Karya Salma
Hujan belum menunjukkan tanda akan berhenti sedangkan bel pulang sekolah sudah berbunyi semenjak sepuluh menit yang lalu. Beberapa siswa sudah pulang dijemput oleh orang tua mereka. Ada juga yang pulang naik becak dan naik angkutan umum. Beberapa siswa laki-laki nekat menembus hujan setelah membalut tas mereka dengan mantel tas. Mereka terlihat sangat senang. Sepertinya sengaja pulang sambil main hujan.
Berbeda dengan Jovan, siswa laki-laki
yang selalu memakai kaca mata tebal itu. Dia hanya mampu berdiri menatap hujan.
Albert yang rumahnya berdekatan dengan Jovan sudah berlari menyusul yang lain.
Albert sempat mengajak Jovan, tapi Jovan menolak untuk hujan-hujanan.
Dua puluh menit berlalu, tinggal beberapa
siswa lagi yang berdiri di gerbang sekolah. Jovan satu-satunya siswa laki-laki
yang ada di sana. Terdengar suara cekikikan siswi-siswi sambil mengejek Jovan.
“Cowok
cemen! Dengan hujan aja takut!” ejek Cindy teman sekelas Jovan yang
disambut derai tawa Nisa dan Ivi.
Jovan hanya diam. Dia tahu persis
kata-kata itu ditujukan untuknya. Jovan tidak peduli. Ia sudah biasa diejek
atau di-bully oleh teman-teman
sekelasnya.
Lima menit berikutnya, sebuah mobil
berwarna hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Seorang ibu turun dengan
membawa payung menghampiri Jovan kemudian mengajak Jovan masuk mobil.
“Ada yang rumahnya searah Jovan? Ayo
pulang bareng Jovan aja!” ajak sang ibu dengan ramah.
Cindy yang jelas-jelas rumahnya searah
rumah Jovan menolak ajakan ibu Jovan. Ia malu karena tadi sudah mengejek Jovan.
Begitu mobil orang tua Jovan berlalu, Cindy dan teman-temannya tertawa lagi.
“He he ... ternyata dia anak mama!” Kali
ini Ivi yang berciloteh.
“Iya, makanya takut hujan,” balas Cindy
sambil memonyongkan mulutnya kemudian tertawa lagi.
***
“Jo, kamu nanti bawa payung ke sekolah,
ya! Papa gak bisa jemput kamu nanti
kalau hujan. Papa sama mama mau ke rumah Tante Nita nanti.” Bu Tio, mamanya
Jovan mengingatkan Jovan. “Jangan lupa juga bawa jaketmu! Mama rasa siang nanti
bakal hujan lagi,” lanjutnya.
Sebagai anak yang patuh dan menyadari
keadaannya, Jovan segera mengambil jaket dan payung, kemudian menyimpannya ke
dalam tas sekolahnya. Tak lama setelah itu, terdengar suara seseorang memanggil
Jovan dari depan rumah. Dia adalah Albert, tetangga dan teman satu sekolah
Jovan. Jika cuaca cerah, keduanya selalu berangkat bersama ke sekolah dengan
berjalan kaki. Biasanya mereka butuh waktu sekitar lima belas menit untuk
sampai ke sekolah.
“Tasmu penuh, ya?” ujar Albert begitu
melihat Jovan menyandang tasnya ke punggung.
“Iya, aku bawa payung dan jaket,” balas
Jovan sambil berjalan menyusul langkah Albert.
Albert tidak lagi berkomentar. Baginya
sudah biasa melihat Jovan membawa payung dan jaket ke sekolah. Apalagi di musim hujan seperti saat ini.
Dua sahabat itu berjalan dengan penuh
semangat sambil berbagi cerita tentang pelajaran dan tugas sekolah. Tanpa
terasa, mereka sampai di sekolah dan berpisah menuju kelas masing-masing.
Menjelang pelajaran terakhir usai, angin
bertiup kencang. Di langit awan hitam menggantung
menghalangi matahari. Suara guruh pun terdengar menderu membaur dengan suara
angin. Beberapa helai daun kering diterbangkan angin ke dalam kelas 8-B. Selanjutnya titik-titik air hujan turun
membasahi bumi. Hawa dingin pun mulai dirasakan oleh Bu Wati dan siswa di kelas
itu. Suara Bu Wati pun tidak bisa lagi didengar siswanya dengan jelas. Sehingga
beliau hanya membiarkan siswa menyelesaikan catatannya masing-masing.
Jovan yang duduk dekat jendela, mulai
merasa tidak nyaman. Udara dingin mulai menyentuh pori-pori kulitnya. Ternyata
dugaan mamanya bakal terjadi hujan siang ini benar. Segera Jovan mengeluarkan
jaketnya dan memakai jaket tersebut. Beberapa temannya mulai mencibir ke arah
Jovan, namun yang lain tetap fokus pada catatan mereka.
Begitu bel pulang berdering, siswa pun
berebutan keluar kelas. Cuaca dingin sepertinya mempercepat rasa lapar mereka
hingga ingin segera pulang. Sementara Jovan sengaja keluar belakangan. Ia
menunggu suasana sepi untuk pulang menembus hujan. Kalau tidak, seperti biasa
Jovan akan jadi bahan tertawaan teman-temannya lagi.
“Jovan, kamu pulangnya gimana?” tanya Bu Wati menghampiri Johan
yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.
“Saya bawa payung, Bu,” jawab Jovan
sambil mengeluarkan benda pelindung hujan itu dari dalam tasnya.
Bu Wati tersenyum maklum. Kemudian
berlalu meninggalkan Jovan yang juga sudah berjalan keluar kelas. Di teras
masih ada beberapa teman sekelas Jovan. Mereka semua perempuan. Siswa laki-laki
sudah berlari menembus hujan yang tidak sederas tadi. Tak satu pun siswa
laki-laki membawa payung ke sekolah, kecuali Jovan.
Merasa yakin sekolah tidak lagi ramai,
Jovan mengembangkan payungnya. Ia tidak peduli senyum-senyum ejekan Ivi, Nisa,
dan Cindy. Begitu Jovan melangkahkan kakinya menuju halaman sekolah, payungnya
seakan ditarik seseorang. Tidak salah lagi, di belakangnya Cindy menahan
pinggir payung Jovan.
“Masa cowok
tega biarin teman ceweknya hujan-hujanan, sementara dianya
pake payung?” seru Nisa yang juga
sudah ikut memegang pinggir payung itu.
“Iya, nih, tega amat jadi cowok!” timpal Ivi yang kemudian
berusaha merebut payung itu.
“Maaf, aku tidak bisa kena hujan!” bela
Jovan dan berusaha menarik payung itu lagi. Ia berhasil dan segera meninggalkan
Cindy, Ivi, dan Nisa.
Begitu sampai di gerbang sekolah, Jovan
merasa heran karena Cindy, Ivi, dan Nisa sudah berada di sana bergabung dengan beberapa siswa lain. Bersamaan dengan itu, terdengar suara tawa
beberapa orang yang disertai kata-kata ejekan. Dengan jelas Jovan mendengarkan
kata-kata itu ditujukan kepadanya. Walau dongkol, Jovan tidak menanggapinya dan
memilih secepatnya berjalan menuju jalan raya. Ia malas mencari masalah dengan
teman-temannya. Lebih baik ia fokus akan kesehatan dirinya, begitu pikirnya.
Baru beberapa meter Jovan berjalan,
tiba-tiba payungnya sudah ada yang merebut lagi. Ia memutar badannya yang mulai
basah itu. Kali ini bukan Cindy dan gengnya, tapi ada dua orang siswa
laki-laki.
Mereka
bukan teman sekelas Jovan. Namun sangat jelas mereka meriakkan nama Cindy.
Benar saja, hitungan detik, Cindy, Ivi, dan Nisa sudah berlari menuju mereka.
Jovan tidak mau diam, ia berusaha merebut kembali payung itu setelah jatuh ke
tangan Cindy.
“Tolong, Cindy, aku tidak bisa kena
hujan!” Lagi-lagi Jovan memohon pada Cindy dengan wajah memelas.
“Ah, bikin tercemar nama cowok sekolah kita aja, kau! Kalau gak, besok kau pake rok aja ke sekolah!”
bentak salah satu siswa laki-laki tadi.
“Iya, nih,” timpal yang lainnya, “Bawa
aja, Cin!” lanjutnya mengarah pada Cindy.
Jovan tidak menyahut sama sekali. Ia
hanya berusaha agar payung itu kembali ke tangannya. Kali ini tepi payung yang
berwarna abu-abu itu sudah berhasil
dipegang Jovan. Cindy berusaha menahan dan menyentakkan payung itu dengan
kasar. Ivi pun sudah datang ikut menarik payung tersebut. Jovan tak mau kalah,
ia pun berusaha sekuat tenaga untuk merebut payung tersebut sehingga terjadi
tarik-menarik satu melawan empat orang. Bukannya berhasil, yang ada malah payung
itu sekarang bentuknya sudah mengenaskan. Beberapa kawat penyangga payung itu
patah. Sementara badan mereka sudah basah kuyup oleh hujan.
Di tengah perseteruan itu, Albert
datang. Ia telat keluar kelas karena
harus mendiskusikan tugas kelompoknya terlebih dahulu.
“Hei, apa-apaan kalian!” bentak Albert sambil mencoba merebut payung yang
sudah tak karuan bentuknya itu dari tangan Ivi.
Karena sudah puas membuat payung Jovan
patah, Ivi membiarkan Albert merebutnya, Sementara dua teman laki-lakinya sudah
lari terlebih dahulu. Cindy dan Ivi tertawa lepas. Sepertinya mereka sangat
senang telah mengganggu Jovan. Selanjutnya mereka berjalan pulang.
“Kalau terjadi apa-apa dengan Jovan,
kalian yang bertanggung jawab!” seru Albert.
Cindy dan Ivi tidak peduli dengan apa
yang disampaikan Albert. Mereka hanya tertawa lepas menanggapinya.
Tak
tega melihat Jovan yang mulai menggigil dan pucat, Albert segera mengajak Jovan
untuk berteduh saja di sebuah warung.
“Percuma kita berteduh, Al. Kita sudah
terlanjur basah,” tolak Jovan.
“Kamu gak apa?” tanya Albert sambil
mencoba mengembangkan lagi payung Jovan. Sia-sia, payung itu tak bisa lagi
dipakai. “Yuk, kita jalannya cepat aja!” lanjut Albert.
Kedua sahabat itu pun berjalan secepatnya
di tengah hujan agar segera sampai di rumah. Dalam waktu kurang sepuluh menit,
mereka sudah sampai di rumah masing-masing.
***
Malam harinya, Jovan harus dibawa ke
rumah sakit. Badannya panas, hidungnya tersumbat, dan yang lebih parah,
napasnya sesak. Bukan hanya itu, kulit Jovan pun merah dan gatal. Memang Jovan
mempunyai penyakit alergi terhadap cuaca dingin. Dari cerita Albert, mama Jovan
tahu, kalau teman-teman Jovan yang menyebabkan Jovan pulang sekolah kehujanan.
Keesokan harinya, mama Jovan datang ke
sekolah menjumpai Pak Tiar, wali kelas Jovan. Mama Jovan tidak ingin anaknya
dijahili terus. Mama Jovan meminta Pak Tiar memberitahu saja keadaan Jovan yang
sebenarnya agar tidak ada lagi yang menjahilinya di sekolah. Pak Tiar tentu
menindaklanjuti pengaduan mama Jovan.
Akhirnya, pada hari itu juga, Cindy dan
teman-temannya mendapat peringatan dari Pak Tiar dan guru BK. Beliau minta,
peringatan ini bukan hanya berlaku untuk Cindy dan gengnya saja, tetapi untuk
seluruh siswa yang ada di sekolah itu.
Sepulang sekolah, Pak Tiar mengajak
Cindy dan gengnya untuk menjenguk Jovan yang sudah berada kembali di rumahnya.
“Maafkan kami, ya, Jo!” pinta Cindy
menunduk dengan suara bergetar. Ada rasa
malu dan menyesal yang ditahannya.
Ivi, Nisa, dan dua teman laki-lakinya
juga ikut meminta maaf. Walau masih ada
rasa kesal di hatinya, Jovan mengangguk petanda ia memaafkan teman-temannya
itu.