Rabu, 29 September 2021

PAYUNG JOVAN

Karya Salma


Hujan belum menunjukkan tanda akan berhenti sedangkan bel pulang sekolah sudah berbunyi semenjak sepuluh menit yang lalu. Beberapa siswa sudah pulang dijemput oleh orang tua mereka. Ada juga yang pulang naik becak dan naik angkutan umum. Beberapa siswa laki-laki nekat menembus hujan setelah membalut tas mereka dengan mantel tas. Mereka terlihat sangat senang. Sepertinya sengaja pulang sambil main hujan.

Berbeda dengan Jovan, siswa laki-laki yang selalu memakai kaca mata tebal itu. Dia hanya mampu berdiri menatap hujan. Albert yang rumahnya berdekatan dengan Jovan sudah berlari menyusul yang lain. Albert sempat mengajak Jovan, tapi Jovan menolak untuk hujan-hujanan.

Dua puluh menit berlalu, tinggal beberapa siswa lagi yang berdiri di gerbang sekolah. Jovan satu-satunya siswa laki-laki yang ada di sana. Terdengar suara cekikikan siswi-siswi  sambil mengejek Jovan.

Cowok cemen! Dengan hujan aja takut!” ejek Cindy teman sekelas Jovan yang disambut derai tawa Nisa dan Ivi.

Jovan hanya diam. Dia tahu persis kata-kata itu ditujukan untuknya. Jovan tidak peduli. Ia sudah biasa diejek atau di-bully oleh teman-teman sekelasnya.

Lima menit berikutnya, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Seorang ibu turun dengan membawa payung menghampiri Jovan kemudian mengajak Jovan masuk mobil.

“Ada yang rumahnya searah Jovan? Ayo pulang bareng Jovan aja!” ajak sang ibu dengan ramah.

Cindy yang jelas-jelas rumahnya searah rumah Jovan menolak ajakan ibu Jovan. Ia malu karena tadi sudah mengejek Jovan. Begitu mobil orang tua Jovan berlalu, Cindy dan teman-temannya tertawa lagi.

“He he ... ternyata dia anak mama!” Kali ini Ivi yang berciloteh.

“Iya, makanya takut hujan,” balas Cindy sambil memonyongkan mulutnya kemudian tertawa lagi.

      ***

“Jo, kamu nanti bawa payung ke sekolah, ya! Papa gak bisa jemput kamu nanti kalau hujan. Papa sama mama mau ke rumah Tante Nita nanti.” Bu Tio, mamanya Jovan mengingatkan Jovan. “Jangan lupa juga bawa jaketmu! Mama rasa siang nanti bakal hujan lagi,” lanjutnya.

Sebagai anak yang patuh dan menyadari keadaannya, Jovan segera mengambil jaket dan payung, kemudian menyimpannya ke dalam tas sekolahnya. Tak lama setelah itu, terdengar suara seseorang memanggil Jovan dari depan rumah. Dia adalah Albert, tetangga dan teman satu sekolah Jovan. Jika cuaca cerah, keduanya selalu berangkat bersama ke sekolah dengan berjalan kaki. Biasanya mereka butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke sekolah.

“Tasmu penuh, ya?” ujar Albert begitu melihat Jovan menyandang tasnya ke punggung.

“Iya, aku bawa payung dan jaket,” balas Jovan sambil berjalan menyusul langkah Albert.

Albert tidak lagi berkomentar. Baginya sudah biasa melihat Jovan membawa payung dan jaket ke sekolah.  Apalagi di musim hujan seperti saat ini.

Dua sahabat itu berjalan dengan penuh semangat sambil berbagi cerita tentang pelajaran dan tugas sekolah. Tanpa terasa, mereka sampai di sekolah dan berpisah menuju kelas masing-masing.

Menjelang pelajaran terakhir usai, angin bertiup kencang.  Di langit awan hitam menggantung menghalangi matahari. Suara guruh pun terdengar menderu membaur dengan suara angin. Beberapa helai daun kering diterbangkan angin ke dalam kelas 8-B.  Selanjutnya titik-titik air hujan turun membasahi bumi. Hawa dingin pun mulai dirasakan oleh Bu Wati dan siswa di kelas itu. Suara Bu Wati pun tidak bisa lagi didengar siswanya dengan jelas. Sehingga beliau hanya membiarkan siswa menyelesaikan catatannya masing-masing.

Jovan yang duduk dekat jendela, mulai merasa tidak nyaman. Udara dingin mulai menyentuh pori-pori kulitnya. Ternyata dugaan mamanya bakal terjadi hujan siang ini benar. Segera Jovan mengeluarkan jaketnya dan memakai jaket tersebut. Beberapa temannya mulai mencibir ke arah Jovan, namun yang lain tetap fokus pada catatan mereka.

Begitu bel pulang berdering, siswa pun berebutan keluar kelas. Cuaca dingin sepertinya mempercepat rasa lapar mereka hingga ingin segera pulang. Sementara Jovan sengaja keluar belakangan. Ia menunggu suasana sepi untuk pulang menembus hujan. Kalau tidak, seperti biasa Jovan akan jadi bahan tertawaan teman-temannya lagi.

“Jovan, kamu pulangnya gimana?” tanya Bu Wati menghampiri Johan yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.

“Saya bawa payung, Bu,” jawab Jovan sambil mengeluarkan benda pelindung hujan itu dari  dalam tasnya.

Bu Wati tersenyum maklum. Kemudian berlalu meninggalkan Jovan yang juga sudah berjalan keluar kelas. Di teras masih ada beberapa teman sekelas Jovan. Mereka semua perempuan. Siswa laki-laki sudah berlari menembus hujan yang tidak sederas tadi. Tak satu pun siswa laki-laki membawa payung ke sekolah, kecuali Jovan.

Merasa yakin sekolah tidak lagi ramai, Jovan mengembangkan payungnya. Ia tidak peduli senyum-senyum ejekan Ivi, Nisa, dan Cindy. Begitu Jovan melangkahkan kakinya menuju halaman sekolah, payungnya seakan ditarik seseorang. Tidak salah lagi, di belakangnya Cindy menahan pinggir payung Jovan.

“Masa cowok tega biarin teman ceweknya hujan-hujanan, sementara dianya pake payung?” seru Nisa yang juga sudah ikut memegang pinggir payung itu.

“Iya, nih, tega amat jadi cowok!” timpal Ivi yang kemudian berusaha merebut payung itu.

“Maaf, aku tidak bisa kena hujan!” bela Jovan dan berusaha menarik payung itu lagi. Ia berhasil dan segera meninggalkan Cindy, Ivi, dan Nisa.

Begitu sampai di gerbang sekolah, Jovan merasa heran karena Cindy, Ivi, dan Nisa sudah berada di sana  bergabung dengan beberapa siswa lain.  Bersamaan dengan itu, terdengar suara tawa beberapa orang yang disertai kata-kata ejekan. Dengan jelas Jovan mendengarkan kata-kata itu ditujukan kepadanya. Walau dongkol, Jovan tidak menanggapinya dan memilih secepatnya berjalan menuju jalan raya. Ia malas mencari masalah dengan teman-temannya. Lebih baik ia fokus akan kesehatan dirinya, begitu pikirnya.

Baru beberapa meter Jovan berjalan, tiba-tiba payungnya sudah ada yang merebut lagi. Ia memutar badannya yang mulai basah itu. Kali ini bukan Cindy dan gengnya, tapi ada dua orang siswa laki-laki.

Mereka bukan teman sekelas Jovan. Namun sangat jelas mereka meriakkan nama Cindy. Benar saja, hitungan detik, Cindy, Ivi, dan Nisa sudah berlari menuju mereka. Jovan tidak mau diam, ia berusaha merebut kembali payung itu setelah jatuh ke tangan Cindy.

“Tolong, Cindy, aku tidak bisa kena hujan!” Lagi-lagi Jovan memohon pada Cindy dengan wajah memelas.

“Ah, bikin tercemar nama cowok sekolah kita aja, kau! Kalau gak, besok kau pake rok aja ke sekolah!” bentak salah satu siswa laki-laki tadi.

“Iya, nih,” timpal yang lainnya, “Bawa aja, Cin!” lanjutnya mengarah pada Cindy.

Jovan tidak menyahut sama sekali. Ia hanya berusaha agar payung itu kembali ke tangannya. Kali ini tepi payung yang berwarna  abu-abu itu sudah berhasil dipegang Jovan. Cindy berusaha menahan dan menyentakkan payung itu dengan kasar. Ivi pun sudah datang ikut menarik payung tersebut. Jovan tak mau kalah, ia pun berusaha sekuat tenaga untuk merebut payung tersebut sehingga terjadi tarik-menarik satu melawan empat orang. Bukannya berhasil, yang ada malah payung itu sekarang bentuknya sudah mengenaskan. Beberapa kawat penyangga payung itu patah. Sementara badan mereka sudah basah kuyup oleh hujan.

Di tengah perseteruan itu, Albert datang.  Ia telat keluar kelas karena harus mendiskusikan tugas kelompoknya terlebih dahulu.

“Hei, apa-apaan kalian!” bentak  Albert sambil mencoba merebut payung yang sudah tak karuan bentuknya itu dari tangan Ivi.

Karena sudah puas membuat payung Jovan patah, Ivi membiarkan Albert merebutnya, Sementara dua teman laki-lakinya sudah lari terlebih dahulu. Cindy dan Ivi tertawa lepas. Sepertinya mereka sangat senang telah mengganggu Jovan. Selanjutnya mereka berjalan pulang.

“Kalau terjadi apa-apa dengan Jovan, kalian yang bertanggung jawab!” seru Albert.

Cindy dan Ivi tidak peduli dengan apa yang disampaikan Albert. Mereka hanya tertawa lepas menanggapinya.

Tak tega melihat Jovan yang mulai menggigil dan pucat, Albert segera mengajak Jovan untuk berteduh saja di sebuah  warung.

“Percuma kita berteduh, Al. Kita sudah terlanjur basah,” tolak Jovan.

“Kamu gak apa?” tanya Albert sambil mencoba mengembangkan lagi payung Jovan. Sia-sia, payung itu tak bisa lagi dipakai. “Yuk, kita jalannya cepat aja!” lanjut Albert.

Kedua sahabat itu pun berjalan secepatnya di tengah hujan agar segera sampai di rumah. Dalam waktu kurang sepuluh menit, mereka sudah sampai di rumah masing-masing.

 ***

Malam harinya, Jovan harus dibawa ke rumah sakit. Badannya panas, hidungnya tersumbat, dan yang lebih parah, napasnya sesak. Bukan hanya itu, kulit Jovan pun merah dan gatal. Memang Jovan mempunyai penyakit alergi terhadap cuaca dingin. Dari cerita Albert, mama Jovan tahu, kalau teman-teman Jovan yang menyebabkan Jovan pulang sekolah kehujanan.

Keesokan harinya, mama Jovan datang ke sekolah menjumpai Pak Tiar, wali kelas Jovan. Mama Jovan tidak ingin anaknya dijahili terus. Mama Jovan meminta Pak Tiar memberitahu saja keadaan Jovan yang sebenarnya agar tidak ada lagi yang menjahilinya di sekolah. Pak Tiar tentu menindaklanjuti pengaduan mama Jovan.

Akhirnya, pada hari itu juga, Cindy dan teman-temannya mendapat peringatan dari Pak Tiar dan guru BK. Beliau minta, peringatan ini bukan hanya berlaku untuk Cindy dan gengnya saja, tetapi untuk seluruh siswa yang ada di sekolah itu.

Sepulang sekolah, Pak Tiar mengajak Cindy dan gengnya untuk menjenguk Jovan yang sudah berada kembali di rumahnya.

“Maafkan kami, ya, Jo!” pinta Cindy menunduk dengan suara bergetar.  Ada rasa malu dan menyesal yang ditahannya.

Ivi, Nisa, dan dua teman laki-lakinya juga ikut meminta maaf.  Walau masih ada rasa kesal di hatinya, Jovan mengangguk petanda ia memaafkan teman-temannya itu. 

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan Awal Januari

Oleh Salma Deras Bersama gemuruh Menggenang Menggiring berjubel sampah Deras Diiringi badai Gelisah Menyasar jalan-jalan berbatu Deras Membe...