Senin, 18 Oktober 2021

Calathea Bunda

 Oleh Salma

Naya meremas kembali kertas ulangan matematikanya untuk kesekian kalinya. Angka tiga puluh yang tertera di sudut kanan kertas itu ternyata tidak juga berubah. Sakit sekali rasanya melihat angka tersebut. Terlebih lagi Naya tadi diejek oleh Julio anak guru matematika itu. Memang Naya akui kalau Naya tidak pintar matematika. Tetapi dengan belajar bersama Bunda yang jago matematika, nilai matematika Naya selalu tinggi bahkan terkadang melebihi nilai Julio. Sementara Bunda sudah empat hari ini tidak lagi mendampingi Naya belajar. Bunda sibuk mengurusi calathea. Seperti tadi malam, Bunda menjemput calathea impor yang dijanjikan temannya. Malam kemarin Bunda sibuk memasukkan calathea-calatheanya yang sudah subur itu ke rumah karena takut dicuri orang seperti punya tetangga.

Hari ini, kekecewaan Naya pun tak ada yang tahu. Tak ada tempat mengadukan kesalnya. Bunda belum pulang lagi bekerja. Begitu pun Ayah. Dibukanya lagi kertas ujian yang nyaris robek itu. Angka tiga puluh masih tertera. Naya meraih sebuah gunting yang tergeletak di atas meja. Kemudian Naya membawa kertas dan gunting itu ke teras rumah.  Dipajangnya kertas ujian tersebut dalam sebuah pot berwarna putih dengan bantuan lidi. Setelah itu, tanpa pikir panjang lagi, bocah kelas tiga itu mengeksekusi tiga pot  calathea yang berada di rak. Rasa kesal Naya seakan ikut hilang bersamaan dengan jatuhnya potongan-potongan daun calathea itu ke lantai. Naya tersenyum puas dan kembali ke rumah. 

Ayah dan Bunda pulang begitu Naya kembali ke kamarnya. Ketika hendak mengganti bajunya, Naya mendengar suara jeritan Bunda dari teras. Jeritan itu mungkin terdengar sampai ke ujung gang. Otomatis Naya lari ke beranda dan mengintip dari balik gorden. Terdengar segala serapah Bunda. Sedang Ayah hanya diam. Ayah menatap sebuah kertas yang tertancap dalam sebuah pot. Nama Naya dan angka 30 jelas tertulis di sana. Ayah meraih kertas itu dan memberikannya pada Bunda. Seketika wajah Bunda berubah. Mulutnya pun terkunci. Entah apa yang ada di pikiran Bunda saat itu. 

****

Matematika Pedagang Sate

 Oleh Salma

Sudah menjadi tradisi keluarga besar kami, saat liburan sekolah berkumpul di rumah orang tua. Di samping menjalin silaturrahim juga kesempatan menyenangkan orang tua.

Menjelang sampai di rumah, aku tak lupa membeli makanan untuk anak-anak dan keponakanku. Mas suami menyarankan agar beli sate saja untuk anak-anak. Itu sebabnya, sang suami berhenti tepat di depan warung sate.

"Sate, Bu?" tawar ibu pedagang sate ramah.

"Berapa satu bungkus?" tanyaku. Sudah menjadi kebiasaanku, bertanya harga dulu sebelum membeli sesuatu. Di samping takut kaget dengan harga yang fantastis, aku juga takut uang yang di dompet tidak mencukupi.

"Satu porsi 13 ribu, beli setengah 10 ribu." Begitu jawaban dari pedagang sate.

Antara mikir harga dan jumlah bungkus sate yang mau aku beli, mataku fokus pada bentuk  lontong yang ada di atas gerobak sate. Segera aku menyadari bahwa itu sate madura. Aku intip lagi tulisan di depan gerobak, ternyata betul itu sate madura. Sementara anakku sendiri kurang suka sate madura. Aku minta maaf pada ibu pedagang dan berjalan ke seberang jalan.

Jelas aku lihat tulisan "Sate Ajo Piaman". Aku mendekat dan bertanya lagi berapa harga sate itu setengah porsi.

"Setengah 6.000, sebungkus 10.000, Bu" jawab sang pedagang.

Aku langsung pesan setengah-setengah porsi sebanyak anggota keluarga di rumah. Setelah membayar sesuai pesanan, aku kembali ke mobil.

"Mas, pedagang sate belajar matematikanya di mana ya? tanyaku pada suami begitu sampai di mobil.

Suamiku yang dari tadi setia menungguiku belanja malah balik nanya.

"Emang kenapa?"

"Aku nanya pedagang sate madura, satenya satu porsi tiga belas ribu,  setengahnya sepuluh ribu. Bukankah seharusnya enam ribu lima ratus setengahnya, Mas? Trus, ini sate pariaman satu porsinya sepuluh ribu dan setengah enam ribu," jawabku senyum-senyum.

"Hmmm, itu namanya pembulatan ke atas. Udah, ah! Yang jelas bukan Mas gurunya," jawab suamiku yang memang guru matematika itu sambil terkekeh.
***
Sorkam, 23 Desember 2020




Kamis, 14 Oktober 2021

SURAT BUAT AYAH

 Karya Salma

Pelajaran menulis surat di sekolah hari ini membuat Ridwan benar-benar bersemangat. Sepulang sekolah, Ridwan ingin segera menulis surat untuk ayahnya. Iya, surat untuk Ayah. Sesuai dengan tugas yang diberikan Bu Leni tadi, menulis surat untuk orang terdekat. Bukankah ayah Ridwan sudah lama tidak pulang? Ayah pergi merantau saat Ridwan kelas lima. Sekarang Ridwan sudah kelas delapan. Berarti ayah Ridwan sudah tiga tahun merantau. Namun, selama tiga tahun baru dua kali Ridwan dan ibunya menerima kabar dari sang ayah. Pertama, saat ayahnya menyatakan sudah sampai di Jawa, walaupun tidak dijelaskan daerah kecilnya. Kabar kedua sekitar enam bulan setelah ayahnya berada di rantau, sekaligus mengirimkan uang untuk biaya hidup Ridwan dan ibunya. Belakangan, Ridwan mengetahui Ayah menelepon Mak Tua Halimah, kakaknya. Mak Tua Halimah mengatakan bahwa ayah Ridwan sudah mempunyai usaha rumah makan sendiri, bahkan juga sudah punya beberapa orang karyawan di Semarang. Ridwan dan ibunya sangat senang mendengar kabar baik itu. Tapi, sayangnya ayah Ridwan tidak mengirim apa-apa untuk mereka.

Ridwan harus membantu ibunya sepulang sekolah. Banyak pekerjaan yang tidak bisa Ibu selesaikan jika tidak dibantu Ridwan. Maklum, mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ibu membuka warung di samping rumah. Sore hari warung itu ramai dikunjungi oleh ibu-ibu yang membeli sayuran dan kebutuhan dapur lainnya. Itu sebabnya Ridwan tidak punya waktu untuk bermain dengan teman-teman sebayanya.

Keinginan Ridwan menulis surat untuk ayahnya diwujudkan sehabis magrib. Dalam benak Ridwan, banyak hal yang ingin ia sampaikan dalam surat itu. Ia menulis surat itu pada buku latihannya sebagai tugas sekolah yang diberikan Bu Leni.

      Buat Ayah

      Assalamualaikum wr wb.

      Semoga Ayah tetap dalam lindungan Allah swt. dan selalu diberi kesehatan serta rezeki yang melimpah. Begitu juga Ridwan dan Ibu di kampung. Aamiin!

      Ridwan sangat merindukan Ayah. Sudah lama sekali rasanya Ridwan tidak bertemu ayah. Ridwan sangat berharap kita bisa segera berkumpul lagi. Pernah tiga kali Ridwan menghubungi nomor Ayah melalui telepon genggam Mak Tua Halimah, tetapi nomor ayah selalu tidak aktif. Ingin rasanya Ridwan menyusul Ayah ke Jawa ketika libur sekolah, tapi Ridwan belum siap. Ridwan belum punya cukup uang untuk ongkos ke sana. Ridwan sedang berusaha menabung sekarang, Yah. Nanti kalau  tabungan Ridwan sudah cukup, Ridwan akan menyusul Ayah ke rantau.

     Oh, ya, Ayah...kalau Ridwan nanti lulus SMP, Ridwan ingin melanjutkan sekolah ke SMK. Ridwan suka sekali bidang otomotif. Setamat SMK itu, Ridwan akan bekerja agar Ibu tidak terlalu capek mencari uang lagi.

      Cukup sekian dulu surat dari Ridwan. Jika ada kata-kata Ridwan yang kurang berkenan di hati Ayah, Ridwan minta maaf.

                                                                                  Wassalam dari Ananda

                                                                                           Ridwan” 

Demikian surat yang ditulis Ridwan. Setelah ia membaca surat itu kembali, air mata meleleh membasahi pipinya. Ada rasa yang berkecamuk di dadanya yang tidak ia mengerti. Isi surat itu pun sebenarnya belum mewakili apa yang ia rasakan. Masih banyak yang hendak ia sampaikan kepada ayahnya, namun ia tak mampu menulis lebih dari itu. Setelah menyalin surat itu pada selembar kertas, Ridwan melipat surat itu. Itulah yang hendak ia kirimkan kepada ayahnya.

Hari Minggu Ridwan menaiki sepedanya ke rumah Mak Tua Halimah. Ridwan harus mengayuh sepeda selama setengah jam untuk sampai ke sana. Ia ingin meminta alamat yang jelas agar surat yang ia kirim bisa langsung sampai ke tangan ayahnya. Sesampai di sana, kakak perempuan ayahnya itu memeluk Ridwan penuh haru. Bahkan Mak Tua Halimah berkali-kali menahan linangan air matanya saat berbicara dengan Ridwan. Entah apa yang membuat wanita paruh baya itu demikian.

“Biarlah Mak Tua yang mengirimkan surat itu ke ayahmu,” kata Mak Tua Halimah dengan suara agak parau.

Dengan senang hati pula Ridwan memberikan surat yang sudah beramplop itu kepada mak tuanya. Ridwan yakin jika Mak Tua yang mengirim, surat itu tentu cepat sampai ke tangan ayahnya.  

Tidak seperti kedatangannya dua bulan yang lalu, Mak Tua tidak lagi menawarkan Ridwan untuk menelepon ayahnya. Sebelumnya Mak Tua selalu menghubungi ayah Ridwan ketika Ridwan datang. Sayangnya, nomor telepon yang dituju selalu tidak aktif. Hari ini Ridwan tidak lagi berharap ajakan Mak Tua untuk menelepon ayahnya. Ia hanya berharap suratnya segera sampai ke tangan sang ayah.

      ***

Tiga bulan berlalu, harapan demi harapan dipupuk Ridwan dalam hatinya untuk mendapatkan surat balasan dari sang ayah. Seiring dengan itu, kerinduan pada sang ayah pun seakan menggunung. Namun, sepertinya hanya tinggal harapan. Tak ada kabar apa pun yang ia terima. Beberapa kali Ridwan mencoba mencari tahu kepada Mak Tua Halimah tentang surat yang ia kirim, selalu dijawab bahwa suratnya sudah dikirim dan pasti sampai pada ayahnya. Sabar dan sabar, selalu itu yang disampaikan Mak Tua kepada Ridwan. Hanya anehnya, Mak Tua selalu terlihat seperti orang menahan tangis. Ridwan pun tidak punya keberanian untuk bertanya banyak pada mak tuanya itu.

Di balik kerinduan Ridwan, ada kebohongan besar yang disimpan Mak Tua Halimah. Bukan karena teganya Mak Tua Halimah, namun ada hal yang belum bisa disampaikannya kepada Ridwan.

Nun di seberang sana, seorang laki-laki sedang membaca sepucuk surat untuk kesekian kalinya dari balik jeruji besi. Setiap kali ia membaca surat itu, air matanya bercucuran. Surat yang diterimanya beberapa bulan yang lalu itu sudah terlihat lusuh. Surat yang tak sanggup ia membalasnya. “Maafkan Ayah, Ridwan. Saat ini ayahmu ini belum bisa membalas suratmu. Tunggulah Ayah keluar dari penjara! Ayah akan ceritakan semua padamu. Tentang kerasnya hidup. Juga tentang keadilan yang bisa dibeli,” gumamnya seraya melipat kembali surat itu.

****

Selasa, 12 Oktober 2021

Bros untuk Bu Lili

Karya Salma 

Ratna masih menimang-nimang bros cantik dengan motif burung merak itu. Bros itu baru saja sampai ke tangannya setelah tiga hari yang lalu ia pesan melalui aplikasi belanja online. Cantik sekali, pikir Ratna. Ini sangat cocok untuk Bu Lili, guru bahasa Indonesia idolanya. Seminggu lagi Bu Lili ulang tahun. Ratna memikirkan bagaimana cara ia memberikan bros itu kepada Bu Lili nantinya. Bahkan Ratna juga berencana menulis sebuah puisi singkat untuk Bu Lili. Beberapa goresan pada kertas di depannya menunjukkan Ratna sedang mengarang sebuah puisi. Ia ingin puisi itu memberikan kesan yang mendalam bagi Bu Lili.

Ada telaga di setiap kehadiranmu/ yang kutimba ‘tuk pelepas dahaga/ Ada purnama di wajahmu/ yang menerangi jalanku dalam kelam/ Ada rindu menyeruak hati/ kala bayangmu tiada. Selamat Ulang Tahun, Ibu. Demikian yang ditulis Ratna dalam sebuah kertas kecil. Tulisannya indah dan rapi. Di sudut kanan bawah kertas, Ratna mencantumkan namanya. Setelah itu, Ratna memasukkan kertas itu ke dalam kotak kecil yang sudah berisi bros burung merak. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Ratna membungkus kotak kecil itu dengan kertas kado. Kado itu makin cantik setelah Ratna mengikatnya dengan sebuah pita berwarna putih. Tak lupa ia tempelkan kata-kata “Happy Birthday, Bu Lili” di bagian atas kado itu.

“Kak, pinjam pensil warnanya, boleh?” tiba-tiba suara Edo, adik Ratna terdengar dari balik pintu kamar.

Buru-buru Ratna menyimpan kado kecil itu ke dalam tasnya. “Iya, masuk aja, Dik!” katanya sambil membukakan pintu.

Secepatnya Edo mengambil benda yang dipinjamnya. Ratna bersyukur Edo tidak sempat melihat kado itu. Repot kalau Edo tahu. Dia akan bercerita ke seisi rumah nanti. Atau Edo akan mengejek kakaknya itu sok perhatian, cari muka, dan segala macam gelar ia sematkan seperti kejadian saat Ratna memberi hadiah ulang tahun untuk wali kelasnya dua bulan yang lalu.

***

“Nana, aku pinjam catatan IPA-mu, ya, catatanku belum lengkap,” kata Ezi pada Ratna yang sedang sibuk membahas tugas kelompok dengan Mita dan Ali.

“Kamu ambil di tasku aja, Zi,” balas Ratna.  

Ezi segera menuju meja Ratna dan membuka tas Ratna. Pandangan Ezi tertuju pada sebuah kado kecil yang ada di sudut tas Ratna. Ezi bukannya mencari catatan yang ia pinjam terlebih dahulu, melainkan meneliti kado kecil itu. Dengan jelas ia membaca nama Bu Lili di sana. Ia kemudian melihat kembali pada Ratna yang masih saja sibuk berdiskusi dengan teman kelompoknya. Tanpa pikir panjang, Ezi segera menyembunyikan kado itu ke dalam tasnya. Setelah itu, Ezi mengambil catatan IPA yang ingin ia pinjam. Tak lupa Ezi menutup kembali tas Ratna dengan rapi, lalu berjalan ke bangkunya.

Ratna tak menyadari ada yang hilang dari tasnya. Malam hari sebelum hari ulang tahun Bu Lili, Ratna sibuk mencari kado kecil yang sudah ia persiapkan. Besok kado itu akan diberikannya kepada Bu Lili, sebelum masuk ke kelasnya. Namun, Ratna tidak menemukan barang yang dicarinya itu. Semua tempat yang biasa digunakan Ratna untuk menyimpan benda berharganya sudah ia bongkar. Bahkan  Ratna juga memeriksa kamar Edo, mana tahu Edo mengambil kado itu. 

“Sungguh, Kak, Edo tidak ngambil kado itu! Jangankan ngambil, Melihat aja pun Edo belum pernah,” kata Edo meyakinkan kakaknya saat didesak.

“Awas, ya, kalau kamu bohong, kakak gak akan maafin kamu!” Ratna mencoba pura-pura mengancam adiknya.

“Terserah Kakak!” balas Edo kesal. Ia kemudian bergegas keluar kamar. Ia merasa malas untuk menanggapi pertanyaan kakaknya lagi.

Akhirnya Ratna memilih diam dan kembali ke kamarnya dengan perasaan kecewa. Ia kemudian memilih menyelesaikan PR matematikanya walaupun perasaannya tidak karuan.

Perasaan kecewa Ratna masih terbawa hingga ke sekolah keesokan harinya. Hari di mana Bu Lili ulang tahun. Hari yang sudah dibayangkan Ratna sebagai hari yang berkesan untuk dirinya dan Bu Lili. Namun, semuanya hanya tinggal angan-angan saja. Aida, teman sebangku Ratna, heran melihat sikap Ratna yang tidak seceria biasanya. Bahkan, sejak jam pelajaran pertama hingga istirahat, Ratna lebih banyak diam. Dia pun tidak bersemangat ketika diajak Aida ke kantin.

Pada jam pelajaran keempat, Bu Lili masuk ke kelas Ratna. Ratna hanya menunduk. Perasaan kesal dan kecewa membaur menjadi satu.  Ratna tidak menyadari semenjak masuk tadi, mata Bu Lili sudah tertuju padanya. Saat Bu Lili memulai pembelajaran, barulah Ratna menegakkan kepalanya. Ia memandang ke depan mencoba fokus dengan materi yang hendak diberikan Bu Lili. Akan tetapi, mata Ratna justru tertuju pada bros cantik bermotif burung merak yang tersemat di jilbab Bu Lili. Ratna tersentak. Ia mengerjapkan matanya berulang-ulang untuk meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat. Tidak, ia tidak salah lihat. Bros cantik itu persis seperti bros yang ia beli. Apakah mungkin Bu Ratna juga membeli bros yang sama dengan yang dibeli Ratna? Atau sebenarnya Ratna sudah memberikan kadonya pada Bu Ratna? Tetapi, kenapa Ratna tidak ingat? Banyak pertanyaan yang memenuhi benak Ratna. Ia tak lagi mendengar dengan baik penjelasan Bu Lili tentang perbedaan teks narasi dengan teks deskripsi. Pikirannya terganggu oleh bros cantik itu, bahkan hingga jam pelajaran bahasa Indonesia berakhir.

“Ratna, nanti sepulang sekolah, jumpai Ibu di kantor, ya!” Tiba-tiba saja Bu Lili sudah berada di samping meja Ratna.

“Ba ... baik, Bu,” jawab Ratna gugup. Dadanya berdebar tidak karuan. Apakah Bu Ratna tadi melihat dia yang tidak fokus belajar ataukah ada yang lain? Ratna tidak bisa menebaknya.

“Bu Lili bilang apa?” tanya Ezi yang juga tiba-tiba datang setelah Bu Lili keluar  dari kelas.

Ratna tidak langsung menjawab pertanyaan Ezi. Takut Ezi nanti akan mengarang cerita aneh-aneh lagi kepada teman-teman di kelas seperti yang dilakukannya pada Libra. Waktu itu Libra diminta wali kelas mereka datang ke ruang guru. Sebelum tahu apa yang disampaikan wali kelas kepada Libra, Ezi sudah bercerita kepada seisi kelas bahwa Libra sudah memakai uang kas kelas untuk keperluan pribadinya. Waktu itu, hampir semua warga kelas menggerutu pada Libra karena merasa yakin apa yang disampaikan Ezi benar.

“Oh, Bu Lili menyuruhku mengambil buku tugasku yang tertinggal di mejanya,” jawab Ratna berbohong.  Dalam hatinya, Ratna menyesal telah berbohong karena bukan sifatnya suka berbohong.

Ezi pun sepertinya puas dengan jawaban Ratna. Itu sebabnya ia tidak lagi bertanya dan kembali ke bangkunya.

Setelah jam sekolah usai, Ratna bergegas menuju ruang guru. Jantungnya berdegup kencang. Ia takut dimarahi atau ditanyai tentang sesuatu yang ia tidak tahu. Begitu meminta izin pada beberapa guru yang ada di ruangan itu, Ratna langsung menuju meja Bu Lili. Di sana terlihat Bu Lili yang tersenyum cerah ke arah Ratna. Hal itu membuat Ratna semakin bingung.

“Kamu kehilangan sesuatu?” tanya Bu Lili membuat Ratna kaget.

“Kok Ibu tahu?”

“Ini!” kata Bu Lili menunjukkan bros burung merak yang tersemat pada hijabnya.

“Ibu dapat di mana?” Suara Ratna sedikit kencang karena ia betul-betul kaget dengan kejadian itu. Ternyata kado yang ia cari dari semalam, tercecer di sekolah ini, pikirnya.

“Kemarin Ezi memberi ibu kado ulang tahun. Sampai di rumah, tak sabar Ibu buka kado itu, ternyata isinya bros cantik ini. Ibu juga menemukan ada kertas kecil yang berisi puisi dan ucapan selamat. Tapi, Ibu merasa heran karena tertulis nama kamu di sana. Nah, Ibu berkesimpulan bahwa kado itu punya kamu,” jelas Bu Lili.

“Betul, Bu. Saya memang kehilangan kado yang sudah saya persiapkan untuk Ibu. Tapi saya heran, kenapa bisa sampai ke tangan Ezi?” kata Ratna masih bingung.

“Sudahlah! Yang penting, kado kamu sudah sampai ke tangan ibu. Ibu ucapkan terima kasih atas kado dan puisinya, ya,” kata guru yang bijak itu.

Senyum Ratna mengembang. Ia menyalami Bu Lili dan memberikan ucapan selamat lagi untuk Bu Lili. Ratna mengerti sekarang bagaimana kado itu sampai ke tangan Ezi setelah ia ingat bahwa Ezi pernah meminjam buku catatan IPA yang langsung diambil dari tasnya. Bu Lili juga berkata bahwa beliau akan melakukan pendekatan dengan Ezi agar Ezi dapat mengubah perbuatan buruknya itu. Ezi mungkin bisa membohongi siapa saja, tetapi Tuhan tidak tidur. Tuhan tahu semua yang dilakukan makhluk-Nya.

      *****

Kamis, 07 Oktober 2021

Mak Mun

 Oleh Salma

Aku betul-betul terperanjat ketika membuka pintu mobil. Seseorang ternyata sudah duduk di bangku depan. Dialah Mak Mun, wanita yang sudah puluhan tahun menderita gangguan kejiwaan. Wanita itu tertawa menunjukkan gigi ompongnya. Aku hanya melongo, kemudian mundur dua langkah. Kubiarkan pintu mobil tetap terbuka. Tapi tak ada gelagat Mak Mun untuk turun. Justru ia memperbaiki duduknya dan mengepit tas tangannya ke pangkuannya. Ia berperilaku layaknya nyonya empunya mobil.

Suami, ibu, dan dua orang sepupuku menyusul ke mobil. Hari ini kami akan menghadiri acara pernikahan kerabat yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.

"Ada apa?" tanya Erika, sepupuku heran.

Aku tidak berani bicara. Hanya mata dan mulutku mengisaratkan bahwa ada orang yang duduk di depan. Erika melongok ke dalam mobil dari pintu belakang. Mengetahui siapa yang duduk di sana, Erika kembali ke rumah. Aku dengar tawa Erika pecah dalam rumah. Sementara yang lain mengikuti Erika dengan matanya. Penasaran, ibu ikut melongok ke mobil. Ibu tiba-tiba gusar. Melihat itu aku pun bertambah cemas.

"Ada-ada saja! Kenapa sampai dia tahu kita mau berangkat?" Ibu bertanya entah pada siapa dan kembali ke rumah. Sedangkan aku tak berani meninggalkan tempat itu, takut Mak Mun berbuat aneh-aneh dalam mobil.

Suamiku yang sedari tadi hanya garuk-garuk kepala, akhirnya bicara juga. "Biar aja! Kamu duduk di belakang!" katanya padaku hati-hati.

Aku hanya mengangguk. Takut mengeluarkan kata-kata yang nanti justru membuat Mak Mun mengamuk. Jika Mak Mun mengamuk, sepanjang hari ia akan bicara tak henti. Segala sumpah-serapah akan keluar dari mulutnya. Siapa pun yang lewat di depannya akan diomeli walaupun tak jelas apa salahnya. Sejauh ini memang Mak Mun belum pernah melakukan kekerasan fisik seperti orang-orang yang mengalami gangguan psikis lainnya. Hanya kata-kata yang berisi umpatan - yang jika orang biasa yang mengucapkannya - akan menimbulkan rasa sakit hati bagi orang yang kena.

Akhirnya mobil kami bergerak meninggalkan rumah, dengan Mak Mun yang tetap duduk di samping suamiku tentunya. Suasana mobil sepi dari kelakar atau pembicaraan apa pun. Erika dan Nisa yang biasanya rame dan suka usil malah tak berani bersuara. Sesekali aku melirik ke belakang saat kudengar suara cekikikannya yang ditahan-tahan. Sementara ibu terlihat cemberut dari tadi. Ibu adalah orang yang sering diomeli oleh Mak Mun. Terlebih jika ibu dilihatnya pergi atau pulang dari pesta. Pernah juga peristiwa seperti ini terjadi beberapa kali pada tetangga yang lain. Ketika hendak mengantar mempelai pria, Mak Mun sudah duluan naik mobil pengantar tersebut. Namun mereka melapor kepada keluarga Mak Mun. Dengan bujuk rayu atau terkadang paksaan, mereka berhasil membawa Mak Mun turun dari mobil dan kembali ke rumah mereka. Setelah itu, rumah Mak Mun akan rusuh sepanjang hari itu.

Rasa cemas, takut, dan kesal silih berganti menyerangku selama di perjalanan. Bisa-bisanya Mas Kus membiarkan Mak Mun ikut. Bagaimana nanti jika Mak Mun malah mengacaukan acara akad nikah itu? Atau dia marah-marah tak menentu pada orang-orang yang hadir di sana. Atau ia akan mengeluarkan kata-kata kotor pada orang yang menghalangi langkahnya. Atau bisa jadi ia akan melahap semua hidangan tanpa basa-basi. Ih, sungguh mengerikan! Aku bergidik, tak sanggup membayangkan acara yang sakral itu akan berubah jadi ramai dan kacau. Aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kesal. Aku yakin ibu pun sedang memikirkan hal yang sama denganku. Kulihat wajah Mas Kus dari kaca depan. Ia tenang-tenang saja seperti tak terjadi apa-apa.

"Udah, tenang aja!" kata Mas Kus saat melirik kaca depan. Sepertinya ia membaca keresahanku.

"Hhhh!" Hanya desah kesal yang bisa keluar dari bibirku. Sekali lagi Mas Kus melirik lewat kaca depan. Jahatnya, ia malah tersenyum.

Kulihat Mak Mun sangat senang. Wajahnya kelihatan cerah. Sekilas Mak Mun terlihat normal. Tak ada yang ganjil dari caranya berpakaian. Antara baju dan kerudung yang ia pakai sepadan. Hanya bedak dan lipstiknya yang sedikit asal. Memang dari segi pakaian, Mak Mun tak pernah kekurangan. Mantu Mak Mun selalu memperhatikan pakaiannya.

Tak terasa, mobil kami sampai juga di tujuan. Mas Kus segera memarkir mobil di tempat parkir yang sudah disediakan. Ada keraguan bagi kami untuk turun dari mobil. Namun tidak bagi suamiku. Ia segera turun kemudian memutar jalannya dan membukakan pintu untuk Mak Mun. Setelah itu, Mas Kus membuka pintu di sampingku.

"Ayo, turun! Nanti telat," ajak Mas Kus pelan yang aku ikuti dengan perasaan was-was. Ibu, Erika, dan Nisa pun menyusul.

"Maaf Mas, Mbak! Emak sudah merepotkan. Saya tadi mencari-cari emak. Ada yang melihat emak menaiki mobil Mas Kus. Maka segera saya susul." Seseorang tiba-tiba sudah berada di antara kami yang masih ragu melangkah masuk pekarangan. Dia tak lain adalah putra Mak Mun. Ada perasaan bersalah di raut mukanya.

"Gak apa, Dik. Mak Mun sepertinya senang selama di perjalanan," balas Mas Kus. Aku dan ibu turut mengiyakan demi menghilangkan perasaan bersalah anak Mak Mun. Tak tega juga melihat raut muka putra Mak Mun penuh dengan kecemasan seperti itu. Tentu sedari tadi dia mengiringi mobil kami dengan motornya.

Laki-laki itu berusaha membujuk ibunya untuk diajak pulang. Namun Mak Mun kukuh tidak mau pulang. Mak Mun tetap ingin masuk ke dalam ruangan. Akhirnya Mas Kus mengajak putra Mak Mun ikut masuk ke tempat acara. Tidak baik juga mereka menjadi perhatian beberapa pasang mata.

Selama prosesi akad nikah berlangsung, Mak Mun betul-betul duduk dengan tenang. Matanya tak lepas dari pasangan pengantin. Sekali-sekali ia ikut tertawa saat pembawa acara melontarkan lelucon untuk kedua mempelai. Sungguh jauh berbeda dengan sikap keseharian Mak Mun selama ini. Begitu juga saat makan. Mak Mun hanya menunggu sampai aku menawarkan dia makan. Mak Mun minta kepadaku untuk diambilkan nasi dan lauknya. Barangkali karena ia sudah terbiasa makannya diambilkan oleh mantunya.

Begitu acara selesai, putra Mak Mun tak perlu susah-susah membujuk emaknya pulang. Dengan manja Mak Mun memegang tangan anaknya dan mengikutinya menuju area parkir. Aku yang lebih banyak fokus pada Mak Mun, merasa lega melihat pemandangan itu.

"Pelan-pelan aja, Dik!" nasihat Mas Kus setelah anak Mak Mun pamit kepada kami. Sedang Mak Mun tak bicara apa pun kecuali senyum-senyum saja setelah duduk di belakang anaknya.

Begitu mobil kami bergerak, Erika mulai lagi dengan kejahilannya. "Maka sang permaisuri pun kembali menduduki kursi kebesarannya...!"

"Setelah Mak Mun dijemput oleh putranya ...!" Nisa menimpali dengan menirukan suara pemain teater.

"Alah, beraninya ngomong sekarang. Tadi kenapa semua diam?" ledek Mas Kus hingga suasana kembali ramai.

Sebaliknya, aku kembali kepikiran Mak Mun. Ada keanehan yang kurasa pada diri Mak Mun hari ini. Apa yang menjadi kekahwatiranku tidakterjadi sama sekali. Apakah Mak Mun sudah sembuh?

"Barangkali selama ini Mak Mun memang ingin diajak ke tempat pesta atau hajatan, tapi tak ada yang mau ngajak. Makanya Mak Mun jadi seperti itu," kata Mas Kus berandai-andai.

"Dulu, Mak Mun itu pintar, baik juga. Setelah berpisah dengan suaminya, Mak Mun mulai berperangai aneh. Sebenarnya dia berpisah dengan suaminya bukan karena ada masalah antara mereka. Hanya orang tua Mak Mun yang memang sedari awal tidak menyukai mantunya itu. Alasan mereka, suaminya bukan berasal dari keluarga terpandang. Berbagai cara diusahakan oleh orang tua Mak Mun untuk membuat mereka bercerai. Hingga anak Mak Mun berumur satu tahun, suami Mak Mun betul-betul pergi meninggalkannya. Mak Mun sudah berusaha untuk mencari tahu keberadaan suaminya, akan tetapi Mak Mun tidak menemukan jawaban. Saat Mak Mun dipaksa menikah dengan pria pilihan orang tuanya, saat itu pula Mak Mun menjadi orang pendiam dan selalu mengurung diri di kamar. Bahkan anaknya yang masih bayi pun sering diabaikan. Untung kakak Mak Mun cepat mengambil tindakan sehingga bayinya itu dibesarkan oleh kakak Mak Mun." Demikian cerita ibu tentang masa lalu Mak Mun. Terang aku merasa prihatin mendengar cerita ibu. Erika dan Nisa pun berhenti berkomentar. Barangkali mereka juga merasakan hal yang sama denganku.

***

Dua minggu berselang semenjak Mak Mun ikut bersama kami ke tempat pesta, selama itu pula tidak terdengar lagi suara Mak Mun ribut atau marah-marah di depan rumahnya. Mak Mun pun tidak terlihat lagi keluar rumah. Padahal selama ini hampir setiap hari Mak Mun berjalan ke pasar meminta-minta atau mengutip barang-barang yang ia maui di pasar. Bahkan beberapa kali Mak Mun terjaring dan dibawa ke panti sosial oleh petugas dinas sosial kota.

Hari ini aku berniat mencari tahu keadaan Mak Mun. Ibu yang biasanya tiap hari melihat Mak Mun, ternyata juga tak pernah lagi melihatnya semenjak pulang dari pesta itu. Begitu hendak keluar rumah, aku mendengar tetangga depan rumah mengabari ibu bahwa Mak Mun baru saja meninggal dunia. Bergegas aku dan ibu berangkat ke rumah Mak Mun. Kami dapati beberapa tetangga dan keluarga Mak Mun sudah berada di rumah itu. Terlihat juga Dokter Mila duduk di samping tubuh Mak Mun yang berbalut mukena. Kata Dokter Mila, Mak Mun tidak sadarkan diri begitu selesai shalat Zuhur. Dokter Mila segera dijemput mantu Mak Mun. Namun, saat Dokter Mila sampai, Mak Mun sudah tidak bernapas lagi. Innalillahiwainnailaihirojiun.

 ****


Gadis Misterius

 Oleh Salma


Sudah seminggu keluarga Aina tinggal di Komplek Tulip Raudah. Karena Aina beserta ayah dan bundanya masih sibuk menata rumah, Aina belum sempat mengenal lebih banyak tetangganya. Mereka baru sempat berkenalan dengan tetangga yang ada di samping kiri  dan kanan.  Aina pun belum punya teman seusianya di sini.

Selama empat hari belakangan, Aina dibuat penasaran oleh seorang gadis yang menurut Aina cantik. Usianya kira-kira seumuran Aina. Setiap Aina pulang sekolah, gadis itu sudah berdiri di sudut pagar depan rumah Aina. Dia selalu mengembangkan senyum ketika matanya beradu pandang dengan Aina. Setelah melempar senyum, gadis itu pun pergi tanpa bicara apa-apa. Aina pun langsung masuk ke rumah tanpa memperhatikan ke mana gadis itu berjalan. Hanya saja Aina merasa gadis itu misterius.

Apakah gadis itu tidak sekolah? Apakah dia anak tetangga depan atau samping rumah? Kenapa dia tidak menyapa Aina saja kalau memang ingin berteman? Atau jangan-jangan dia bukan .... Ah! Pikiran aneh pun melintas di benak Aina.

“Nasinya dimakan Ai!” Suara Bunda mengagetkan Aina dari lamunannya. Tanpa Aina sadari, nasi yang diambilnya tadi sudah dingin.

“Eh, iya, Bun!” jawab Aina sambil melempar senyum kepada Bunda.

Kamu kenapa? Lagi mikirin apa?” selidik Bunda. Senyum aneh Aina mengundang pertanyaan Bunda.

“Ah, gak mikirin apa-apa, Bunda!” jawab Aina bohong.

“Jangan bohong! Bunda kan lihat sendiri. Sampai-sampai matamu pun melotot dan mulutnya komat-kamit, gitu?”

“Hanya mikirin tugas kelompok, Bun,” jawab Aina bohong. Ia sengaja tidak memberitahu bundanya sebelum ia mengetahui siapa sebenarnya gadis yang  selalu berdiri di sudut pagar rumah itu.

Bunda segera berlalu ke dapur tanpa bertanya lagi pada Aina. Sementara Aina melanjutkan makannya hingga selesai. Ia takut Bunda akan bertanya-tanya lagi. Sambil makan, Aina sempat merencanakan sesuatu untuk memecahkan misteri tentang gadis manis itu.

***

Hari ini Aina bergegas keluar dari gerbang sekolah. Ia ingin segera sampai di rumah. Yani, yang sedari tadi berharap pulang bersama Aina, harus kecewa ketika tahu Aina sudah duluan naik angkot.

Angkot berhenti tepat di depan gang rumah Aina. Setelah membayar ongkos angkot tersebut, Aina segera berjalan menuju rumahnya. Dari kejauhan, seperti biasa, Aina sudah melihat gadis misterius itu berdiri di depan pagar rumah. Hari ini gadis itu memakai gaun hijau muda. Rambutnya yang ikal itu dibiarkan tergerai hingga bahunya. Kali ini Aina tidak ingin membiarkan gadis itu pergi sebelum berkenalan dengannya. Untuk itu, Aina mempercepat langkahnya. Begitu Aina sampai ke gerbang rumah, ia sudah mendapatkan hadiah senyum dari sang gadis itu. Buru-buru Aina menegur sang gadis.

“Hai!” Sapa Aina mencoba makin dekat.

Aina tidak mendapat jawaban dari gadis itu. Lagi-lagi gadis itu hanya senyum dan menganggukkan kepalanya. Aina bingung dan sedikit ragu mencoba semakin dekat. Kemudian Aina mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri. Namun sayang, uluran tangan Aina tidak mendapatkan sambutan. Lagi-lagi hanya senyuman gadis itu yang ia terima. Kali ini senyumannya lebih sumringah. Dari wajahnya, terlihat sang gadis amat senang bertemu Aina. Hanya saja Aina merasa heran dan kecewa karena gadis itu tidak mau berbicara. Walaupun begitu, Aina tetap membalas dengan senyuman.

Beberapa detik mereka hanya beradu pandang dan saling senyum. Selanjutnya, gadis itu menundukkan wajahnya. Aina bisa melihat wajah gadis misterius itu berubah menjadi sendu. Setelah itu, sang gadis membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Aina dalam kebingungan.

Aina mengikuti langkah gadis itu. Ia melihat gadis misterius itu berbelok ke kanan begitu sampai di perempatan jalan. Aina terus mengikuti hingga gadis itu berhenti di depan rumah nomor dua. Seorang ibu berdiri di pintu pagar menyambut kedatangan sang gadis. Aina memberanikan diri mendekati mereka.

“Kamu yang baru pindah ke sini, ya?” Dengan ramah sang ibu bertanya terlebih dahulu. Sebelah tanggannya merapikan rambut sang gadis misterius.

“Betul, Tante. Nama saya Aina,” balas Aina tak kalah ramah.

“Ayo masuk, Aina!” ajak wanita yang kira-kira seumuran bunda Aina.

Aina masuk dan diajak duduk di teras rumah yang asri itu. Lagi-lagi Aina dibuat bingung dengan gadis misterius itu. Dia hanya mengangguk dan senyum-senyum saja saat ibunya berbicara dengan Aina.

"Ini anak tante. Namanya Aisyah. Sejak lahir Aisyah mempunyai kelainan. Dia tidak bisa mendengar dan berbicara seperti kita. Kami di rumah sudah terbiasa berbicara dengan Aisyah menggunakan isyarat. Tangan kanan Aisyah juga tidak bisa berfungsi dengan normal. Jadi Aisyah menulis atau makan menggunakan tangan kiri. Aisyah dulu sekolah di SLB, tapi sudah enam bulan ini, Aisyah tidak mau lagi sekolah. Katanya ada yang suka jahil padanya di sekolah.” Ibu Aisyah menjelaskan kondisi anaknya pada Aina.

Aina kaget mendengar penjelasan ibu Aisyah. Sungguh Aina tidak menyangka sama sekali kalau Aisyah yang cantik itu tidak bisa berbicara dan mendengar dengan sempurna. Aina jadi mengerti kenapa Aisyah tidak menerima uluran tangannya saat memperkenalkan diri tadi.

“Maaf, Tante, Ai tidak tahu jika kondisi Aisyah seperti itu,” kata Aina. Ada perasan haru dan menyesal dalam hatinya.

“Sejak Aisyah tahu Aina tinggal di gang depan, dia suka ke sana. Katanya dia ingin berteman dengan Aina, tapi dia takut Aina tidak menyukainya,” jelas ibu Aisyah.

“Ai senang kok, Tante. Ai tidak masalah berteman dengan Aisyah. Kapan Aisyah mau, Aisyah boleh datang ke rumah Ai. Kalau boleh, Ai juga mau main ke sini,” balas Aina sambil menunjukkan wajah senangnya.

Terjawab sudah rasa penasaran Aina selama ini. Setelah pamit pada Aisyah dan ibunya, Aina pun pulang. Ada sedikit rasa tak menentu di dadanya. Ia sendiri tidak paham perasaan apakah itu. Yang jelas, begitu sampai di rumah, Aina langsung memeluk Bunda. Tanpa sengaja, air mata Aina meleleh.

“Kamu kenapa, Nak?” tanya Bunda panik. Bayangan sesuatu yang menakutkan langsung menghantui pikiran Bunda. Tentu sudah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan pada Aina, pikir Bunda.

“Ai, Ai minta maaf, Bun! Ai sudah banyak dosa! Ai, anak yang tidak tahu diuntung! Hiks ... hiks!” Aina makin terisak dan membuat Bunda semakin bingung dan panik.

Bunda membimbing Aina untuk duduk di sofa. Perasaan panik melihat sikap Aina membuat badan Bunda mulai lemas, seakan tak kuat untuk berdiri lagi.

“Ayo, cerita yang benar sama Bunda! Apa yang terjadi, Ai?” desak Bunda setelah mereka duduk.

Aina mencoba menghapus  air mata dan menenangkan hatinya. Setelah itu, Aina menceritakan pertemuannya dengan Aisyah dan ibunya. Perasaan Bunda yang tadinya cemas terhadap Aina berubah menjadi haru. Mata Bunda terlihat berkaca-kaca saat mendengarkan cerita Aina.

“Kasihan Aisyah! Makanya kita yang sudah terlahir dengan tubuh sempurna ini jangan lupa bersyukur! Jangan sombong! Jangan suka pilih-pilih teman! Di mata Allah semua sama, hanya tingkat ketakwaannya yang membuat kita berbeda. Ai boleh ajak Aisyah bermain ke sini.  Walaupun Aisyah tidak bisa bicara, Ai bisa pakai bahasa isyarat atau  bahasa tulisan,” jelas bunda dengan lembut.

“Terima kasih, Bunda!” ucap Aina sambil kembali memeluk Bunda.

“Iya. Sudah, ganti baju sana, terus salat! Habis itu makan!” titah Bunda pada Aina.

Aina pun beranjak ke kamar. Tak henti ia berucap syukur dalam hatinya. Hari ini Aina dapat teman baru sekaligus pelajaran baru dalam hidupnya.

*****

 


Senin, 04 Oktober 2021

Pohon Kuini Pak Gulo

 Karya Salma


Sudah lebih sepuluh tahun Pak Gulo tinggal di kampung ini. Pak Gulo ditempatkan sebagai guru SMP di sini sehingga beliau harus meninggalkan kampung halamannya yang terletak di Pulau Nias. Selain mengajar, Pak Gulo juga senang berkebun. Tanah di sekitar rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sekolah, ditanami dengan berbagai  jenis tanaman. Beberapa tanaman itu sudah besar-besar dan sudah berbuah. Saat musim buah seperti rambutan, kuini, atau durian, Pak Gulo selalu membawa buah itu ke sekolah untuk dimakan bersama guru-guru lain.

Pada bulan ini bertepatan dengan musim buah kuini. Pohon kuini Pak Gulo juga berbuah. Melihat buahnya yang lebat, Pak Gulo sudah berniat untuk membagikan buah kuini itu kepada bapak dan ibu guru di sekolah lagi. Barangkali sekitar dua atau tiga hari lagi buah itu baru bisa dipanen. 

***

Aril, Tio, Asnan, dan Erik berjalan bersama pulang sekolah seperti biasanya. Empat sahabat itu selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Walaupun berlainan kelas, mereka tetap sepakat untuk berangkat bersama. Siang itu mulai mendung. Angin bertiup agak kencang. Jika sudah seperti ini, anak-anak paling suka berlari ke bawah pohon kuini. Angin akan menjatuhkan buah-buah kuini yang sudah matang.

“Kita lewat jalan pintas aja, gimana?” usul Tio pada teman-temannya.

“Oke, setuju!” balas mereka serempak. Senyum mengembang dari bibir masing-masing. Sepertinya mereka sudah sama-sama paham mengapa Tio memberi usul seperti itu.

Jalan pintas yang mereka maksud adalah melewati kebun-kebun warga. Jalan ini hanyalah jalan setapak. Dibandingkan melewati jalan raya, jalan setapak ini sebenarnya lebih dekat dengan timpat tinggal empat sekawan itu, terutama rumah Asnan. Bukan hanya Aril, Tio, Asnan, dan Erik saja yang melewati jalan ini jika musim buah. Banyak orang lain yang juga akan melewati jalan tersebut. Terlebih lagi jika angin bertiup kencang.

Sayangnya, sudah beberapa menit empat sekawan itu menunggu, hanya satu buah kuini yang jatuh. Itu pun ternyata sudah dimakan tupai sebagian. Mereka terlihat kecewa.

“Udahlah, kita pulang saja! Aku sudah lapar,” ajak Asnan.

“Pulang aja kau duluan, Nan,” jawab Erik.

“Iya, kita mau tunggu angin kencang sekali lagi!” seru Aril yang berdiri agak jauh dari mereka. Matanya masih liar meneliti semak yang ia sibakkan dengan kaki.

“Ah, gak mau aku! Mana enak pulang sendirian,” jawab Asnan lagi. Langkahnya yang sudah terlanjur duluan beberapa meter, ia surutkan kembali.

Didorong oleh rasa penasaran, keempat anak itu berjalan ke arah kanan mengikuti jalan setapak yang lainnya. Sekitar seratus meter mereka berjalan, aroma wangi kuini merebak mengusik penciuman empat sekawan tersebut. Sontak mata mereka mencari sumber aroma tersebut. Ternyata aroma itu berasal dari sebatang kuini yang pohonnya berada di balik dinding tembok yang ada di sisi jalan. Pohon itu tidak terlalu tinggi, namun buahnya sangat lebat. Sebagian buahnya merunduk ke balik tembok tersebut. Pemandangan itu membuat empat sekawan itu saling senyum.

“Jangan! Itu punya orang!” seru Aril ketika dilihatnya Erik menjolok kuini itu dengan ranting kayu.

“Ah, semua yang ada di sini kan juga punya orang. Apa bedanya?” bela Asnan.

“Bedalah! Yang pohonnya besar di sana itu tumbuh liar,” ujar Aril mempertahankan pendapatnya.

“Bukannya itu juga kebun orang?” tanya  Tio.

“Betul kebun orang, tapi kuininya tidak sengaja ditanam dan tidak sengaja pula dipelihara. Buktinya, sudah sering kita mencari buah kuini ke sana tapi tidak dimarahi pemilik kebun, kan?” Aril mencoba meyakinkan lagi.

“Buggg ...!” Suara buah kuini jatuh ke tanah. Ternyata Erik tetap melanjutkan aksinya. Sedangkan Tio dan Asnan segera mengutip buah tersebut.

“Baru dua, Rik! Tuh, kan masih ada lagi yang udah matang. Pukul aja biar jatuh!” seru Tio.

Hanya hitungan detik, tiga buah kuini secara bergantian terpelanting lagi ke tanah. Tio dan Asnan bersorak gembira. Hanya Aril yang terlihat cemas. Rasa was-was mulai menjalari persaannya. Sedikit pun Aril tidak berminat dengan kuini itu walaupun buahnya terlihat ranum. Yang ada justru rasa takut di hatinya.

“Udah, ah! Aku gak ikut! Nanti ketahuan yang punya!” ujar Aril sambil berbalik arah menuju pulang.

Saat Aril berbalik arah, Tio, Erik, dan Asnan juga memutar kepalanya ke arah Aril. Akan tetapi, seseorang yang amat mereka kenali sedang berkacak pinggang di sudut tembok dinding pembatas.  Sontak mata mereka membelalak karena yang berdiri di sana adalah Pak Gulo. Beliau masih memakai pakaian dinasnya. Bagaimana Pak Gulo tahu mereka di sana? Buah kuini yang sudah di tangan masing-masing, dengan sendirinya turun ke tanah lagi tanpa komando.

“Ini ya, yang kalian pelajari di sekolah tadi?” Tanya Pak Gulo sinis.

Semua menunduk, tak ada yang berani menatap wajah Pak Gulo. Aril yang merasa dirinya tidak terlibat, memberanikan diri untuk berbicara.

“Ss ... saya tidak ikut mengambilnya, Pak,”  kata Aril gugup. Namun tetap saja Aril tidak sanggup menatap wajah guru yang disegani oleh semua siswa di sekolahnya itu.

“Ya, saya sudah tau!” Suara Pak Gulo terdengar ketus, namun membuat hati Aril lega.

Kalau Pak Gulo tahu, itu artinya beliau sudah lama berdiri di sini, pikir Aril. Ah, sungguh memalukan dengan apa yang sudah mereka lakukan.

“Kalian tahu siapa yang punya kuini ini?” tanya Pak Gulo sambil menunjuk pada dahan kuini yang menjulang keluar dinding.

“Ti ... tidak, Pak!” sahut mereka hampir serentak.

“Berarti kalian tidak minta izin untuk memetiknya?” lanjut Pak Gulo geram.

“Iya, Pak.” Aril yang menjawab kali ini.

“Nah, itu namanya apa?” tanya Pak Gulo.

“Mm ... mencuri, Pak!” Jawaban itu pun hampir serentak mereka ucapkan.

“Hukumnya apa mencuri itu?” desak Pak Gulo lagi.

“Dosa, Pak!” Lagi-lagi mereka menjawab dengan kompak.

“Tuh, tau! Kenapa masih dilakukan?”

Kali ini tak ada yang berani menjawab. Masing-masing menyadari bahwa yang mereka lakukan itu salah.

“Bukankah teman kalian si Aril sudah mengingatkan? Kenapa masih dikerjakan juga? Kalau memang kalian mau, minta saja pada yang punya. Lagi pula, seharusnya kalian pulang dulu ke rumah supaya orang tua kalian tidak kecarian!” Kalau orang tua kalian Bapak kasih tau, tentu mereka akan malu. Janganlah suka bikin orang tua kalian malu dan cemas terhadap perangai kalian. Cukup mereka lelah mencari nafkah untuk anaknya!” Suara Pak Gulo tidak lagi terdengar marah. Namun kata-katanya membuat Tio, Erik, dan Asnan merasa terpukul.

“Ma ... maafkan kami, Pak!” kata Erik terlebih dahulu. Ia betul-betul malu dan menyesal karena ia yang bersemangat sekali untuk mengambil kuini itu. Kemudian Asnan dan Tio juga ikut meminta maaf.

“Baiklah, kali ini saya maafkan. Tapi jangan kalian ualangi lagi! Mengambil sesuatu yang bukan hak kita adalah dosa!”

“Iya, Pak,” jawab empat sekawan itu serentak.

Kemudian Erik mengutip lagi kuini yang tergeletak di tanah. Ia menyerahkan buah itu kepada Pak Gulo.

“Kalian bawa aja kuini itu! Nanti dimakan sehabis makan nasi!” ujar Pak Gulo.

“Tapi, Pak ....”

“Sudahlah!” Pak Gulo langsung memotong pembicaraan  Asnan. “Ini adalah kuini saya. Kalau kalian mau lagi besok, tinggal minta sama saya,” lanjut Pak Gulo.

Pernyataan Pak Gulo sontak membuat empat sekawan itu  kaget. Wajah mereka menjadi merah menahan malu.

“Kalau begitu, terima kasih, Pak! Sekali lagi kami minta maaf!”  Keempat anak itu menyalami Pak Gulo secara bergantian. Setelah itu, masih dengan wajah menunduk, semuanya berjalan menuju pulang ke rumah masing-masing.

*****


Minggu, 03 Oktober 2021

Suara Aneh di Kebun Tebu

 Karya Salma


Libur semester ini adalah libur paling menyenangkan bagi empat cucu laki-laki Nenek Asma. Bagaimana tidak, Pada liburan kali ini mereka bisa berkumpul di rumah nenek. Orang tua mereka masing-masing sudah sepakat untuk pulang kampung saat libur. Mereka tinggal di kota yang berbeda. Biasanya selalu ada halangan untuk mereka bisa berkumpul secara bersamaan.

Keempat cucu laki-laki Nenek Asma ini usianya tidak jauh berbeda satu sama lain sehingga pengalaman dan permainan yang mereka sukai pun tidak jauh berbeda. Sekali berkumpul, terlihat sekali rasa bahagia di wajah mereka. Masing-masing berbagi pengalaman tentang teman dan sekolahnya. Bahkan terdengar juga kelakar mereka saat menceritakan guru-guru humoris di sekolah masing-masing. Orang tua mereka dan Nenek Asma juga ikut tertawa mendengarkan kelakar itu.

Ketika ayah Dika mengajak Dika, Mikka, Hanif, dan Syauqi berenang, serentak mereka menolak. Masing-masing beralasan bahwa berenang itu sudah biasa bagi mereka. Tidak ada yang menarik. Justru mereka sudah punya rencana tersendiri tanpa melibatkan orang tua mereka.

“Kami mau ke puncak Bukit Bulat, Om,” kata Syauqi mempertegas penjelasan Dika yang sudah menolak ajakan ayahnya terlebih dahulu.

“Wah, seru juga! Ayo, kita ke sana!” Bunda Syauqi tertarik untuk ikut.

“Aduuh ... Bunda gak usah ikut! Ini khusus kami berempat,” sergah Syauqi pada bundanya.

“O, khusus anak muda, he ... he ...! Baiklah kalau begitu.” Mama Hanif ikut berkomentar.

“Iya, ini acara kami. Mama gak boleh ikut!” tegas Hanif lagi.

Seketika rumah jadi ramai oleh perdebatan kecil yang sengaja dibuat oleh orang tua mereka. Dika sebagai anak laki-laki yang paling besar di antara mereka, bersungut-sungut. Ia merasa tidak dipercaya bisa menjaga diri dan saudara-saudara sepupunya oleh orang dewasa yang ada di rumah itu. Begitu juga Mikka, Hanif, dan Syauqi. Namun, tak beberapa lama senyum mereka kembali mengembang ketika mereka menyadari orang tua mereka hanya bercanda.

Sudah hampir setengah jam Dika, Mikka, Syauki, dan Hanif menelusuri jalan menuju puncak Bukit Bulat. Pemandangan lepas yang sangat menakjubkan di sebelah kiri jalan, membuat mereka tak merasakan lelah. Sepanjang perjalanan, mereka asyik bercengkerama sambil menikmati indahnya pemandangan  ciptaan Sang Khalik. Beberapa kali Mikka membidikkan kameranya pada titik-titik yang menakjubkan. Memang Mikka punya hobi fotografi. Sementara Dika, Hanif dan Syauqi lebih suka menjadi objek gambar yang diambil Mikka.

Tak terasa, Dika, Mikka, Hanif, dan Syauqi sudah berada di area perkebunan tebu. Lereng bukit dipenuhi oleh tanaman tebu. Di lereng bukit sebelah kiri dapat terlihat dengan jelas hamparan kebun tebu yang begitu luas. Ada beberapa pondok yang di sampingnya terlihat kepulan asap. Sepertinya petani tebu sedang membakar sampah-sampah tebu mereka. Lagi-lagi Mikka membidik pemandangan langka itu dengan kameranya. Tak lupa ia mengambil foto Dika, Hanif dan Syauqi dengan latar kebun tebu tersebut. Sedangkan di sisi kanan jalan, mereka hanya dapat melihat batang-batang tebu yang berjejer tanpa tahu seberapa luas kebun tersebut karena posisinya berada pada ketinggian.

Di tengah keasyikannya mengambil foto, tanpa sengaja Mikka mendengar suara aneh. Awalnya ia mengabaikan pendengarannya. Tetapi lama-kelamaan suara itu makin keras.

“Hei, kalian dengar suara itu?” tanya Mikka. Jari telunjuknya kemudian ia tempelkan ke bibirnya sebagai isyarat agar Dika, Hanif, dan Sayuqi berhenti mengoceh.  

Mata Hanif membelalak, sedangkan Syauqi merapatkan tubuhnya ke arah Mikka. “Betul, ada suara aneh,” bisik Hanif.

“Ini kan dekat hutan, barangkali itu suara hewan yang ada di hutan itu,” ungkap Dika.

“Mana ada suara hewan seperti itu! Bukannya itu seperti suara pintu rumah nenek yang dibuka berulang-ulang?” sanggah Hanif lagi. Ia ingat suara pintu rumah nenek ketika dibuka atau ditutup selalu mengeluarkan suara.

“Iya, betul! Aku pun merasa seperti itu. Tapi ini kan kebun tebu. Kita dari tadi tidak melihat rumah satu pun. Kalau pun ada rumah di dalam kebun itu, tak mungkin orang membuka pintu berulang-ulang begitu. Kurang kerjaan kali tuh orang!” Mikka mencoba mengemukakan penalarannya.

Keempatnya mencoba melanjutkan perjalanan mereka. Sedikit lagi mereka akan sampai pada puncak bukit. Akan tetapi, suara aneh itu belum juga hilang. Bahkan seakan-akan suara itu mengikuti mereka.

Tergerak oleh rasa ingin tahu, mereka berbelok ke arah kanan, menuju jalan kecil yang membelah kebun tebu. Jalan itu terlihat bersih. Sepertinya jalan itu digunakan petani tebu untuk mengangkut hasil panennya. Suara aneh itu belum berhenti. Keempat anak laki-laki itu berhenti berjalan untuk memastikan asal suara aneh tersebut. Namun, mereka dikagetkan oleh sosok aneh yang berada tidak jauh dari posisi mereka berdiri. Pakaian yang digunakan orang itu tidak seperti petani biasa. Mantel panjang lengkap dengan topi dan sepatu bot. Tak ada yang berani berbicara. Hanya pandangan masing-masing yang mengisyaratkan banyak tanda tanya dan rasa takut di wajah mereka. Mereka juga segera menarik langkah masuk ke kebun, bersembunyi di balik batang-batang tebu.

“Jangan-jangan, itu maling tebu!” bisik Hanif.

“Iya mungkin. Lihat pakaiannya, sengaja ia tutup seluruh badannya agar tidak dikenali orang,” balas Dika. Sementara Mikka sibuk membidikkan kameranya ke arah objek yang menjadi pusat perhatian mereka.

“Jangan difoto! Nanti kamu ketahuan, bahaya!” cegah Dika.

Mikka terus saja melanjutkan aksinya. Baginya ini objek yang sangat langka. Tidak semua orang dapat merekam maling. Bahkan Mikka dapat mengambil foto saat sosok aneh itu memasukkan beberapa batang tebu ke dalam gerobaknya. Kekhawatiran Dika, Syauqi, dan Hanif tidak dipedulikannya.

“Au! Pipiku luka, perih!” Syauqi setengah menjerit setelah mengusap pipinya yang terasa perih. Ada jejak darah tipis di telapak tangannya.

“Kamu kenapa?” tanya Dika sambil mendekati Syauqi.

“Ini, Bang, pipiku tergores daun tebu,” jawab Syauqi dengan gaya sedikit manja.

“Alaah, hanya sedikit, cengeng kali!” celetuk Hanif sedikit jengkel.

“Cobalah gores pipimu dengan daun tebu itu, biar kamu rasa perihnya gimana!” balas Syauqi sengit.

Pertengkaran kecil pun terjadi seketika. Mereka lupa sedang berada di mana. Bahkan tujuan mereka semula untuk mencari sumber suara aneh tadi pun jadi terlupakan.

“Hei! Siapa kalian?” Tiba-tiba orang aneh yang berpakaian serba tertutup tadi sudah berada di samping empat bersaudara itu.

Bentakan orang aneh tersebut membuat keempatnya menjadi gugup. Orang itu tetap memakai maskernya, sehingga mereka tidak dapat mengenali wajahnya. Mata Syauqi mulai berkaca-kaca menahan rasa perih, kesal, dan takut. Sedangkan Hanif hanya mampu menunduk.

“Mm ... ka ... kami mau ke puncak bukit, Pak!” jawab Dika memberanikan diri.

“Mau ke puncak bukit, kenapa sampai di kebun ini? Jangan-jangan kalian mau ngambil tebu, ya?” tebak orang aneh itu.

“Tidak, Pak! Kami ke sini karena tadi mendengar suara aneh dari kebun ini. Kami ingin tahu, suara apa itu,” jelas Mikka sambil membenarkan tutup kameranya.

“Kalian dari mana?” selidik orang bermantel itu.

“Rumah nenek kami di bawah sana,” ucap Dika. Ia memutar kepalanya seakan mencari arah letak rumah nenek mereka. Tangannya pun menunjuk arah yang tak jelas.

“Kalian cucu Bu Asma?” tebak orang aneh itu.

“Iyaa!” jawab mereka hampir serentak.

Hanif dan Syauqi terlihat mulai tenang. Rasa takut sudah hilang pada diri mereka, berganti kembali dengan rasa penasaran. Sementara orang aneh itu pun tetap tidak membuka masker atau topi yang ia kenakan. Herannya, orang aneh itu mengenal Nenek Asma.

“Ayo, ikut saya!” ajak orang aneh itu kemudian. Ia pun berjalan mendahului keempat anak itu.

Walaupun dengan perasaan tak menentu, keempat bersaudara itu tetap mengikuti langkah orang aneh tadi. Setelah beberapa meter, mereka melewati turunan. Dari sana terlihat ada asap tipis yang berasal dari atap sebuah pondok. Lagi-lagi suara aneh yang semula mereka dengar, sekarang makin nyaring di telinga. Namun, ada aroma wangi yang menyusupi hidung mereka.

Akhirnya rombongan kecil itu berhenti di sebuah pondok. Pemandangan yang terpampang di depan mata, menjawab pertanyaan yang sejak tadi tersimpan di benak mereka masing-masing.

“Ternyata kalian cucunya almarhum Ustaz Muslim, ya? Beliau adalah guru mengaji saya dulu,” ujar Pak Kumis, pemilik kebun tebu itu setelah laki-laki yang bermantel tadi menjelaskan kedatangan mereka.

Laki-laki yang terlihat aneh tadi ternyata adalah pekerja kebun yang digaji oleh Pak Kumis. Nama beliau Pak Yo. Ternyata pakaian serba tertutup yang ia gunakan bertujuan untuk melindungi kulitnya dari goresan daun tebu yang tajam serta bulu-bulu halus pada daun yang bisa juga menimbulkan rasa gatal.  

Tebu yang sudah dipanen Pak Yo diolah di kilangan tebu milik Pak Kumis. Pak Kumis masih menggunakan cara tradisional dalam mengolah tebu untuk dijadikan gula merah. Kata Pak Kumis, ia tetap akan mempertahankan cara tersebut untuk menjaga warisan orang tuanyaTebu digiling dengan alat yang terbuat dari dua batang besi bulat yang bergigi. Besi itu akan berputar dengan arah yang berlawanan untuk menggiling tebu. Untuk menggerakkannya digunakan  tenaga kerbau yang bergerak membentuk lingkaran. Uniknya, mata kerbau ditutup dengan tempurung kelapa yang dirancang seperti kaca mata. Kata Pak Kumis, mata kerbau sengaja ditutup agar kerbaunya tidak berhenti bergerak. Ketika kerbau mulai bergerak, maka kilang tebu itu mengeluarkan suara khas. Suara itulah yang sejak tadi mereka dengar.

Sekitar lima meter dari kilang tersebut, terlihat ada dua tungku. Di sana ada istri Pak Kumis yang sedang memasak air tebu untuk dijadikan gula merah. Dekat  tungku itu juga sudah tersedia cetakan gula merah yang terbuat dari batok kelapa.

Ternyata, proses pembuatan gula tebu itu telah menarik perhatian Dika, Mikka, Hanif, dan Syauqi. Mereka memperhatikan dengan saksama semua proses yang dikerjakan Pak Kumis berserta istri beliau. Dengan senang hati Pak Kumis juga memberi penjelasan saat mereka menanyakan sesuatu. Mikka tentunya tidak lupa merekam kegiatan di kilang Pak Kumis tersebut dengan kameranya.

Begitu keempatnya pamit hendak melanjutkan perjalanan ke puncak bukit, Pak Kumis memberikan gula dan empat batang tebu kepada mereka.

“Bawa ini pulang buat oleh-oleh. Sampaikan salam Bapak pada nenek dan orang tua kalian,” kata Pak Kumis dengan ramahnya.

Sebenarnya mereka malu untuk menerima pemberian itu, tetapi Pak Kumis dan istrinya memaksa agar anak-anak itu tidak menolak pemberian mereka. Tentunya mereka sangat berterima kasih karena perjalanan mereka hari ini menjadi sangat berharga. Sesuatu yang selama ini tidak mereka ketahui, mereka dapatkan di kebun tebu Pak Kumis.

*****


Jumat, 01 Oktober 2021

O o, Kamu Ketahuan!

Karya Salma 

“Yes! Tempatnya strategis!” gumam Leo setelah melihat tempat duduknya dalam ruang ujian semester yang akan dilaksanakan mulai hari Senin. Bangku yang akan ditempati Leo tepat di sebelah dinding urutan ke tiga dari depan. Tempat itulah yang menurut Leo strategis.

Seperti mendapatkan sebuah hadiah, Leo bersenandung riang di kamarnya sepulang sekolah. Leo sangat yakin, ujian semester ini dia akan mendapat nilai yang tinggi. Leo sekarang membuat janji dengan Danni. Mereka akan main bola sore ini di lapangan.

“Leo, kamu mau ke mana?” tanya ibunya begitu  melihat Leo mengikatkan tali sepatunya.

“Main bola sama Danni, Bu,” jawab Leo mulai bangkit dan menuntun sepedanya ke halaman.

“Mainnya jangan kelamaan! Nanti kamu capek dan tidak belajar malam. Ingat, hari Senin kamu ujian!” Ibu mengingatkan Leo akan kewajibannya untuk belajar menjelang ujian. Bukan hanya untuk ujian, setiap hari Ibu mengingatkan Leo agar selalu belajar, agar selalu mengerjakan PR. Ibu tidak mau lagi mendengar laporan wali kelas Leo saat dia tidak mengerjakan PR yang diberikan guru.

“Iya, Bu. Leo gak lama-lama mainnya!” Leo kemudian menaiki sepedanya meninggalkan ibu yang geleng-geleng kepala.

Lima menit menjelang magrib, Leo kembali ke rumah. Janjinya untuk tidak lama-lama ternyata hanya di mulut Leo saja. Ayah menatap wajah Leo dengan kesal. Lagi-lagi Leo melanggar peraturan ayahnya. Ayah mengajari agar sebelum magrib anggota di rumahnya sudah selesai mandi. Begitu azan magrib, semua sudah siap-siap untuk menunaikan salat Magrib. Ayah tidak mengeluarkan kata-katanya. Ia hanya menatap tajam Leo yang berdiri kaku di samping sepedanya. Ia tak berani menatap manik mata ayah. Ia menyadari bahwa ia salah. Setelah ayah berangkat ke masjid, barulah Leo beranjak dari tempat dia mematung.

“Segera mandi, trus salat!” titah Ibu kepada Leo.

Seperti kucing dibawakan lidi, Leo hanya mampu mengangguk dan segera ke kamar mandi. Dalam hatinya ia menyadari bahwa Ayah dan Ibu marah dengan sikapnya.

Sehabis makan malam, Leo kembali mendapat nasihat dari ayah agar belajar untuk ujian ini. Ini adalah ujian kenaikan kelas. Ayah dan Ibu tidak mau Leo tinggal kelas gara-gara malas belajar. Leo bukanlah anak bodoh, namun jika malas belajar, sepandai apa pun orang belum tentu dapat menjawab soal-soal ujiannya. Itu sebabnya Ayah dan Ibu selalu mengingatkan Leo. Lagi-lagi Leo mengangguk untuk mengiyakan nasihat  mereka.      Begitu sampai di kamar, Leo meraih handphone-nya yang terletak di atas meja. Niat semula membuka buku, malah yang ia buka handphone. Apalagi ada pesan dari Danni yang menanyakan sudah level berapa Leo memainkan game yang kemarin ditunjukkannya. Hampir setengah jam mereka berdiskusi perkara game itu. Merasa tertantang oleh Danni yang sudah sampai pada level tujuh, Leo memacunya malam itu juga. Ia baru sampai pada level empat. Kalau bisa ia akan menyamai Danni. Ia pun berusaha untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya.

“Leo, sebelum tidur, sepedanya disimpan dulu!” Terdengar suara Ibu sambil mengetuk pintu kamar Leo.

“Ya, Bu,” balas Leo tanpa mengalihkan pandangannya dari layar androidnya itu.

Sudah pukul sebelas malam, setelah rumah terdengar sepi menandakan seisinya sudah tidur, saat itulah Leo memasukkan sepedanya ke dalam rumah.  Setelah itu, ia melanjutkan membuka game itu lagi sampai dia tidak menyadari matanya terlelap.

      ***

Pagi ini cuaca lumayan cerah. Siswa datang ke sekolah lebih awal. Sepertinya mereka takut telat karena hari ini adalah hari pertama ujian akhir semester genap. Taman sekolah pun terlihat sepi, tidak seperti biasanya. Begitu sampai di sekolah anak-anak langsung menuju ruang ujiannya masing-masing. Sebagian mereka terlihat sibuk membuka buku seraya menunggu waktu ujian dimulai. Ada juga beberapa siswa yang asyik bercengkrama di teras kelas.

Sesampai di kelas, Leo memasukkan sesuatu ke laci mejanya setelah ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Tak ada yang mengetahui apa yang sedang Leo simpan di dalam laci mejanya. Kemudian Leo ikut bergabung dengan Danni dan teman-temannya yang duduk-duduk di teras.

Setelah bel berbunyi, seluruh siswa mulai berbaris di depan ruangan ujian. Mereka akan melihat dan menerka-nerka guru yang akan mengawas di ruangannya masing-masing. Banyak juga yang merasa pengawas ujian berpengaruh terhadap ujian mereka seperti halnya Leo dan Danni.

Leo menelan ludah cemas ketika yang masuk sebagai pengawas di ruangannya adalah Pak Bara. Pak Bara sangat terkenal dengan disiplinnya. Beliau selalu mengawasi ujian dengan ketat. Benar saja, sebelum duduk di kursi masing-masing, Pak Bara menginstruksikan agar semua tas siswa ditaruh di depan kelas. Yang boleh dibawa ke tempat duduk hanya pulpen dan kartu ujian. Pak Bara juga mengingatkan agar tidak ada yang mencoba untuk curang dalam ujian.

Begitu membaca soal, Leo terlihat gelisah. Soal nomor satu dan dua dari mata pelajaran IPA itu sudah membuat dia pucat. Yang ditanya tentang besarnya resultan dan arah gaya. Walaupun soalnya pilihan ganda, namun Leo tidak bisa menentukan mana jawaban yang tepat. Ia lewati soal tersebut, beralih ke soal berikutnya. Ternyata lagi-lagi membuat keningnya berkerut. Bagaimana tidak, jika pertanyaan yang tertera di sana adalah menghitung cepat rambat gelombang, mengukur kedalaman laut, dan hukum pemantulan cahaya. Bukankah itu ada rumusnya? Leo tidak ingat sama sekali rumus untuk mencarinya.

Tangan Leo berkeringat. Belum apa-apa, ia sudah mengelap tangannya ke celananya. Diliriknya Lala yang duduk di depannya, Lala tenang-tenang saja. Sekilas ia coba mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, sepertinya teman-temannya mengerjakan soal itu tanpa hambatan. Malahan mereka sibuk menulis di kertas buram yang sengaja dibagikan untuk menghitung. Badan Leo mulai panas dingin. Lembar jawabannya masih kosong. Kemudian, dengan sudut matanya, Leo melirik Pak Bara. Ternyata Pak Bara sedang sibuk membuka laptopnya. Kesempatan itu tidak disia-siakan Leo. Ia mengeluarkan benda pipih yang tadi disimpannya di laci meja. Dengan mata waspada, ia mulai berselancar dengan benda pipih itu sehingga ia dapat menjawab tiga  soal sekaligus.

Leo segera menyimpan benda pipih itu lagi di laci, begitu dilihatnya Pak Bara berdiri. Ia pura-pura membaca soal dan mencoret-coret kertas buram. Sedangkan sudut matanya tetap mengintai gerak-gerik Pak Bara. Setelah Pak Bara kembali fokus pada laptopnya, Leo kembali melanjutkan aksinya. Kali ini, Leo tidak bisa membagi perhatiannya. Apa yang dicarinya belum ia temukan jawabannya di benda pipih itu. Dicobanya lagi untuk lebih fokus, barulah Leo mendapatkan dua jawaban lagi. Tanpa disadari Leo, ada sepasang mata yang sedang mengamati aktivitasnya saat itu.

“Sini, Bapak bantu!” Sebuah suara setengah berbisik tepat di samping telinga Leo disertai sebuah tangan meraih benda pipih ajaib itu dari tangan Leo.

Seperti petir di siang bolong menyentakkan kesadaran Leo. Matanya tak sanggup melihat wajah Pak Bara . Ia hanya mampu tertunduk. Lagi-lagi keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Pak Bara mengambil lembar jawaban Leo. Sejenak Pak Bara menimang-nimang kertas jawaban itu. Setelah itu, Pak Bara mengembalikannya pada Leo.

Masih untung Leo disuruh melanjutkan ujian IPA itu lagi. Kalau tidak, tentu nilai IPA Leo akan gagal.  Akan tetapi, kali ini Leo hanya mampu mereka-reka jawaban soal demi soal yang tersisa. Perasaan tidak nyaman pun mulai menggerogoti hati Leo. Ia mengerjakan soal itu dengan dada berdebar-debar dan was-was. 

“Leo, temui saya di kantor nanti sehabis ujian!” ujar Pak Bara saat menerima lembar jawaban dari Leo.

Leo hanya mampu mengangguk dengan wajah pucat. Tatapan tajam Pak Bara membuat tangan dan kakinya gemetar. Tak dapat ia bayangkan lagi seandainya Pak Bara melaporkan perbuatannya kepada wali kelas, guru IPA, dan guru BK. Leo juga tidak berani meminta handphone-nya kepada Pak Bara.

“Oo... oo ... kamu ketahuan ...!” Lala dan Agnes, teman sekelas Leo, serentak menirukan potongan dari lagu Matta Band itu.

“Menyontek lagi ... hi ... hi ...,” lanjut Marta diiringi gelak tawa temannya yang lain.

Leo sempat menatap tajam pada Marta. Selama ini memang Leo sering membujuk Marta agar  memberikan contekan PR. Namun, saat ini Leo tak mampu berkata-kata, kecuali berjalan menuju ruangan guru.

Begitu sampai di ruang guru, ternyata Leo mendapati Pak Bara sedang berbicara dengan Pak Hendra, wali kelasnya. Sudah barang tentu Pak Bara melaporkan perbuatan buruk Leo saat ujian tadi. Terlihat wajah Pak Hendra menahan emosi saat menerima handphone sitaan milik Leo dari Pak Bara. Sorotan tajam mata Pak Hendra membuat keringat dingin Leo kembali muncul. Belum lagi hardikan dan pertanyaan Pak Hendra yang sinis kepadanya. Leo pun menangis menerima kenyataan ini.

Akhirnya, setelah mendapat nasihat dari Pak Hendra dan Pak Bara, Leo meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan buruknya itu. Walaupun begitu, tetap saja Leo membawa surat panggilan untuk orang tuanya agar datang ke sekolah. Untuk sementara, handphone milik Leo tetap ditahan oleh Pak Hendra. Beliau akan memberikan langsung pada orang tua Leo besok.

Dengan tangan gemetar, Leo memberikan surat panggilan dari sekolah kepada ibunya. Ibu mengernyitkan keningnya begitu menerima surat tersebut. Setelah membaca surat tersebut, Ibu mengerti apa yang telah terjadi dengan Leo. Maka lagi-lagi Leo harus menerima kata-kata pedas, kali ini dari ibunya. Bahkan, ia juga harus menahan rasa sakit di telinganya akibat jeweran Ibu. Sudah dapat dibayangkan bagaimana pula nanti tanggapan ayahnya setelah pulang bekerja. Lagi-lagi Leo menangis. Ia sangat menyesal. Dalam hati, Leo sudah bertekad tidak akan menyontek lagi. Mulai saat itu ia pastikan dirinya akan belajar sungguh-sungguh.

*****

Hujan Awal Januari

Oleh Salma Deras Bersama gemuruh Menggenang Menggiring berjubel sampah Deras Diiringi badai Gelisah Menyasar jalan-jalan berbatu Deras Membe...