Karya Salma
Hanif tergopoh-gopoh memasukkan gorengan yang sudah dibungkus ibunya ke dalam keranjang. Ia takut telat lagi hari ini. Apalagi jam pertama adalah pelajaran IPA. Nanti Pak Naga bisa-bisa menyuruh Hanif berdiri di depan kelas jika terlambat. Ibu membantu Hanif hingga keranjang itu sudah terisi penuh.
Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, Hanif menjajakan kue buatan ibunya. Awal berjualan, Hanif harus berkeliling kampung sambil berseru, "Kue...kue...gorengan....gorengan...!" Tidak cukup tiga minggu, sepertinya Hanif sudah mempunyai langganan. Sekarang Hanif tidak butuh waktu lama lagi untuk menjajakan kue dan gorengan buatan ibunya. Walaupun tidak selalu habis, setidaknya jualan Hanif masih bisa membantu kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. Ya, semenjak ayahnya pergi dari rumah, Hanif terpaksa membantu ibunya berjualan kue dan gorengan. Semasa ayahnya masih di rumah, hanya ayah dan ibunya yang mencari nafkah. Bahkan ibunya pun tidak pernah mencari pekerjaan di luar. Tetapi, sekarang jadi berbeda. Ayah pergi begitu saja dari rumah tanpa kabar berita, meninggalkan Ibu, Hanif, dan Hani. Selama dua bulan Ibu berusaha mencari tahu keberadaan Ayah, namun tidak ada jawaban. Akhirnya Ibu berinisiatif untuk segera mengambil alih tanggung jawab kepala rumah tangga.
Setelah Hanif berangkat ke sekolah, ibu Hanif dan Hani pun berangkat ke rumah Pak Yusuf. Walaupun masih berusia lima tahun, Hani sudah tahu membantu ibunya. Di rumah Pak Yusuf, Ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci, menyetrika, dan membersihkan rumah. Sesekali membantu memasak juga jika Pak Yusuf kedatangan tamu. Saat itu, biasanya Ibu akan membawa makanan pulang.
"Alhamdulillah, aku tidak telat!" seru Hanif setengah bersuara, begitu sampai di gerbang sekolah. Bahkan dia sampai bersamaan dengan Oji teman dekat rumahnya.
"Habis jualanmu, Han? tanya Oji."
"Gak semua, tapi Alhamdulillah, Ji."
"Kita pulang nanti barengan, ya," ajak Oji, "aku duluan, kerja kelompokku belum siap," lanjut Oji dan berlalu menuju kelasnya.
Hanif pun menuju kelasnya.
"Hai, Han! Bawa gorengan gak?" tiba-tiba Ragil datang menghampiri Hanif saat jam istirahat.
"Ada, nih, sisa dua biji, jawab Hanif sambil mengeluarkan bakwan dari tasnya.
"Cuma bakwan, ya? Tapi ga papalah," kata Ragil sahabat setia Hanif itu. Dia paham sekali keadaan Hanif. Tiap pagi atau jam istirahat sekolah, Ragil selalu menanyakan sisa jualan Hanif. Tidak jarang Ragil memborong sisa jualan itu lalu berbagi dengan temannya yang lain. Bisa dimaklumi Ragil adalah anak orang berada dan anak bungsu dari tiga bersaudara.
"Hai, kau mau juga beli sisa-sisa itu? Apa perutmu gak sakit? Lagi pula mana terjamin kebersihan gorengan si Hanif itu?" tiba-tiba Adit berseru sambil mendekati Ragil.
"Selama ini gak ada masalah. Biasa aja perutku, gak sakit kok," balas Ragil. "Nih, untukmu satu," katanya lagi sambil menyodorkan satu bungkus bakwan kepada Adit.
"Ogaah, mendingan aku beli di kantin sekolah. Jijik aku makan buatan tukang cuci itu," kata Adit seraya mengangkat bahunya.
"Astagfirullah! Kau jangan ngomong gitu. Untung Hanif gak di sini. Coba kalau dia dengar, kan dia sedih," balas Ragil dengan suara agak dipelankan dan sengaja mendekat ke telinga Adit.
"Alaah, kan betul yang aku bilang, kalau ibunya si Hanif memang tukang cuci di rumah Pak Yusuf!" suara Adit justru lebih keras lagi. Kali ini Hanif mendengar dengan jelas ucapan Adit. Hanif bergegas menuju Ragil dan Adit.
"Emang kenapa kalau ibuku jadi tukang cuci? Itu kan kerjanya halal!" Hanif berusaha membela walau hatinya terasa perih. Bukan sekali ini Adit menghina dia. Ada saja jalan bagi Adit untuk menjelek-jelekkan Hanif. Terlebih lagi jika sebelumnya Hanif tidak mau memberikan contekan PR-nya kepada Adit.
"Halal, sih, tapi, ya ... kan jorok. Puihhh...!" jawab Adit sambil meludah. Hampir saja Hanif melayangkan tinjunya ke mulut Adit. Tapi Ragil sepertinya lebih sigap lagi dan segera memegang tangan Hanif yang sudah terkepal.
"Sudahlah, Han! Ayo, kita ke kelas aja!" ajak Ragil sambil menarik tangan Hanif. Hanif mengelak. Hatinya betul-betul panas. Ia sangat ingin membàlas kata-kata Adit itu dengan pukulan.
"Udahlah! Nanti malah panjang masalahnya. Kalau sampai ketahuan guru BP nanti, kamu juga yang repot," nasihat Ragil menenangkan.
Hanif tersadar mendengar kata 'guru BP' tersebut. Ia bergidik membayangkan disidang di ruang BP, apalagi kalau sampai ibunya terpanggil ke sekolah ini gara-gara ia berantam. Kemudian dengan lunglai dia mengikuti langkah Ragil ke kelas. Hanif berusaha membujuk perasaannya agar bisa menahan emosi. Hidup sudah susah, tidak perlu cari masalah lagi, pikirnya.
Begitu bel pulang berdering, siswa-siswa berhamburan keluar kelas. Sebagian besar ingin segera pulang ke rumah karena perutnya mulai lapar. Tak terkecuali Hanif. Perutnya mulai keroncongan minta segera diisi. Hanif bertemu Oji di depan gerbang sekolah. Keduanya berjalan menuju pulang.
Menjelang pertigaan jalan menuju rumah, Hanif, Oji, dan beberapa temannya dikagetkan oleh suara knalpot motor disertai sorak sorai pengendaranya melaju kencang. Salah seorang di antaranya ternyata Adit. Ya, Adit ikut semacam geng motor yang kebanyakan anggotanya anak SMA dan SMK. Hanif heran juga kenapa yang seperti itu dibiarkan di kampung mereka. Padahal kebanyakan mereka tidak mempunyai SIM.
Barangkali hanya hitungan detik, Hanif dan rombongan pejalan kaki kembali dikagetkan oleh suara jeritan dan benturan yang keras. Orang-orang berlarian menuju sumber suara. Tepat di pertigaan jalan terjadi tabrakan antara sepeda motor dan mobil. Orang berkerumun dan seketika jalanan jadi macet. Ada dua motor yang tampak hancur bagian depannya dan sebuah mobil ringsek juga bagian depannya. Tiga orang tergeletak bersimbah darah, tetapi tak satu pun di antara mereka bergegas hendak memberikan pertolongan. Sebagian mereka malah sibuk menjelaskan kronologi kecelakaan itu. Sedangkan yang lain berbalik seperti orang ketakutan. Bahkan ada yang justru melanjutkan perjalanannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Hanif dan Oji memberanikan diri lebih dekat lagi ke tempat orang berkerumun.
"Astaga, bukannya itu motor Adit, Han!?" seru Oji.
"Benar, Ji. Ini Adit!"
Tubuh Adit tergeletak agak jauh dari motornya. Wajah dan kakinya penuh darah. Adit tidak bergerak. Melihat dua korban yang lain sudah mulai diangkat orang, Hanif segera minta tolong pada seorang laki-laki.
"Pak, Pak, tolong, Pak! Ini teman saya!" pinta Hanif memelas.
" Maaf, Dik, perjalanan saya jauh," jawab laki-laki itu sambil berjalan menuju motornya. Tapi saat itu juga sebuah mobil angkutan mendekat. Hanif segera menghambat mobil tersebut dan meminta membawa Adit segera ke puskesmas.
"Ji, kamu gak usah ikut. Kamu ke rumah Adit aja, kasih kabar orang tuanya,"
"Iya, ya," kata Oji kemudian terus berlari.
Tak berapa lama, mobil yang membawa Adit pun sampai di puskesmas. Adit segera dapat bantuan petugas puskesmas. Hanif betul-betul khawatir melihat keadaan Adit.
"Tolong selamatkan teman saya, ya, Pak Dokter!" pinta Hanif.
"Iya, sabar, ya!" jawab dokter.
Hanif menarik nafasnya dalam-dalam. Sebenarnya Hanif berusaha menguatkan badannya yang terasa gemetar. Perutnya mulai tidak enak dan mual begitu dilihatnya para perawat membersihkan luka Adit. Apalagi dokter mengatakan kalau luka di kaki dan kepala Adit harus dijahit.
"Sebaiknya kamu beri tahu orang tuanya, Dik," kata salah seorang perawat kepada Hanif.
"Sudah ada temanku yang ke sana, Bu." jawab Hanif.
Hanif keluar ruangan mencari tempat duduk dan menenangkan dirinya. Dalam hatinya ia sangat berharap Adit segera siuman. Tak berapa lama, seorang ibu masuk tergesa-gesa sambil menangis dan memanggil nama Adit. Hanif menyusul ibu tersebut.
"Adit, bangun, Nak, bangun!" kata mama Adit memegang tangan Adit.
"Sabar, Bu, darahnya banyak keluar, jadi membuat dia tak sadarkan diri," kata dokter.
Saat perban dipasang di kakinya, Adit membuka matanya. Adit sudah sadar.
"Mama...auhhh!" Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Adit. Kepalanya terasa berat dan perih. Begitu juga kakinya. Kemudian Adit mengerang kesakitan. Sepintas matanya menatap Hanif. Rasa sakit yang dirasakannya membuat dia tidak ingin bertanya bahkan juga untuk menyapa Hanif. Hanif juga ragu-ragu untuk mendekati Adit. Tetapi dalam hatinya Hanif bersyukur Adit sudah sadarkan diri. Dia berharap Hanif segera sembuh.
"Bu, saya pamit pulang ya, Bu. Nanti ibu saya khawatir. Semoga Adit cepat sembuh!" kata Hanif pada mama Adit.
"Oh, iya, Nak. Terima kasih banyak, ya, kamu sudah bantu Adit. Kamu memang anak baik. Ini, kamu naik ojek aja pulang, ya," kata mama Hanif sambil menyodorkan uang lima puluh ribuan.
"Udah, Bu. Gak usah, saya jalan kaki aja," balas Hanif dan menolak pemberian mama Adit.
"Gak baik menolak pemberian Ibu. Lagian kamu harus cepat sampai di rumah, kan?" Mama Adit memaksa Hanif untuk menerima uang itu.
Dengan ragu-ragu Hanif akhirnya menerima uang pemberian mama Adit, kemudian berlalu dari ruangan tempat Adit dirawat. Sebelumnya Hanif menyempatkan menatap Adit tanpa berkata apa-apa. Sebaliknya Adit juga tak mampu berkata-kata.
Empat hari sesudah kecelakaan itu, Adit kembali ke sekolah. Kakinya masih diperban. Agak ragu Adit mendekati Hanif begitu sampai di depan kelas.
"Han, terima kasih banyak, ya. Kamu sudah bantu aku. Padahal aku selama ini jahat sama kamu," kata Adit sambil meraih bahu Hanif.
"Alhamdulillah, kamu udah sembuh, Dit! Udahlah, kita lupakan aja, yang lalu gak usah diingat!" balas Hanif sambil memegang pundak Adit.
"Nanti pulang sekolah aku sama mama ke rumahmu. Boleh, ya?"
"Ya, boleh-boleh saja. Tapi maklum aja, rumahku jelek."
"Jangan gitulah, Han. Yang penting hatimu tidak jelek."
Ragil yang sedari tadi memperhatikan kedua temannya itu tersenyum sendiri tanpa mendekati keduanya. Hmmm! Senyum penuh makna.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar