Goresansenja.com
Ruang Belajar dan Berbagi
Senin, 03 Januari 2022
Hujan Awal Januari
Rabu, 24 November 2021
Ialah Guru
Kamis, 18 November 2021
contoh soal Bahasa Indonesia
Contoh Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 Semester 1
1. Paragraf berikut yang termasuk laporan percobaan adalah …
a. Pada kegiatan B penulis mendapatkan
hasil bahwa ketika beberapa tetes tinta dimasukan ke dalam air, tinta akan bercampur air dalam
beberapa menit tanpa diaduk. Tinta bercampur dengan air secara keseluruhan.
d. Pemerintah pusat akan mendorong pemerintah daerah di Sulawesi Tengah untuk mengaktifkan kembali aktivitas perekonomian. Selain itu, pemerintah pusat pun akan berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat Palu, Donggala, dan Sigi, yaitu jaringan listrik dan komunikasi.
Untuk mengetahui hasil percobaan, dilakukan
langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, ubahlah jepitan kertas hingga berbentuk huruf U. Kedua,
kupas ujung kabel kemudian tancapkan pada jeruk. Pada bagian lain tancapkan
juga bagian penjepit kertas yang sudah berbentuk U. Lakukan hal tersebut pada lima buah jeruk nipis. Setiap ujung
kabel yang lain disambungkan ke penjepit kertas lainnya. Setelah itu, tempelkan
ujung kabel yang belum disambungkan ke bohlam dengan menggunakan selotip. Terakhir, untuk menguji nyala lampu, sentuhkan penjepit kertas yang belum
tersambung ke bohlam. Sebaiknya, uji nyala lampu dilakukan di tempat yang agak
gelap.
2. Teks tersebut berisi laporan percobaan tentang ....
a. membuat penjepit kertas dari kulit jeruk nipis
b. menggunakan jeruk nipis sebagai
pengganti batu baterai
c.
munguji nyala bohlam dengan menggunakan air perasan jeruk nipis
d. menghubungkan lampu dengan aliran
listrik dengan kabel ber-bahan serat jeruk nipis
a. menggunakan kata bilangan
b. sangat sering menggunakan kata ganti orang
c. menggunakan kalimat perintah
d. menggunakan penghubung (konjungsi)
4. Memberikan informasi berupa pengetahuan hasil pengamatan/ penelitian merupakan salah satu tujuan....
a. pidato
persuasif c.
teks cerpen
b. teks laporan percobaan d. Teks tanggapan
b. Mungkin banyak di antara hadirin yang belum memahami isu globalisasi. Untuk itu, kali ini saya ingin mengajak hadirin untuk mengingat kembali beberapa pola hidup yang dapat mengakibatkan globalisasi, apa pengaruhnya bagi kita semua, dan bagaimana kita menghadapi pengaruhnya.
d. Langkah pertama adalah dengan memasukkan air hangat dengan takaran sesuai selera. Selanjutnya, mencelupkan teh gantung ke dalam gelas berisi air hangat. Jangan lupa memasukkan gula secukupnya kemudian aduk hingga larut. Teh siap disajikan.
(1) Kebersihan lingkungan merupakan hal yang sangat penting guna menjaga
kesehatan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Lingkungan yang sehat akan
meminimalisasi penyebaran penyakit dan akan memberikan kenyamanan saat berada
di lingkungan tersebut. Hal tersebut berlaku pula untuk lingkup sekolah.
(2) Kenyamanan lingkungan sekolah menjadi faktor pendorong keberhasilan
proses belajar mengajar. Dengan lingkungan sekolah yang nyaman, peserta didik
dan guru memiliki kesempatan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang
aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
(3) Maka dari itu, marilah kita sebagai warga sekolah menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Mulailah dari diri sendiri, seperti membuang sampah pada tempatnya dan tidak
meninggalkan barang-barang di laci karena dapat menjadi sarang nyamuk.
(4)Dengan
demikian, menjaga kebersihan lingkungan, khususnya di lingkungan sekolah, merupakan
hal yang sangat penting dan bukan hal yang layak ditunda-tunda. Kelasku bersih,
prestasi mudah diraih!
7.
Bagian isi teks
pidato persuasif tersebut yang berisi
ajakan orator (pembicara) kepada pendengarnya adalah ditandai dengan nomor ....
a. (1) b. (2) c. (3) d.
(4)
8. Kutipan teks pidato tersebut bertujuan mengajak pembaca atau pendengar untuk ....
a. menjaga kebersihan lingkungan sekolah
b. menjaga kebersihan lingkungan masyarakat
c. meminimalisasi penyakit
d. belajar aktif, kreatif, dan
menyenangkan
9. Kata ganti orang yang terdapat dalam teks pidato di atas adalah ….
a. saya b. kami
c. kita d. diri sendiri
Hadirin
yang saya hormati,
Manusia hanya dapat memiliki ilmu
pengetahuan yang luas apabila memiliki rasa ingin tahu yang tinggi yang
ditunjang oleh kemampuan bertanya. Ada pemeo yang mengatakan, “bagi yang dapat
bertanya, bodohnya hanya lima menit saja, tetapi bagi yang tidak dapat
bertanya, bodohnya seumur hidup”.
a. Manusia dapat memiliki pengetahuan
yang luas dengan banyak membaca.
b. Orang bodoh selalu saja bertanya
supaya tidak bodoh seumur hidup.
c. Untuk memiliki pengetahuan yang luas,
orang harus mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi.
d.
0rang pandai dapat bertanya lima menit, orang bodoh bertanya seumur hidup.
a. pembukaan b. penutup c. isi d. pengharapan
(1)Tanah
di pekuburan umum itu masih basah ketika para pentakziah sudah pulang.
Sementara Ogal masih duduk sambil sesekali menyeka air matanya. Ibu yang selama
ini paling dia hormati dan cintai, tadi malam telah menghadap Tuhan Yang Maha
Esa.
(2) ....
“Maksud Ibu?” Ogal tidak mengerti.
“Ya, rupanya engkau ditakdirkan untuk
aku asuh dan menjadi anak kami. Tetapi kami bertekad untuk menjadi orang tuamu,
bukan sekedar orang tua asuh.”
....
Sebenarnya Ogal masih ragu-ragu,
apakah dia akan ikut Bu Tutik atau bertahan hidup dengan mandiri. Jika dia ikut
Bu Tutik, tentu tidak dapat bekerja seperti ketika ia masih hidup bersama
ibunya. Hal itu menjadikannya manja. Tetapi jika menolak kebaikan Bu Tutik,
terasa tidak enak. Pengorbanan Ibu Guru itu sudah sedemikian besarnya. Dari
pengalaman hidupnya selama ini, banyak hal yang dapat Ogal petik. Ia biasa
bekerja keras, tidak suka menggantungkan hidup
pada orang lain. Ia juga biasa hidup prihatin sehingga tidak suka
berfoya-foya.
(3) “Tapi,
saya tidak enak kalau menganggur, Bu!”
“Di rumahku engkau tidak mungkin menganggur. Engkau bisa belajar
menggunakan komputer, mengetik, nonton TV, dan memelihara kebun.”
“Tapi, saya akan tidak bekerja, Bu!”
“Pada hakikatnya engkau bekerja juga. Memelihara
kebun atau membantuku di rumah juga bekerja.”
“Jadi, tidak harus menjajakan kue, Bu?”
Bu Tutik mengangguk.
“Kalau begitu, tolong carikan pekerjaan
yang bisa saya lakukan.”
Bu Tutik tersenyum. “Jangan khawatir.”
(4) Bu Tutik ternyata dapat memenuhi harapan
Ogal. Banyak pekerjaan yang dapat dilakukan Ogal. Misalnya, memelihara kebun
mangga, mencatat keluar masuknya barang, dan sebagainya. Kali ini Ogal tidak
kalah sibuknya dengan sewaktu berada di desa nelayan. Bahkan, mungkin boleh
dikatakan sangat sibuk. Pekerjaan di rumah Bu Tutik tidak hanya satu, melainkan
sangat banyak. Walaupun begitu, Bu Tutik tidak pernah memaksa Ogal untuk
bekerja. Semua itu hanya semata-mata menuruti keinginan Ogal.
a. memohon dan berdoa c.
berserah diri kepada Tuhan
b. meninggal dunia d. merasa tidak berdaya
a. Ogal tidak mau meninggalkan
pekerjaan lamanya sebagai penjaja kue.
b. Ogal memenuhi permintaan Bu Tutik
untuk belajar lebih giat lagi.
c. Ogal tidak ingin dirinya menjadi
beban Bu Tutik.
d. Ogal meminta pekerjaan untuk dirinya
kepada Bu Tutik.
a. sudut
pandang orang pertama, sebagai pemeran utama
b. sudut pandang orang pertama, sebagai
pemeran pembantu
c. sudut pandang orang ketiga, pengarang serba
tahu
d.
sudut pandang orang ketiga, pengarang sebagai pengamat
a. Setelah ibunya meninggal, Ogal merasa
menyesal.
b. Ogal dikunjungi banyak pentakziyah.
c. Bu Tutik meminta Ogal menjadi anak
angkatnya.
d. Ogal sangat bersedih karena ibunya
meninggal dunia.
16.
Bagian resolusi teks tersebut ditandai dengan nomor ....
a. (1) b. (2) c. (3) d.
(4)
(1) Malam ini Vina tengah menengadahkan kepalanya, berusaha menyapa
bulan. (2) Kendati penantiannya telah habiskan lebih dari separuh kesabarannya,
bulan tak kunjung membalas sapanya. (3) Rupanya, awanlah yang menghalangi
terangnya bulan. (4) Sebenarnya, malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam
sebelumnya. (5) Namun, entah mengapa dingin itu tak ia rasakan sedikit pun. (6)
Mungkin pikiran tentang kejadian tadi siang yang hilangkan rasa itu.
17. Majas personifikasi terdapat pada kalimat yang ditandai dengan nomor ....
a. (1) dan (2) b. (3) dan (4) c. (4) dan (5) d. (5) dan (6)
18. Kalimat ekspresif yang menggambarkan ketidaksabaran tokoh ditandai dengan nomor ....
a. (2) b. (3)
c. (5) d. (6)
Bacalah kutipan teks tanggapan berikut untuk menjawab soal nomor 19 dan 20!
(1)Meskipun lukisan “Dini Hari” dibuat berdasarkan imajinasi pelukisnya, tetapi pemandangan alam yang dilukiskannya itu seolah-olah benar-benar ada dan bukan imajinasi. (2) Bentuk benda-benda yang dilukiskan tidak beda dengan benda dalam kehidupan nyata.(3) Namun, dari sisi komposisi tampilan lukisan tersebut terasa kurang lengkap. (4) Lukisan hanya menampilkan unsur tumbuhan (pohon pinus dan rerumputan). (5) Unsur-unsur kehidupan yang lain seperti binatang dan manusia tidak ditampilkan. (6) Hal inilah yang menyebabkan lukisan ini terkesan “kering” atau “kurang lengkap”.
19. Kalimat berisi pujian dalam teks tersebut ditandai dengan nomor ....
a. (1) dan (2) b. (3) dan (4) c. (4) dan (5) d. (5) dan (6)
20. Kalimat berisi kritikan dalam teks tersebut ditandai dengan nomor ....
a. (1), (2), (3), (4) c.
(3), (4), (5), (6)
b. (2), (3), (4), (5) d.
(4), (5), (6), (1)
Senin, 18 Oktober 2021
Calathea Bunda
Oleh Salma
Naya meremas kembali kertas ulangan matematikanya untuk kesekian kalinya. Angka tiga puluh yang tertera di sudut kanan kertas itu ternyata tidak juga berubah. Sakit sekali rasanya melihat angka tersebut. Terlebih lagi Naya tadi diejek oleh Julio anak guru matematika itu. Memang Naya akui kalau Naya tidak pintar matematika. Tetapi dengan belajar bersama Bunda yang jago matematika, nilai matematika Naya selalu tinggi bahkan terkadang melebihi nilai Julio. Sementara Bunda sudah empat hari ini tidak lagi mendampingi Naya belajar. Bunda sibuk mengurusi calathea. Seperti tadi malam, Bunda menjemput calathea impor yang dijanjikan temannya. Malam kemarin Bunda sibuk memasukkan calathea-calatheanya yang sudah subur itu ke rumah karena takut dicuri orang seperti punya tetangga.
Hari ini, kekecewaan Naya pun tak ada yang tahu. Tak ada tempat mengadukan kesalnya. Bunda belum pulang lagi bekerja. Begitu pun Ayah. Dibukanya lagi kertas ujian yang nyaris robek itu. Angka tiga puluh masih tertera. Naya meraih sebuah gunting yang tergeletak di atas meja. Kemudian Naya membawa kertas dan gunting itu ke teras rumah. Dipajangnya kertas ujian tersebut dalam sebuah pot berwarna putih dengan bantuan lidi. Setelah itu, tanpa pikir panjang lagi, bocah kelas tiga itu mengeksekusi tiga pot calathea yang berada di rak. Rasa kesal Naya seakan ikut hilang bersamaan dengan jatuhnya potongan-potongan daun calathea itu ke lantai. Naya tersenyum puas dan kembali ke rumah.
Ayah dan Bunda pulang begitu Naya kembali ke kamarnya. Ketika hendak mengganti bajunya, Naya mendengar suara jeritan Bunda dari teras. Jeritan itu mungkin terdengar sampai ke ujung gang. Otomatis Naya lari ke beranda dan mengintip dari balik gorden. Terdengar segala serapah Bunda. Sedang Ayah hanya diam. Ayah menatap sebuah kertas yang tertancap dalam sebuah pot. Nama Naya dan angka 30 jelas tertulis di sana. Ayah meraih kertas itu dan memberikannya pada Bunda. Seketika wajah Bunda berubah. Mulutnya pun terkunci. Entah apa yang ada di pikiran Bunda saat itu.
****
Matematika Pedagang Sate
Oleh Salma
Sudah menjadi tradisi keluarga besar kami, saat liburan sekolah berkumpul di rumah orang tua. Di samping menjalin silaturrahim juga kesempatan menyenangkan orang tua.
Menjelang sampai di rumah, aku tak lupa membeli makanan untuk anak-anak dan keponakanku. Mas suami menyarankan agar beli sate saja untuk anak-anak. Itu sebabnya, sang suami berhenti tepat di depan warung sate.
"Sate, Bu?" tawar ibu pedagang sate ramah.
"Berapa satu bungkus?" tanyaku. Sudah menjadi kebiasaanku, bertanya harga dulu sebelum membeli sesuatu. Di samping takut kaget dengan harga yang fantastis, aku juga takut uang yang di dompet tidak mencukupi.
"Satu porsi 13 ribu, beli setengah 10 ribu." Begitu jawaban dari pedagang sate.
Antara mikir harga dan jumlah bungkus sate yang mau aku beli, mataku fokus pada bentuk lontong yang ada di atas gerobak sate. Segera aku menyadari bahwa itu sate madura. Aku intip lagi tulisan di depan gerobak, ternyata betul itu sate madura. Sementara anakku sendiri kurang suka sate madura. Aku minta maaf pada ibu pedagang dan berjalan ke seberang jalan.
Jelas aku lihat tulisan "Sate Ajo Piaman". Aku mendekat dan bertanya lagi berapa harga sate itu setengah porsi.
"Setengah 6.000, sebungkus 10.000, Bu" jawab sang pedagang.
Aku langsung pesan setengah-setengah porsi sebanyak anggota keluarga di rumah. Setelah membayar sesuai pesanan, aku kembali ke mobil.
"Mas, pedagang sate belajar matematikanya di mana ya? tanyaku pada suami begitu sampai di mobil.
Suamiku yang dari tadi setia menungguiku belanja malah balik nanya.
"Emang kenapa?"
"Aku nanya pedagang sate madura, satenya satu porsi tiga belas ribu, setengahnya sepuluh ribu. Bukankah seharusnya enam ribu lima ratus setengahnya, Mas? Trus, ini sate pariaman satu porsinya sepuluh ribu dan setengah enam ribu," jawabku senyum-senyum.
"Hmmm, itu namanya pembulatan ke atas. Udah, ah! Yang jelas bukan Mas gurunya," jawab suamiku yang memang guru matematika itu sambil terkekeh.
***
Sorkam, 23 Desember 2020
Kamis, 14 Oktober 2021
SURAT BUAT AYAH
Karya Salma
Pelajaran menulis surat di sekolah hari
ini membuat Ridwan benar-benar bersemangat. Sepulang sekolah, Ridwan ingin
segera menulis surat untuk ayahnya. Iya, surat untuk Ayah. Sesuai dengan tugas
yang diberikan Bu Leni tadi, menulis surat untuk orang terdekat. Bukankah ayah
Ridwan sudah lama tidak pulang? Ayah pergi merantau saat Ridwan kelas lima.
Sekarang Ridwan sudah kelas delapan. Berarti ayah Ridwan sudah tiga tahun
merantau. Namun, selama tiga tahun baru dua kali Ridwan dan ibunya menerima
kabar dari sang ayah. Pertama, saat ayahnya menyatakan sudah sampai di Jawa,
walaupun tidak dijelaskan daerah kecilnya. Kabar kedua sekitar enam bulan
setelah ayahnya berada di rantau, sekaligus mengirimkan uang untuk biaya hidup
Ridwan dan ibunya. Belakangan, Ridwan mengetahui Ayah menelepon Mak Tua
Halimah, kakaknya. Mak Tua Halimah mengatakan bahwa ayah Ridwan sudah mempunyai
usaha rumah makan sendiri, bahkan juga sudah punya beberapa orang karyawan di
Semarang. Ridwan dan ibunya sangat senang mendengar kabar baik itu. Tapi,
sayangnya ayah Ridwan tidak mengirim apa-apa untuk mereka.
Ridwan harus membantu ibunya sepulang
sekolah. Banyak pekerjaan yang tidak bisa Ibu selesaikan jika tidak dibantu
Ridwan. Maklum, mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ibu membuka warung di samping rumah. Sore hari warung itu ramai dikunjungi oleh
ibu-ibu yang membeli sayuran dan kebutuhan dapur lainnya. Itu sebabnya Ridwan
tidak punya waktu untuk bermain dengan teman-teman sebayanya.
Keinginan Ridwan menulis surat untuk
ayahnya diwujudkan sehabis magrib. Dalam benak Ridwan, banyak hal yang ingin ia
sampaikan dalam surat itu. Ia menulis surat itu pada buku latihannya sebagai
tugas sekolah yang diberikan Bu Leni.
“Buat
Ayah
Assalamualaikum wr wb.
Semoga Ayah tetap dalam lindungan Allah swt. dan selalu diberi kesehatan
serta rezeki yang melimpah. Begitu juga Ridwan dan Ibu di kampung. Aamiin!
Ridwan sangat merindukan Ayah. Sudah lama sekali rasanya Ridwan tidak
bertemu ayah. Ridwan sangat berharap kita bisa segera berkumpul lagi. Pernah
tiga kali Ridwan menghubungi nomor Ayah melalui telepon genggam Mak Tua
Halimah, tetapi nomor ayah selalu tidak aktif. Ingin rasanya Ridwan menyusul
Ayah ke Jawa ketika libur sekolah, tapi Ridwan belum siap. Ridwan belum punya
cukup uang untuk ongkos ke sana. Ridwan sedang berusaha menabung sekarang, Yah.
Nanti kalau tabungan Ridwan sudah cukup,
Ridwan akan menyusul Ayah ke rantau.
Oh, ya, Ayah...kalau Ridwan nanti lulus SMP, Ridwan ingin melanjutkan
sekolah ke SMK. Ridwan suka sekali bidang otomotif. Setamat SMK itu, Ridwan
akan bekerja agar Ibu tidak terlalu capek mencari uang lagi.
Cukup sekian dulu surat dari Ridwan. Jika ada kata-kata Ridwan yang
kurang berkenan di hati Ayah, Ridwan minta maaf.
Wassalam dari Ananda
Ridwan”
Demikian surat yang ditulis Ridwan. Setelah ia membaca surat itu kembali, air mata meleleh membasahi pipinya. Ada rasa yang berkecamuk di dadanya yang tidak ia mengerti. Isi surat itu pun sebenarnya belum mewakili apa yang ia rasakan. Masih banyak yang hendak ia sampaikan kepada ayahnya, namun ia tak mampu menulis lebih dari itu. Setelah menyalin surat itu pada selembar kertas, Ridwan melipat surat itu. Itulah yang hendak ia kirimkan kepada ayahnya.
Hari Minggu Ridwan menaiki sepedanya ke
rumah Mak Tua Halimah. Ridwan harus mengayuh sepeda selama setengah jam untuk
sampai ke sana. Ia ingin meminta alamat yang jelas agar surat yang ia kirim
bisa langsung sampai ke tangan ayahnya. Sesampai di sana, kakak perempuan
ayahnya itu memeluk Ridwan penuh haru. Bahkan Mak Tua Halimah berkali-kali
menahan linangan air matanya saat berbicara dengan Ridwan. Entah apa yang
membuat wanita paruh baya itu demikian.
“Biarlah Mak Tua yang mengirimkan surat
itu ke ayahmu,” kata Mak Tua Halimah dengan suara agak parau.
Dengan senang hati pula Ridwan memberikan
surat yang sudah beramplop itu kepada mak tuanya. Ridwan yakin jika Mak Tua yang
mengirim, surat itu tentu cepat sampai ke tangan ayahnya.
Tidak seperti kedatangannya dua bulan yang
lalu, Mak Tua tidak lagi menawarkan Ridwan untuk menelepon ayahnya. Sebelumnya
Mak Tua selalu menghubungi ayah Ridwan ketika Ridwan datang. Sayangnya, nomor
telepon yang dituju selalu tidak aktif. Hari ini Ridwan tidak lagi berharap
ajakan Mak Tua untuk menelepon ayahnya. Ia hanya berharap suratnya segera
sampai ke tangan sang ayah.
***
Tiga bulan berlalu, harapan demi harapan
dipupuk Ridwan dalam hatinya untuk mendapatkan surat balasan dari sang ayah.
Seiring dengan itu, kerinduan pada sang ayah pun seakan menggunung. Namun,
sepertinya hanya tinggal harapan. Tak ada kabar apa pun yang ia terima.
Beberapa kali Ridwan mencoba mencari tahu kepada Mak Tua Halimah tentang surat
yang ia kirim, selalu dijawab bahwa suratnya sudah dikirim dan pasti sampai
pada ayahnya. Sabar dan sabar, selalu itu yang disampaikan Mak Tua kepada
Ridwan. Hanya anehnya, Mak Tua selalu terlihat seperti orang menahan tangis. Ridwan
pun tidak punya keberanian untuk bertanya banyak pada mak tuanya itu.
Di
balik kerinduan Ridwan, ada kebohongan besar yang disimpan Mak Tua Halimah.
Bukan karena teganya Mak Tua Halimah, namun ada hal yang belum bisa
disampaikannya kepada Ridwan.
Nun di seberang sana, seorang laki-laki
sedang membaca sepucuk surat untuk kesekian kalinya dari balik jeruji besi.
Setiap kali ia membaca surat itu, air matanya bercucuran. Surat yang
diterimanya beberapa bulan yang lalu itu sudah terlihat lusuh. Surat yang tak
sanggup ia membalasnya. “Maafkan Ayah, Ridwan. Saat ini ayahmu ini belum bisa
membalas suratmu. Tunggulah Ayah keluar dari penjara! Ayah akan ceritakan semua
padamu. Tentang kerasnya hidup. Juga tentang keadilan yang bisa dibeli,”
gumamnya seraya melipat kembali surat itu.
****
Selasa, 12 Oktober 2021
Bros untuk Bu Lili
Karya Salma
Ratna masih menimang-nimang bros cantik dengan motif burung merak itu. Bros itu baru saja sampai ke tangannya setelah tiga hari yang lalu ia pesan melalui aplikasi belanja online. Cantik sekali, pikir Ratna. Ini sangat cocok untuk Bu Lili, guru bahasa Indonesia idolanya. Seminggu lagi Bu Lili ulang tahun. Ratna memikirkan bagaimana cara ia memberikan bros itu kepada Bu Lili nantinya. Bahkan Ratna juga berencana menulis sebuah puisi singkat untuk Bu Lili. Beberapa goresan pada kertas di depannya menunjukkan Ratna sedang mengarang sebuah puisi. Ia ingin puisi itu memberikan kesan yang mendalam bagi Bu Lili.
Ada
telaga di setiap kehadiranmu/ yang kutimba ‘tuk pelepas dahaga/ Ada purnama di
wajahmu/ yang menerangi jalanku dalam kelam/ Ada rindu menyeruak hati/ kala
bayangmu tiada. Selamat Ulang Tahun, Ibu.
Demikian yang ditulis Ratna dalam sebuah kertas kecil. Tulisannya indah dan
rapi. Di sudut kanan bawah kertas, Ratna mencantumkan namanya. Setelah itu,
Ratna memasukkan kertas itu ke dalam kotak kecil yang sudah berisi bros burung
merak. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Ratna membungkus kotak kecil itu dengan
kertas kado. Kado itu makin cantik setelah Ratna mengikatnya dengan sebuah pita
berwarna putih. Tak lupa ia tempelkan kata-kata “Happy Birthday, Bu Lili” di bagian atas kado itu.
“Kak, pinjam pensil warnanya, boleh?”
tiba-tiba suara Edo, adik Ratna terdengar dari balik pintu kamar.
Buru-buru Ratna menyimpan kado kecil itu
ke dalam tasnya. “Iya, masuk aja, Dik!” katanya sambil membukakan pintu.
Secepatnya Edo mengambil benda yang
dipinjamnya. Ratna bersyukur Edo tidak sempat melihat kado itu. Repot kalau Edo
tahu. Dia akan bercerita ke seisi rumah nanti. Atau Edo akan mengejek kakaknya
itu sok perhatian, cari muka, dan segala macam gelar ia sematkan seperti
kejadian saat Ratna memberi hadiah ulang tahun untuk wali kelasnya dua bulan
yang lalu.
***
“Nana, aku pinjam catatan IPA-mu, ya, catatanku belum lengkap,” kata Ezi pada Ratna yang sedang sibuk membahas tugas kelompok dengan Mita dan Ali.
“Kamu ambil di tasku aja, Zi,” balas
Ratna.
Ezi segera menuju meja Ratna dan membuka
tas Ratna. Pandangan Ezi tertuju pada sebuah kado kecil yang ada di sudut tas
Ratna. Ezi bukannya mencari catatan yang ia pinjam terlebih dahulu, melainkan meneliti
kado kecil itu. Dengan jelas ia membaca nama Bu Lili di sana. Ia kemudian
melihat kembali pada Ratna yang masih saja sibuk berdiskusi dengan teman
kelompoknya. Tanpa pikir panjang, Ezi segera menyembunyikan kado itu ke dalam
tasnya. Setelah itu, Ezi mengambil catatan IPA yang ingin ia pinjam. Tak lupa
Ezi menutup kembali tas Ratna dengan rapi, lalu berjalan ke bangkunya.
Ratna tak menyadari ada yang hilang dari
tasnya. Malam hari sebelum hari ulang tahun Bu Lili, Ratna sibuk mencari kado
kecil yang sudah ia persiapkan. Besok kado itu akan diberikannya kepada Bu Lili,
sebelum masuk ke kelasnya. Namun, Ratna tidak menemukan barang yang dicarinya
itu. Semua tempat yang biasa digunakan Ratna untuk menyimpan benda berharganya
sudah ia bongkar. Bahkan Ratna juga
memeriksa kamar Edo, mana tahu Edo mengambil kado itu.
“Sungguh, Kak, Edo tidak ngambil kado
itu! Jangankan ngambil, Melihat aja pun Edo belum pernah,” kata Edo meyakinkan
kakaknya saat didesak.
“Awas, ya, kalau kamu bohong, kakak gak akan
maafin kamu!” Ratna mencoba pura-pura mengancam adiknya.
“Terserah Kakak!” balas Edo kesal. Ia
kemudian bergegas keluar kamar. Ia merasa malas untuk menanggapi pertanyaan
kakaknya lagi.
Akhirnya Ratna memilih diam dan kembali ke kamarnya dengan perasaan
kecewa. Ia kemudian memilih menyelesaikan PR matematikanya walaupun perasaannya
tidak karuan.
Perasaan kecewa Ratna masih terbawa
hingga ke sekolah keesokan harinya. Hari di mana Bu Lili ulang tahun. Hari yang
sudah dibayangkan Ratna sebagai hari yang berkesan untuk dirinya dan Bu Lili.
Namun, semuanya hanya tinggal angan-angan saja. Aida, teman sebangku Ratna,
heran melihat sikap Ratna yang tidak seceria biasanya. Bahkan, sejak jam
pelajaran pertama hingga istirahat, Ratna lebih banyak diam. Dia pun tidak
bersemangat ketika diajak Aida ke kantin.
Pada jam pelajaran keempat, Bu Lili masuk
ke kelas Ratna. Ratna hanya menunduk. Perasaan kesal dan kecewa membaur menjadi
satu. Ratna tidak menyadari semenjak
masuk tadi, mata Bu Lili sudah tertuju padanya. Saat Bu Lili memulai
pembelajaran, barulah Ratna menegakkan kepalanya. Ia memandang ke depan mencoba
fokus dengan materi yang hendak diberikan Bu Lili. Akan tetapi, mata Ratna
justru tertuju pada bros cantik bermotif burung merak yang tersemat di jilbab
Bu Lili. Ratna tersentak. Ia mengerjapkan matanya berulang-ulang untuk
meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat. Tidak, ia tidak salah lihat. Bros
cantik itu persis seperti bros yang ia beli. Apakah mungkin Bu Ratna juga
membeli bros yang sama dengan yang dibeli Ratna? Atau sebenarnya Ratna sudah
memberikan kadonya pada Bu Ratna? Tetapi, kenapa Ratna tidak ingat? Banyak
pertanyaan yang memenuhi benak Ratna. Ia tak lagi mendengar dengan baik
penjelasan Bu Lili tentang perbedaan teks narasi dengan teks deskripsi. Pikirannya
terganggu oleh bros cantik itu, bahkan hingga jam pelajaran bahasa Indonesia
berakhir.
“Ratna, nanti sepulang sekolah, jumpai Ibu
di kantor, ya!” Tiba-tiba saja Bu Lili sudah berada di samping meja Ratna.
“Ba ... baik, Bu,” jawab Ratna gugup.
Dadanya berdebar tidak karuan. Apakah Bu Ratna tadi melihat dia yang tidak
fokus belajar ataukah ada yang lain? Ratna tidak bisa menebaknya.
“Bu Lili bilang apa?” tanya Ezi yang juga tiba-tiba datang setelah Bu
Lili keluar dari kelas.
Ratna tidak langsung menjawab pertanyaan
Ezi. Takut Ezi nanti akan mengarang cerita aneh-aneh lagi kepada teman-teman di
kelas seperti yang dilakukannya pada Libra. Waktu itu Libra diminta wali kelas mereka
datang ke ruang guru. Sebelum tahu apa yang disampaikan wali kelas kepada
Libra, Ezi sudah bercerita kepada seisi kelas bahwa Libra sudah memakai uang
kas kelas untuk keperluan pribadinya. Waktu itu, hampir semua warga kelas
menggerutu pada Libra karena merasa yakin apa yang disampaikan Ezi benar.
“Oh, Bu Lili menyuruhku mengambil buku
tugasku yang tertinggal di mejanya,” jawab Ratna berbohong. Dalam hatinya, Ratna menyesal telah berbohong
karena bukan sifatnya suka berbohong.
Ezi pun sepertinya puas dengan jawaban
Ratna. Itu sebabnya ia tidak lagi bertanya dan kembali ke bangkunya.
Setelah jam sekolah usai, Ratna bergegas
menuju ruang guru. Jantungnya berdegup kencang. Ia takut dimarahi atau ditanyai
tentang sesuatu yang ia tidak tahu. Begitu meminta izin pada beberapa guru yang
ada di ruangan itu, Ratna langsung menuju meja Bu Lili. Di sana terlihat Bu
Lili yang tersenyum cerah ke arah Ratna. Hal itu membuat Ratna semakin bingung.
“Kamu kehilangan sesuatu?” tanya Bu Lili
membuat Ratna kaget.
“Kok Ibu tahu?”
“Ini!” kata Bu Lili menunjukkan bros
burung merak yang tersemat pada hijabnya.
“Ibu dapat di mana?” Suara Ratna sedikit
kencang karena ia betul-betul kaget dengan kejadian itu. Ternyata kado yang ia
cari dari semalam, tercecer di sekolah ini, pikirnya.
“Kemarin Ezi memberi ibu kado ulang
tahun. Sampai di rumah, tak sabar Ibu buka kado itu, ternyata isinya bros
cantik ini. Ibu juga menemukan ada kertas kecil yang berisi puisi dan ucapan
selamat. Tapi, Ibu merasa heran karena tertulis nama kamu di sana. Nah, Ibu
berkesimpulan bahwa kado itu punya kamu,” jelas Bu Lili.
“Betul, Bu. Saya memang kehilangan kado
yang sudah saya persiapkan untuk Ibu. Tapi saya heran, kenapa bisa sampai ke
tangan Ezi?” kata Ratna masih bingung.
“Sudahlah! Yang penting, kado kamu sudah
sampai ke tangan ibu. Ibu ucapkan terima kasih atas kado dan puisinya, ya,”
kata guru yang bijak itu.
Senyum Ratna mengembang. Ia menyalami Bu
Lili dan memberikan ucapan selamat lagi untuk Bu Lili. Ratna mengerti sekarang
bagaimana kado itu sampai ke tangan Ezi setelah ia ingat bahwa Ezi pernah
meminjam buku catatan IPA yang langsung diambil dari tasnya. Bu Lili juga
berkata bahwa beliau akan melakukan pendekatan dengan Ezi agar Ezi dapat
mengubah perbuatan buruknya itu. Ezi mungkin bisa membohongi siapa saja, tetapi
Tuhan tidak tidur. Tuhan tahu semua yang dilakukan makhluk-Nya.
*****
Hujan Awal Januari
Oleh Salma Deras Bersama gemuruh Menggenang Menggiring berjubel sampah Deras Diiringi badai Gelisah Menyasar jalan-jalan berbatu Deras Membe...
-
Karya Salma “Yes! Tempatnya strategis!” gumam Leo setelah melihat tempat duduknya dalam ruang ujian semester yang akan dilaksanakan mulai h...
-
Karya Salma Hanif tergopoh-gopoh memasukkan gorengan yang sudah dibungkus ibunya ke dalam keranjang. Ia takut telat lagi hari ini. Apalagi j...
-
Karya Salma Hujan belum menunjukkan tanda akan berhenti sedangkan bel pulang sekolah sudah berbunyi semenjak sepuluh menit yang lalu. Bebera...