Minggu, 03 Oktober 2021

Suara Aneh di Kebun Tebu

 Karya Salma


Libur semester ini adalah libur paling menyenangkan bagi empat cucu laki-laki Nenek Asma. Bagaimana tidak, Pada liburan kali ini mereka bisa berkumpul di rumah nenek. Orang tua mereka masing-masing sudah sepakat untuk pulang kampung saat libur. Mereka tinggal di kota yang berbeda. Biasanya selalu ada halangan untuk mereka bisa berkumpul secara bersamaan.

Keempat cucu laki-laki Nenek Asma ini usianya tidak jauh berbeda satu sama lain sehingga pengalaman dan permainan yang mereka sukai pun tidak jauh berbeda. Sekali berkumpul, terlihat sekali rasa bahagia di wajah mereka. Masing-masing berbagi pengalaman tentang teman dan sekolahnya. Bahkan terdengar juga kelakar mereka saat menceritakan guru-guru humoris di sekolah masing-masing. Orang tua mereka dan Nenek Asma juga ikut tertawa mendengarkan kelakar itu.

Ketika ayah Dika mengajak Dika, Mikka, Hanif, dan Syauqi berenang, serentak mereka menolak. Masing-masing beralasan bahwa berenang itu sudah biasa bagi mereka. Tidak ada yang menarik. Justru mereka sudah punya rencana tersendiri tanpa melibatkan orang tua mereka.

“Kami mau ke puncak Bukit Bulat, Om,” kata Syauqi mempertegas penjelasan Dika yang sudah menolak ajakan ayahnya terlebih dahulu.

“Wah, seru juga! Ayo, kita ke sana!” Bunda Syauqi tertarik untuk ikut.

“Aduuh ... Bunda gak usah ikut! Ini khusus kami berempat,” sergah Syauqi pada bundanya.

“O, khusus anak muda, he ... he ...! Baiklah kalau begitu.” Mama Hanif ikut berkomentar.

“Iya, ini acara kami. Mama gak boleh ikut!” tegas Hanif lagi.

Seketika rumah jadi ramai oleh perdebatan kecil yang sengaja dibuat oleh orang tua mereka. Dika sebagai anak laki-laki yang paling besar di antara mereka, bersungut-sungut. Ia merasa tidak dipercaya bisa menjaga diri dan saudara-saudara sepupunya oleh orang dewasa yang ada di rumah itu. Begitu juga Mikka, Hanif, dan Syauqi. Namun, tak beberapa lama senyum mereka kembali mengembang ketika mereka menyadari orang tua mereka hanya bercanda.

Sudah hampir setengah jam Dika, Mikka, Syauki, dan Hanif menelusuri jalan menuju puncak Bukit Bulat. Pemandangan lepas yang sangat menakjubkan di sebelah kiri jalan, membuat mereka tak merasakan lelah. Sepanjang perjalanan, mereka asyik bercengkerama sambil menikmati indahnya pemandangan  ciptaan Sang Khalik. Beberapa kali Mikka membidikkan kameranya pada titik-titik yang menakjubkan. Memang Mikka punya hobi fotografi. Sementara Dika, Hanif dan Syauqi lebih suka menjadi objek gambar yang diambil Mikka.

Tak terasa, Dika, Mikka, Hanif, dan Syauqi sudah berada di area perkebunan tebu. Lereng bukit dipenuhi oleh tanaman tebu. Di lereng bukit sebelah kiri dapat terlihat dengan jelas hamparan kebun tebu yang begitu luas. Ada beberapa pondok yang di sampingnya terlihat kepulan asap. Sepertinya petani tebu sedang membakar sampah-sampah tebu mereka. Lagi-lagi Mikka membidik pemandangan langka itu dengan kameranya. Tak lupa ia mengambil foto Dika, Hanif dan Syauqi dengan latar kebun tebu tersebut. Sedangkan di sisi kanan jalan, mereka hanya dapat melihat batang-batang tebu yang berjejer tanpa tahu seberapa luas kebun tersebut karena posisinya berada pada ketinggian.

Di tengah keasyikannya mengambil foto, tanpa sengaja Mikka mendengar suara aneh. Awalnya ia mengabaikan pendengarannya. Tetapi lama-kelamaan suara itu makin keras.

“Hei, kalian dengar suara itu?” tanya Mikka. Jari telunjuknya kemudian ia tempelkan ke bibirnya sebagai isyarat agar Dika, Hanif, dan Sayuqi berhenti mengoceh.  

Mata Hanif membelalak, sedangkan Syauqi merapatkan tubuhnya ke arah Mikka. “Betul, ada suara aneh,” bisik Hanif.

“Ini kan dekat hutan, barangkali itu suara hewan yang ada di hutan itu,” ungkap Dika.

“Mana ada suara hewan seperti itu! Bukannya itu seperti suara pintu rumah nenek yang dibuka berulang-ulang?” sanggah Hanif lagi. Ia ingat suara pintu rumah nenek ketika dibuka atau ditutup selalu mengeluarkan suara.

“Iya, betul! Aku pun merasa seperti itu. Tapi ini kan kebun tebu. Kita dari tadi tidak melihat rumah satu pun. Kalau pun ada rumah di dalam kebun itu, tak mungkin orang membuka pintu berulang-ulang begitu. Kurang kerjaan kali tuh orang!” Mikka mencoba mengemukakan penalarannya.

Keempatnya mencoba melanjutkan perjalanan mereka. Sedikit lagi mereka akan sampai pada puncak bukit. Akan tetapi, suara aneh itu belum juga hilang. Bahkan seakan-akan suara itu mengikuti mereka.

Tergerak oleh rasa ingin tahu, mereka berbelok ke arah kanan, menuju jalan kecil yang membelah kebun tebu. Jalan itu terlihat bersih. Sepertinya jalan itu digunakan petani tebu untuk mengangkut hasil panennya. Suara aneh itu belum berhenti. Keempat anak laki-laki itu berhenti berjalan untuk memastikan asal suara aneh tersebut. Namun, mereka dikagetkan oleh sosok aneh yang berada tidak jauh dari posisi mereka berdiri. Pakaian yang digunakan orang itu tidak seperti petani biasa. Mantel panjang lengkap dengan topi dan sepatu bot. Tak ada yang berani berbicara. Hanya pandangan masing-masing yang mengisyaratkan banyak tanda tanya dan rasa takut di wajah mereka. Mereka juga segera menarik langkah masuk ke kebun, bersembunyi di balik batang-batang tebu.

“Jangan-jangan, itu maling tebu!” bisik Hanif.

“Iya mungkin. Lihat pakaiannya, sengaja ia tutup seluruh badannya agar tidak dikenali orang,” balas Dika. Sementara Mikka sibuk membidikkan kameranya ke arah objek yang menjadi pusat perhatian mereka.

“Jangan difoto! Nanti kamu ketahuan, bahaya!” cegah Dika.

Mikka terus saja melanjutkan aksinya. Baginya ini objek yang sangat langka. Tidak semua orang dapat merekam maling. Bahkan Mikka dapat mengambil foto saat sosok aneh itu memasukkan beberapa batang tebu ke dalam gerobaknya. Kekhawatiran Dika, Syauqi, dan Hanif tidak dipedulikannya.

“Au! Pipiku luka, perih!” Syauqi setengah menjerit setelah mengusap pipinya yang terasa perih. Ada jejak darah tipis di telapak tangannya.

“Kamu kenapa?” tanya Dika sambil mendekati Syauqi.

“Ini, Bang, pipiku tergores daun tebu,” jawab Syauqi dengan gaya sedikit manja.

“Alaah, hanya sedikit, cengeng kali!” celetuk Hanif sedikit jengkel.

“Cobalah gores pipimu dengan daun tebu itu, biar kamu rasa perihnya gimana!” balas Syauqi sengit.

Pertengkaran kecil pun terjadi seketika. Mereka lupa sedang berada di mana. Bahkan tujuan mereka semula untuk mencari sumber suara aneh tadi pun jadi terlupakan.

“Hei! Siapa kalian?” Tiba-tiba orang aneh yang berpakaian serba tertutup tadi sudah berada di samping empat bersaudara itu.

Bentakan orang aneh tersebut membuat keempatnya menjadi gugup. Orang itu tetap memakai maskernya, sehingga mereka tidak dapat mengenali wajahnya. Mata Syauqi mulai berkaca-kaca menahan rasa perih, kesal, dan takut. Sedangkan Hanif hanya mampu menunduk.

“Mm ... ka ... kami mau ke puncak bukit, Pak!” jawab Dika memberanikan diri.

“Mau ke puncak bukit, kenapa sampai di kebun ini? Jangan-jangan kalian mau ngambil tebu, ya?” tebak orang aneh itu.

“Tidak, Pak! Kami ke sini karena tadi mendengar suara aneh dari kebun ini. Kami ingin tahu, suara apa itu,” jelas Mikka sambil membenarkan tutup kameranya.

“Kalian dari mana?” selidik orang bermantel itu.

“Rumah nenek kami di bawah sana,” ucap Dika. Ia memutar kepalanya seakan mencari arah letak rumah nenek mereka. Tangannya pun menunjuk arah yang tak jelas.

“Kalian cucu Bu Asma?” tebak orang aneh itu.

“Iyaa!” jawab mereka hampir serentak.

Hanif dan Syauqi terlihat mulai tenang. Rasa takut sudah hilang pada diri mereka, berganti kembali dengan rasa penasaran. Sementara orang aneh itu pun tetap tidak membuka masker atau topi yang ia kenakan. Herannya, orang aneh itu mengenal Nenek Asma.

“Ayo, ikut saya!” ajak orang aneh itu kemudian. Ia pun berjalan mendahului keempat anak itu.

Walaupun dengan perasaan tak menentu, keempat bersaudara itu tetap mengikuti langkah orang aneh tadi. Setelah beberapa meter, mereka melewati turunan. Dari sana terlihat ada asap tipis yang berasal dari atap sebuah pondok. Lagi-lagi suara aneh yang semula mereka dengar, sekarang makin nyaring di telinga. Namun, ada aroma wangi yang menyusupi hidung mereka.

Akhirnya rombongan kecil itu berhenti di sebuah pondok. Pemandangan yang terpampang di depan mata, menjawab pertanyaan yang sejak tadi tersimpan di benak mereka masing-masing.

“Ternyata kalian cucunya almarhum Ustaz Muslim, ya? Beliau adalah guru mengaji saya dulu,” ujar Pak Kumis, pemilik kebun tebu itu setelah laki-laki yang bermantel tadi menjelaskan kedatangan mereka.

Laki-laki yang terlihat aneh tadi ternyata adalah pekerja kebun yang digaji oleh Pak Kumis. Nama beliau Pak Yo. Ternyata pakaian serba tertutup yang ia gunakan bertujuan untuk melindungi kulitnya dari goresan daun tebu yang tajam serta bulu-bulu halus pada daun yang bisa juga menimbulkan rasa gatal.  

Tebu yang sudah dipanen Pak Yo diolah di kilangan tebu milik Pak Kumis. Pak Kumis masih menggunakan cara tradisional dalam mengolah tebu untuk dijadikan gula merah. Kata Pak Kumis, ia tetap akan mempertahankan cara tersebut untuk menjaga warisan orang tuanyaTebu digiling dengan alat yang terbuat dari dua batang besi bulat yang bergigi. Besi itu akan berputar dengan arah yang berlawanan untuk menggiling tebu. Untuk menggerakkannya digunakan  tenaga kerbau yang bergerak membentuk lingkaran. Uniknya, mata kerbau ditutup dengan tempurung kelapa yang dirancang seperti kaca mata. Kata Pak Kumis, mata kerbau sengaja ditutup agar kerbaunya tidak berhenti bergerak. Ketika kerbau mulai bergerak, maka kilang tebu itu mengeluarkan suara khas. Suara itulah yang sejak tadi mereka dengar.

Sekitar lima meter dari kilang tersebut, terlihat ada dua tungku. Di sana ada istri Pak Kumis yang sedang memasak air tebu untuk dijadikan gula merah. Dekat  tungku itu juga sudah tersedia cetakan gula merah yang terbuat dari batok kelapa.

Ternyata, proses pembuatan gula tebu itu telah menarik perhatian Dika, Mikka, Hanif, dan Syauqi. Mereka memperhatikan dengan saksama semua proses yang dikerjakan Pak Kumis berserta istri beliau. Dengan senang hati Pak Kumis juga memberi penjelasan saat mereka menanyakan sesuatu. Mikka tentunya tidak lupa merekam kegiatan di kilang Pak Kumis tersebut dengan kameranya.

Begitu keempatnya pamit hendak melanjutkan perjalanan ke puncak bukit, Pak Kumis memberikan gula dan empat batang tebu kepada mereka.

“Bawa ini pulang buat oleh-oleh. Sampaikan salam Bapak pada nenek dan orang tua kalian,” kata Pak Kumis dengan ramahnya.

Sebenarnya mereka malu untuk menerima pemberian itu, tetapi Pak Kumis dan istrinya memaksa agar anak-anak itu tidak menolak pemberian mereka. Tentunya mereka sangat berterima kasih karena perjalanan mereka hari ini menjadi sangat berharga. Sesuatu yang selama ini tidak mereka ketahui, mereka dapatkan di kebun tebu Pak Kumis.

*****


2 komentar:

  1. Keren ceritanya, bisa ditulis bersambung, nanti bisa jadi naskah buku

    BalasHapus
  2. Terima kasih Pak Syaihu. Semoga Allah memudahkan.

    BalasHapus

Hujan Awal Januari

Oleh Salma Deras Bersama gemuruh Menggenang Menggiring berjubel sampah Deras Diiringi badai Gelisah Menyasar jalan-jalan berbatu Deras Membe...