah membuat aku tidak suka. Walaupun sering dibumbui dengan candaan tapi aku menangkap itu sebagai keseriusannya. "Hati-hati, Nas, jangan sampai tergadai badan di rantau. Ingat ada gadis minang menunggumu yang sudah jelas asal-usulnya...," kata Etek Nursiah saat  panggilan video. "Kalau kau menikah dengan orang seberang, alamat orang tua, keluarga, dan kampung takkan tersilau," kata Etek Nursiah juga pada kesempatan lain. Intinya aku bisa menangkap apa yang tersirat dari ucapan Etek Nursiah.
      "Nas, kalau kau memang tidak menyukai Hamidah, tidak apa-apa. Tetapi pandai-pandailah. Ibarat menarik rambut dalam tepung, rambut tak putus tepung tak berserak. Jangan memberi dia harapan. Kasihan nanti dia kecewa dan merasa malu dengan orang sekampung. Hubungan keluarga pun akan jadi tidak baik. Lagian ayahmu hanya menyerahkan semua padamu. Kalau engkau bersedia, syukur, kalau tidak, ya, ayah pun tak memaksa," kata Ibu dengan nada berhati-hati tadi malam melalui telepon. Aku agak lega mendengar penyataan Ibu. Itu artinya Ayah dan Ibu menyerahkan padaku soal jodohku. Namun aku sangat yakin kalau sebenarnya ada beban yang ibu rasakan dengan keadaan ini. Terlebih lagi bagaimana ibu menghadapi Etek Nursiah. Selama ini aku lihat Ibu selalu tidak punya kata-kata untuk membalas ucapan atau sikap yang ditunjukkan Etek Nursiah yang lebih sering melukai perasaan Ibu. Ibu memilih diam kemudian diam-diam juga menangis. Aku tahu itu.
      Aku mencoba membalas pesan-pesan dari Hamidah dan Etek Nursiah sesuai pesan Ibu. Aku tidak ingin mereka sakit hati jika pada kenyataannya aku tidak punya perasaan khusus kepada Hamidah. Sebisanya kucoba memberikan penjelasan pada mereka bahwa soal  jodoh adalah urusan Allah. Siapa pun yang menjadi pasangan hidupku tidak akan membuat aku semakin jauh dari keluarga dan kampung halaman. Yang lebih penting menurutku, untuk membangun sebuah rumah tangga mesti dilandasi oleh rasa cinta dan kasih sayang, dan itu tidak bisa dipaksakan.
     Niatku untuk langsung tidur sehabis salat Isya harus tertunda akibat mataku memang sulit terpejam. Bayangan Nadya, gadis sederhana yang santun, salehah, dan pekerja keras itu seakan mengikuti setiap gerakku. Tanpa sengaja, aku juga membanding-bandingkan Nadya dengan Hamidah. Aku sudah mengenal Nadya semenjak duduk di bangku kuliah. Setahun yang lalu Nadya juga bekerja di perusahaan yang sama denganku. Kebersamaan itu makin menguatkan perasaan yang kupendam sebelumnya.  Menurutku tak mudah untuk mendapatkan hati Nadya karena sainganku cukup banyak pada waktu itu. Bahkan sekarang pun tetap ada laki-laki yang mencoba untuk mendapatkan Nadya. Aku merasa sangat beruntung karena Nadya menjatuhkan pilihannya padaku. Aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku juga sudah menceritakan hubunganku dengan  Nadya pada Ibu dan Risni. Sedang Ayah cukup mengetahui dari Ibu saja.
      "Jika kamu sudah siap, datanglah ke rumahku menemui ayahku. Halalin aku biar bisa kamu ajak ke mana kamu suka," begitu kata Nadya suatu hari ketika aku mengajaknya berkemah bersama teman-teman sekantor. Ya, pernyataan itu yang selalu kupegang. Mungkin  inilah waktunya untukku mengajak orang tuaku menemui orang tua Nadya. Ingatanku pada Nadya seakan mendesakku untuk keluar dari masalah perjodohan dengan bakoku ini. Aku harus segera mengambil sikap agar persoalan ini tidak berlarut-larut. Kalaupun akan ada perselisihan antara Ayah dengan Etek Nursiah dan Hamidah atau dengan bakoku yang lain, semoga hanya sementara. Bukankan mereka akan tetap jadi bakoku tanpa harus menikah dengan keponakan ayahku itu?

***
     Allah Maharahman, pernikahanku dengan Nadya berjalan sesuai rencanaku. Lebaran tahun ini aku sengaja mengajak Nadya dan mertuaku ke kampung halaman. Mereka memang sudah punya niat untuk menginjakkan kaki di ranah minang. Selama ini mereka hanya mendengar cerita orang atau hanya melihat di layar televisi akan keindahan alam Minangkabau.  Seharusnya memang sehabis pernikahanku empat bulan yang lalu diadakan pesta di rumah orang tuaku sebagai pemberitahuan kepada orang sekampung bahwa aku sudah menikah, namun Ayah dan Ibu memutuskan cukup dengan kenduri kecil saja dan tidak perlu menghadirkan pengantinnya. Aku dan Nadya hanya menurut saja. Kami yakin tentunya ayah dan ibu punya alasan yang kuat untuk mengambil keputusan tersebut.
       Lebaran pertama, aku mengajak Nadya berkunjung ke rumah-rumah bakoku. Tujuan pertama adalah ke rumah Etek Nursiah. Memang ada rasa canggung untuk masuk rumah Etek Nursiah, terlebih setelah namaku kembali berubah menjadi 'Buyung' di rumah ini.  Biarlah, apapun itu, aku harus memaksakan diri untuk datang ke sini.
      "Pandai orang rumahmu beradat, Buyung? Kau harus ajari dia cara beradat kita," demikian kata Etek Nursiah di sela pembicaraan kami yang rada hambar.
      "Iya, Uda Buyung... Menantu orang Minang juga harus bisa masak rendang dan sambalado, kalau tidak, nanti mertuanya cuma makan tempe dan tahu saja," timpal Hamidah lebih pedas lagi.  Aku lega karena Nadya hanya menatapku dengan senyuman mendengarkan itu semua.

      Setelah pamit dari rumah bakoku itu, entah kenapa aku segera ingin pulang dan memeluk Nadya. Aku akan bisikkan padanya, "Aku tidak salah memilihmu!"

*****


*bako = keluarga dari pihak ayah
* mamak = paman


Sabtu, 18 September 2021

Kita Punya Apa?

Kita masih ada di antara sisa

Dalam balutan kasih sayang-Nya

Menapak waktu menuju  senja


Lihat, bayang semakin panjang

Menguntit setia dari belakang

Sekejap kan sirna ditelan gelap


Kita punya apa bila malam tiba?

Jangankan bersua purnama

Rembulan saja tiada rupa

Sedang bintang tiada nyalang


Adakah pelita atau lentera?

Penerang jalan kala gulita

Atau kita kan berjalan mengeja

Meraba arah dengan langkah

Terseok tanpa haluan...


                          

Hujan Awal Januari

Oleh Salma Deras Bersama gemuruh Menggenang Menggiring berjubel sampah Deras Diiringi badai Gelisah Menyasar jalan-jalan berbatu Deras Membe...