Oleh Salma
Sudah menjadi tradisi keluarga besar kami, saat liburan sekolah berkumpul di rumah orang tua. Di samping menjalin silaturrahim juga kesempatan menyenangkan orang tua.
Menjelang sampai di rumah, aku tak lupa membeli makanan untuk anak-anak dan keponakanku. Mas suami menyarankan agar beli sate saja untuk anak-anak. Itu sebabnya, sang suami berhenti tepat di depan warung sate.
"Sate, Bu?" tawar ibu pedagang sate ramah.
"Berapa satu bungkus?" tanyaku. Sudah menjadi kebiasaanku, bertanya harga dulu sebelum membeli sesuatu. Di samping takut kaget dengan harga yang fantastis, aku juga takut uang yang di dompet tidak mencukupi.
"Satu porsi 13 ribu, beli setengah 10 ribu." Begitu jawaban dari pedagang sate.
Antara mikir harga dan jumlah bungkus sate yang mau aku beli, mataku fokus pada bentuk lontong yang ada di atas gerobak sate. Segera aku menyadari bahwa itu sate madura. Aku intip lagi tulisan di depan gerobak, ternyata betul itu sate madura. Sementara anakku sendiri kurang suka sate madura. Aku minta maaf pada ibu pedagang dan berjalan ke seberang jalan.
Jelas aku lihat tulisan "Sate Ajo Piaman". Aku mendekat dan bertanya lagi berapa harga sate itu setengah porsi.
"Setengah 6.000, sebungkus 10.000, Bu" jawab sang pedagang.
Aku langsung pesan setengah-setengah porsi sebanyak anggota keluarga di rumah. Setelah membayar sesuai pesanan, aku kembali ke mobil.
"Mas, pedagang sate belajar matematikanya di mana ya? tanyaku pada suami begitu sampai di mobil.
Suamiku yang dari tadi setia menungguiku belanja malah balik nanya.
"Emang kenapa?"
"Aku nanya pedagang sate madura, satenya satu porsi tiga belas ribu, setengahnya sepuluh ribu. Bukankah seharusnya enam ribu lima ratus setengahnya, Mas? Trus, ini sate pariaman satu porsinya sepuluh ribu dan setengah enam ribu," jawabku senyum-senyum.
"Hmmm, itu namanya pembulatan ke atas. Udah, ah! Yang jelas bukan Mas gurunya," jawab suamiku yang memang guru matematika itu sambil terkekeh.
***
Sorkam, 23 Desember 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar