Karya Salma
Libur
semester ini adalah libur paling menyenangkan bagi empat cucu laki-laki Nenek Asma.
Bagaimana tidak, Pada liburan kali ini mereka bisa berkumpul di rumah nenek. Orang
tua mereka masing-masing sudah sepakat untuk pulang kampung saat libur. Mereka
tinggal di kota yang berbeda. Biasanya selalu ada halangan untuk mereka bisa
berkumpul secara bersamaan.
Keempat cucu laki-laki Nenek Asma ini
usianya tidak jauh berbeda satu sama lain sehingga pengalaman dan permainan
yang mereka sukai pun tidak jauh berbeda. Sekali berkumpul, terlihat sekali
rasa bahagia di wajah mereka. Masing-masing berbagi pengalaman tentang teman
dan sekolahnya. Bahkan terdengar juga kelakar mereka saat menceritakan
guru-guru humoris di sekolah masing-masing. Orang tua mereka dan Nenek Asma juga
ikut tertawa mendengarkan kelakar itu.
Ketika ayah Dika mengajak Dika, Mikka,
Hanif, dan Syauqi berenang, serentak mereka menolak. Masing-masing beralasan
bahwa berenang itu sudah biasa bagi mereka. Tidak ada yang menarik. Justru
mereka sudah punya rencana tersendiri tanpa melibatkan orang tua mereka.
“Kami mau ke puncak Bukit Bulat, Om,”
kata Syauqi mempertegas penjelasan Dika yang sudah menolak ajakan ayahnya
terlebih dahulu.
“Wah, seru juga! Ayo, kita ke sana!”
Bunda Syauqi tertarik untuk ikut.
“Aduuh ... Bunda gak usah ikut! Ini
khusus kami berempat,” sergah Syauqi pada bundanya.
“O, khusus anak muda, he ... he ...!
Baiklah kalau begitu.” Mama Hanif ikut berkomentar.
“Iya, ini acara kami. Mama gak boleh ikut!”
tegas Hanif lagi.
Seketika rumah jadi ramai oleh perdebatan
kecil yang sengaja dibuat oleh orang tua mereka. Dika sebagai anak laki-laki
yang paling besar di antara mereka, bersungut-sungut. Ia merasa tidak dipercaya
bisa menjaga diri dan saudara-saudara sepupunya oleh orang dewasa yang ada di
rumah itu. Begitu juga Mikka, Hanif, dan Syauqi. Namun, tak beberapa lama
senyum mereka kembali mengembang ketika mereka menyadari orang tua mereka hanya
bercanda.
Sudah hampir setengah jam Dika, Mikka,
Syauki, dan Hanif menelusuri jalan menuju puncak Bukit Bulat. Pemandangan lepas
yang sangat menakjubkan di sebelah kiri jalan, membuat mereka tak merasakan
lelah. Sepanjang perjalanan, mereka asyik bercengkerama sambil menikmati
indahnya pemandangan ciptaan Sang
Khalik. Beberapa kali Mikka membidikkan kameranya pada titik-titik yang
menakjubkan. Memang Mikka punya hobi fotografi. Sementara Dika, Hanif dan
Syauqi lebih suka menjadi objek gambar yang diambil Mikka.
Tak terasa, Dika, Mikka, Hanif, dan
Syauqi sudah berada di area perkebunan tebu. Lereng bukit dipenuhi oleh tanaman
tebu. Di lereng
bukit sebelah kiri dapat terlihat dengan jelas hamparan kebun tebu yang begitu luas.
Ada beberapa pondok yang di sampingnya terlihat kepulan asap. Sepertinya petani
tebu sedang membakar sampah-sampah tebu mereka. Lagi-lagi Mikka membidik
pemandangan langka itu dengan kameranya. Tak lupa ia mengambil foto Dika, Hanif
dan Syauqi dengan latar kebun tebu tersebut. Sedangkan di sisi kanan jalan,
mereka hanya dapat melihat batang-batang tebu yang berjejer tanpa tahu seberapa
luas kebun tersebut karena posisinya berada pada ketinggian.
Di tengah keasyikannya mengambil foto, tanpa
sengaja Mikka mendengar suara aneh. Awalnya ia mengabaikan pendengarannya.
Tetapi lama-kelamaan suara itu makin keras.
“Hei, kalian dengar suara itu?” tanya
Mikka. Jari telunjuknya kemudian ia tempelkan ke bibirnya sebagai isyarat agar Dika,
Hanif, dan Sayuqi berhenti mengoceh.
Mata Hanif membelalak, sedangkan Syauqi
merapatkan tubuhnya ke arah Mikka. “Betul, ada suara aneh,” bisik Hanif.
“Ini kan dekat hutan, barangkali itu
suara hewan yang ada di hutan itu,” ungkap Dika.
“Mana ada suara hewan seperti itu!
Bukannya itu seperti suara pintu rumah nenek yang dibuka berulang-ulang?”
sanggah Hanif lagi. Ia ingat suara pintu rumah nenek ketika dibuka atau ditutup
selalu mengeluarkan suara.
“Iya, betul! Aku pun merasa seperti itu.
Tapi ini kan kebun tebu. Kita dari tadi tidak melihat rumah satu pun. Kalau pun
ada rumah di dalam kebun itu, tak mungkin orang membuka pintu berulang-ulang
begitu. Kurang kerjaan kali tuh orang!” Mikka mencoba mengemukakan
penalarannya.
Keempatnya mencoba melanjutkan perjalanan
mereka. Sedikit lagi mereka akan sampai pada puncak bukit. Akan tetapi, suara
aneh itu belum juga hilang. Bahkan seakan-akan suara itu mengikuti mereka.
Tergerak oleh rasa ingin tahu, mereka
berbelok ke arah kanan, menuju jalan kecil yang membelah kebun tebu. Jalan itu
terlihat bersih. Sepertinya jalan itu digunakan petani tebu untuk mengangkut
hasil panennya. Suara aneh itu belum berhenti. Keempat anak laki-laki itu
berhenti berjalan untuk memastikan asal suara aneh tersebut. Namun, mereka
dikagetkan oleh sosok aneh yang berada tidak jauh dari posisi mereka berdiri.
Pakaian yang digunakan orang itu tidak seperti petani biasa. Mantel panjang
lengkap dengan topi dan sepatu bot. Tak ada yang berani berbicara. Hanya
pandangan masing-masing yang mengisyaratkan banyak tanda tanya dan rasa takut
di wajah mereka. Mereka juga segera menarik langkah masuk ke kebun, bersembunyi
di balik batang-batang tebu.
“Jangan-jangan, itu maling tebu!” bisik
Hanif.
“Iya mungkin. Lihat pakaiannya, sengaja
ia tutup seluruh badannya agar tidak dikenali orang,” balas Dika. Sementara
Mikka sibuk membidikkan kameranya ke arah objek yang menjadi pusat perhatian
mereka.
“Jangan difoto! Nanti kamu ketahuan,
bahaya!” cegah Dika.
Mikka terus saja melanjutkan aksinya.
Baginya ini objek yang sangat langka. Tidak semua orang dapat merekam maling.
Bahkan Mikka dapat mengambil foto saat sosok aneh itu memasukkan beberapa
batang tebu ke dalam gerobaknya. Kekhawatiran Dika, Syauqi, dan Hanif tidak
dipedulikannya.
“Au! Pipiku luka, perih!” Syauqi setengah
menjerit setelah mengusap pipinya yang terasa perih. Ada jejak darah tipis di
telapak tangannya.
“Kamu kenapa?” tanya Dika sambil
mendekati Syauqi.
“Ini, Bang, pipiku tergores daun tebu,”
jawab Syauqi dengan gaya sedikit manja.
“Alaah, hanya sedikit, cengeng kali!”
celetuk Hanif sedikit jengkel.
“Cobalah gores pipimu dengan daun tebu
itu, biar kamu rasa perihnya gimana!” balas Syauqi sengit.
Pertengkaran kecil pun terjadi seketika.
Mereka lupa sedang berada di mana. Bahkan tujuan mereka semula untuk mencari
sumber suara aneh tadi pun jadi terlupakan.
“Hei! Siapa kalian?” Tiba-tiba orang aneh
yang berpakaian serba tertutup tadi sudah berada di samping empat bersaudara
itu.
Bentakan orang aneh tersebut membuat
keempatnya menjadi gugup. Orang itu tetap memakai maskernya, sehingga mereka
tidak dapat mengenali wajahnya. Mata Syauqi mulai berkaca-kaca menahan rasa
perih, kesal, dan takut. Sedangkan Hanif hanya mampu menunduk.
“Mm ... ka ... kami mau ke puncak bukit,
Pak!” jawab Dika memberanikan diri.
“Mau ke puncak bukit, kenapa sampai di
kebun ini? Jangan-jangan kalian mau ngambil tebu, ya?” tebak orang aneh itu.
“Tidak, Pak! Kami ke sini karena tadi
mendengar suara aneh dari kebun ini. Kami ingin tahu, suara apa itu,” jelas
Mikka sambil membenarkan tutup kameranya.
“Kalian dari mana?” selidik orang
bermantel itu.
“Rumah nenek kami di bawah sana,” ucap
Dika. Ia memutar kepalanya seakan mencari arah letak rumah nenek mereka.
Tangannya pun menunjuk arah yang tak jelas.
“Kalian cucu Bu Asma?” tebak orang aneh
itu.
“Iyaa!” jawab mereka hampir serentak.
Hanif dan Syauqi terlihat mulai tenang.
Rasa takut sudah hilang pada diri mereka, berganti kembali dengan rasa
penasaran. Sementara orang aneh itu pun tetap tidak membuka masker atau topi
yang ia kenakan. Herannya, orang aneh itu mengenal Nenek Asma.
“Ayo, ikut saya!” ajak orang aneh itu
kemudian. Ia pun berjalan mendahului keempat anak itu.
Walaupun dengan perasaan tak menentu,
keempat bersaudara itu tetap mengikuti langkah orang aneh tadi. Setelah
beberapa meter, mereka melewati turunan. Dari sana terlihat ada asap tipis yang
berasal dari atap sebuah pondok. Lagi-lagi suara aneh yang semula mereka
dengar, sekarang makin nyaring di telinga. Namun, ada aroma wangi yang
menyusupi hidung mereka.
Akhirnya rombongan kecil itu berhenti di
sebuah pondok. Pemandangan yang terpampang di depan mata, menjawab pertanyaan
yang sejak tadi tersimpan di benak mereka masing-masing.
“Ternyata kalian cucunya almarhum Ustaz
Muslim, ya? Beliau adalah guru mengaji saya dulu,” ujar Pak Kumis, pemilik
kebun tebu itu setelah laki-laki yang bermantel tadi menjelaskan kedatangan
mereka.
Laki-laki yang terlihat aneh tadi ternyata
adalah pekerja kebun yang digaji oleh Pak Kumis. Nama beliau Pak Yo. Ternyata
pakaian serba tertutup yang ia gunakan bertujuan untuk melindungi kulitnya dari
goresan daun tebu yang tajam serta bulu-bulu halus pada daun yang bisa juga
menimbulkan rasa gatal.
Tebu yang sudah dipanen Pak Yo diolah di
kilangan tebu milik Pak Kumis. Pak Kumis masih menggunakan cara tradisional dalam
mengolah tebu untuk dijadikan gula merah. Kata Pak Kumis, ia tetap akan mempertahankan
cara tersebut untuk menjaga warisan orang tuanyaTebu digiling dengan alat yang
terbuat dari dua batang besi bulat yang bergigi. Besi itu akan berputar dengan arah yang berlawanan
untuk menggiling tebu. Untuk menggerakkannya digunakan tenaga kerbau yang bergerak membentuk
lingkaran. Uniknya, mata kerbau ditutup dengan tempurung kelapa yang dirancang seperti
kaca mata. Kata Pak Kumis, mata kerbau sengaja ditutup agar kerbaunya tidak
berhenti bergerak. Ketika kerbau mulai bergerak, maka kilang tebu itu
mengeluarkan suara khas. Suara itulah yang sejak tadi mereka dengar.
Sekitar lima meter dari kilang tersebut,
terlihat ada dua tungku. Di sana ada istri Pak Kumis yang sedang memasak air
tebu untuk dijadikan gula merah. Dekat tungku itu juga sudah tersedia cetakan gula
merah yang terbuat dari batok kelapa.
Ternyata, proses pembuatan gula tebu itu
telah menarik perhatian Dika, Mikka, Hanif, dan Syauqi. Mereka memperhatikan
dengan saksama semua proses yang dikerjakan Pak Kumis berserta istri beliau.
Dengan senang hati Pak Kumis juga memberi penjelasan saat mereka menanyakan
sesuatu. Mikka tentunya tidak lupa merekam kegiatan di kilang Pak Kumis
tersebut dengan kameranya.
Begitu keempatnya pamit hendak
melanjutkan perjalanan ke puncak bukit, Pak Kumis memberikan gula dan empat
batang tebu kepada mereka.
“Bawa ini pulang buat oleh-oleh.
Sampaikan salam Bapak pada nenek dan orang tua kalian,” kata Pak Kumis dengan
ramahnya.
Sebenarnya mereka malu untuk menerima
pemberian itu, tetapi Pak Kumis dan istrinya memaksa agar anak-anak itu tidak
menolak pemberian mereka. Tentunya mereka sangat berterima kasih karena
perjalanan mereka hari ini menjadi sangat berharga. Sesuatu yang selama ini
tidak mereka ketahui, mereka dapatkan di kebun tebu Pak Kumis.
*****