Karya Salma
“Yes!
Tempatnya strategis!” gumam Leo setelah melihat tempat duduknya dalam ruang
ujian semester yang akan dilaksanakan mulai hari Senin. Bangku yang akan
ditempati Leo tepat di sebelah dinding urutan ke tiga dari depan. Tempat itulah
yang menurut Leo strategis.
Seperti mendapatkan sebuah hadiah, Leo
bersenandung riang di kamarnya sepulang sekolah. Leo sangat yakin, ujian
semester ini dia akan mendapat nilai yang tinggi. Leo sekarang membuat janji
dengan Danni. Mereka akan main bola sore ini di lapangan.
“Leo, kamu mau ke mana?” tanya ibunya
begitu melihat Leo mengikatkan tali
sepatunya.
“Main bola sama Danni, Bu,” jawab Leo
mulai bangkit dan menuntun sepedanya ke halaman.
“Mainnya jangan kelamaan! Nanti kamu capek
dan tidak belajar malam. Ingat, hari Senin kamu ujian!” Ibu mengingatkan Leo
akan kewajibannya untuk belajar menjelang ujian. Bukan hanya untuk ujian,
setiap hari Ibu mengingatkan Leo agar selalu belajar, agar selalu mengerjakan
PR. Ibu tidak mau lagi mendengar laporan wali kelas Leo saat dia tidak
mengerjakan PR yang diberikan guru.
“Iya, Bu. Leo gak lama-lama mainnya!” Leo
kemudian menaiki sepedanya meninggalkan ibu yang geleng-geleng kepala.
Lima menit menjelang magrib, Leo kembali
ke rumah. Janjinya untuk tidak lama-lama ternyata hanya di mulut Leo saja. Ayah
menatap wajah Leo dengan kesal. Lagi-lagi Leo melanggar peraturan ayahnya. Ayah
mengajari agar sebelum magrib anggota di rumahnya sudah selesai mandi. Begitu
azan magrib, semua sudah siap-siap untuk menunaikan salat Magrib. Ayah tidak
mengeluarkan kata-katanya. Ia hanya menatap tajam Leo yang berdiri kaku di
samping sepedanya. Ia tak berani menatap manik mata ayah. Ia menyadari bahwa ia
salah. Setelah ayah berangkat ke masjid, barulah Leo beranjak dari tempat dia
mematung.
“Segera mandi, trus salat!” titah Ibu
kepada Leo.
Seperti kucing dibawakan lidi, Leo hanya
mampu mengangguk dan segera ke kamar mandi. Dalam hatinya ia menyadari bahwa Ayah
dan Ibu marah dengan sikapnya.
Sehabis makan malam, Leo kembali mendapat
nasihat dari ayah agar belajar untuk ujian ini. Ini adalah ujian kenaikan
kelas. Ayah dan Ibu tidak mau Leo tinggal kelas gara-gara malas belajar. Leo
bukanlah anak bodoh, namun jika malas belajar, sepandai apa pun orang belum
tentu dapat menjawab soal-soal ujiannya. Itu sebabnya Ayah dan Ibu selalu
mengingatkan Leo. Lagi-lagi Leo mengangguk untuk mengiyakan nasihat mereka.
Begitu sampai di kamar, Leo meraih handphone-nya
yang terletak di atas meja. Niat semula membuka buku, malah yang ia buka handphone. Apalagi ada pesan dari Danni
yang menanyakan sudah level berapa Leo memainkan game yang kemarin ditunjukkannya. Hampir setengah jam mereka
berdiskusi perkara game itu. Merasa
tertantang oleh Danni yang sudah sampai pada level tujuh, Leo memacunya malam
itu juga. Ia baru sampai pada level empat. Kalau bisa ia akan menyamai Danni.
Ia pun berusaha untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya.
“Leo, sebelum tidur, sepedanya disimpan
dulu!” Terdengar suara Ibu sambil mengetuk pintu kamar Leo.
“Ya, Bu,” balas Leo tanpa mengalihkan
pandangannya dari layar androidnya itu.
Sudah pukul sebelas malam, setelah rumah
terdengar sepi menandakan seisinya sudah tidur, saat itulah Leo memasukkan
sepedanya ke dalam rumah. Setelah itu,
ia melanjutkan membuka game itu lagi sampai dia tidak menyadari matanya
terlelap.
***
Pagi ini cuaca lumayan cerah. Siswa datang
ke sekolah lebih awal. Sepertinya mereka takut telat karena hari ini adalah
hari pertama ujian akhir semester genap. Taman sekolah pun terlihat sepi, tidak
seperti biasanya. Begitu sampai di sekolah anak-anak langsung menuju ruang
ujiannya masing-masing. Sebagian mereka terlihat sibuk membuka buku seraya
menunggu waktu ujian dimulai. Ada juga beberapa siswa yang asyik bercengkrama
di teras kelas.
Sesampai di kelas, Leo memasukkan sesuatu
ke laci mejanya setelah ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Tak ada yang
mengetahui apa yang sedang Leo simpan di dalam laci mejanya. Kemudian Leo ikut
bergabung dengan Danni dan teman-temannya yang duduk-duduk di teras.
Setelah
bel berbunyi, seluruh siswa mulai berbaris di depan ruangan ujian. Mereka akan
melihat dan menerka-nerka guru yang akan mengawas di ruangannya masing-masing.
Banyak juga yang merasa pengawas ujian berpengaruh terhadap ujian mereka
seperti halnya Leo dan Danni.
Leo menelan ludah cemas ketika yang masuk sebagai
pengawas di ruangannya adalah Pak Bara. Pak Bara sangat terkenal dengan
disiplinnya. Beliau selalu mengawasi ujian dengan ketat. Benar saja, sebelum
duduk di kursi masing-masing, Pak Bara menginstruksikan agar semua tas siswa
ditaruh di depan kelas. Yang boleh dibawa ke tempat duduk hanya pulpen dan
kartu ujian. Pak Bara juga mengingatkan agar tidak ada yang mencoba untuk
curang dalam ujian.
Begitu membaca soal, Leo terlihat
gelisah. Soal nomor satu dan dua dari mata pelajaran IPA itu sudah membuat dia
pucat. Yang ditanya tentang besarnya resultan dan arah gaya. Walaupun soalnya
pilihan ganda, namun Leo tidak bisa menentukan mana jawaban yang tepat. Ia
lewati soal tersebut, beralih ke soal berikutnya. Ternyata lagi-lagi membuat
keningnya berkerut. Bagaimana tidak, jika pertanyaan yang tertera di sana
adalah menghitung cepat rambat gelombang, mengukur kedalaman laut, dan hukum
pemantulan cahaya. Bukankah itu ada rumusnya? Leo tidak ingat sama sekali rumus
untuk mencarinya.
Tangan Leo berkeringat. Belum apa-apa, ia
sudah mengelap tangannya ke celananya. Diliriknya Lala yang duduk di depannya,
Lala tenang-tenang saja. Sekilas ia coba mengedarkan pandangan ke seluruh
kelas, sepertinya teman-temannya mengerjakan soal itu tanpa hambatan. Malahan
mereka sibuk menulis di kertas buram yang sengaja dibagikan untuk menghitung.
Badan Leo mulai panas dingin. Lembar jawabannya masih kosong. Kemudian, dengan
sudut matanya, Leo melirik Pak Bara. Ternyata Pak Bara sedang sibuk membuka
laptopnya. Kesempatan itu tidak disia-siakan Leo. Ia mengeluarkan benda pipih
yang tadi disimpannya di laci meja. Dengan mata waspada, ia mulai berselancar
dengan benda pipih itu sehingga ia dapat menjawab tiga soal sekaligus.
Leo segera menyimpan benda pipih itu lagi
di laci, begitu dilihatnya Pak Bara berdiri. Ia pura-pura membaca soal dan
mencoret-coret kertas buram. Sedangkan sudut matanya tetap mengintai
gerak-gerik Pak Bara. Setelah Pak Bara kembali fokus pada laptopnya, Leo
kembali melanjutkan aksinya. Kali ini, Leo tidak bisa membagi perhatiannya. Apa
yang dicarinya belum ia temukan jawabannya di benda pipih itu. Dicobanya lagi
untuk lebih fokus, barulah Leo mendapatkan dua jawaban lagi. Tanpa disadari
Leo, ada sepasang mata yang sedang mengamati aktivitasnya saat itu.
“Sini, Bapak bantu!” Sebuah suara setengah
berbisik tepat di samping telinga Leo disertai sebuah tangan meraih benda pipih
ajaib itu dari tangan Leo.
Seperti petir di siang bolong
menyentakkan kesadaran Leo. Matanya tak sanggup melihat wajah Pak Bara . Ia
hanya mampu tertunduk. Lagi-lagi keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Pak
Bara mengambil lembar jawaban Leo. Sejenak Pak Bara menimang-nimang kertas
jawaban itu. Setelah itu, Pak Bara mengembalikannya pada Leo.
Masih untung Leo disuruh melanjutkan
ujian IPA itu lagi. Kalau tidak, tentu nilai IPA Leo akan gagal. Akan tetapi, kali ini Leo hanya mampu
mereka-reka jawaban soal demi soal yang tersisa. Perasaan tidak nyaman pun
mulai menggerogoti hati Leo. Ia mengerjakan soal itu dengan dada berdebar-debar
dan was-was.
“Leo, temui saya di kantor nanti sehabis
ujian!” ujar Pak Bara saat menerima lembar jawaban dari Leo.
Leo hanya mampu mengangguk dengan wajah
pucat. Tatapan tajam Pak Bara membuat tangan dan kakinya gemetar. Tak dapat ia
bayangkan lagi seandainya Pak Bara melaporkan perbuatannya kepada wali kelas,
guru IPA, dan guru BK. Leo juga tidak berani meminta handphone-nya kepada Pak Bara.
“Oo... oo ... kamu ketahuan ...!” Lala
dan Agnes, teman sekelas Leo, serentak menirukan potongan
dari lagu Matta Band itu.
“Menyontek lagi ... hi ... hi ...,”
lanjut Marta diiringi gelak tawa temannya yang lain.
Leo sempat menatap tajam pada Marta. Selama ini memang Leo sering membujuk Marta agar memberikan contekan PR. Namun, saat ini Leo tak
mampu berkata-kata, kecuali berjalan menuju ruangan guru.
Begitu sampai di ruang guru, ternyata Leo
mendapati Pak Bara sedang berbicara dengan Pak Hendra, wali kelasnya. Sudah
barang tentu Pak Bara melaporkan perbuatan buruk Leo saat ujian tadi. Terlihat
wajah Pak Hendra menahan emosi saat menerima handphone sitaan milik Leo dari Pak Bara. Sorotan tajam mata Pak
Hendra membuat keringat dingin Leo kembali muncul. Belum lagi hardikan dan pertanyaan
Pak Hendra yang sinis kepadanya. Leo pun menangis menerima kenyataan ini.
Akhirnya, setelah mendapat nasihat dari
Pak Hendra dan Pak Bara, Leo meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi
perbuatan buruknya itu. Walaupun begitu, tetap saja Leo membawa surat panggilan
untuk orang tuanya agar datang ke sekolah. Untuk sementara, handphone milik Leo tetap ditahan oleh
Pak Hendra. Beliau akan memberikan langsung pada orang tua Leo besok.
Dengan tangan gemetar, Leo memberikan
surat panggilan dari sekolah kepada ibunya. Ibu mengernyitkan keningnya begitu
menerima surat tersebut. Setelah membaca surat tersebut, Ibu mengerti apa yang
telah terjadi dengan Leo. Maka lagi-lagi Leo harus menerima kata-kata pedas, kali
ini dari ibunya. Bahkan, ia juga harus menahan rasa sakit di telinganya akibat
jeweran Ibu. Sudah dapat dibayangkan bagaimana pula nanti tanggapan ayahnya
setelah pulang bekerja. Lagi-lagi Leo menangis. Ia sangat menyesal. Dalam hati,
Leo sudah bertekad tidak akan menyontek lagi. Mulai saat itu ia pastikan
dirinya akan belajar sungguh-sungguh.
*****
Wah...Leo kena batunya...semoga tidak diulang lagi... terima kasih sudah berbagi cerpen indah...salam hormat 🙏
BalasHapusTerima kasih juga sudah mengunjungi blog saya 🙏
BalasHapusSalam literasi