Karya Salma
Pelajaran menulis surat di sekolah hari
ini membuat Ridwan benar-benar bersemangat. Sepulang sekolah, Ridwan ingin
segera menulis surat untuk ayahnya. Iya, surat untuk Ayah. Sesuai dengan tugas
yang diberikan Bu Leni tadi, menulis surat untuk orang terdekat. Bukankah ayah
Ridwan sudah lama tidak pulang? Ayah pergi merantau saat Ridwan kelas lima.
Sekarang Ridwan sudah kelas delapan. Berarti ayah Ridwan sudah tiga tahun
merantau. Namun, selama tiga tahun baru dua kali Ridwan dan ibunya menerima
kabar dari sang ayah. Pertama, saat ayahnya menyatakan sudah sampai di Jawa,
walaupun tidak dijelaskan daerah kecilnya. Kabar kedua sekitar enam bulan
setelah ayahnya berada di rantau, sekaligus mengirimkan uang untuk biaya hidup
Ridwan dan ibunya. Belakangan, Ridwan mengetahui Ayah menelepon Mak Tua
Halimah, kakaknya. Mak Tua Halimah mengatakan bahwa ayah Ridwan sudah mempunyai
usaha rumah makan sendiri, bahkan juga sudah punya beberapa orang karyawan di
Semarang. Ridwan dan ibunya sangat senang mendengar kabar baik itu. Tapi,
sayangnya ayah Ridwan tidak mengirim apa-apa untuk mereka.
Ridwan harus membantu ibunya sepulang
sekolah. Banyak pekerjaan yang tidak bisa Ibu selesaikan jika tidak dibantu
Ridwan. Maklum, mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ibu membuka warung di samping rumah. Sore hari warung itu ramai dikunjungi oleh
ibu-ibu yang membeli sayuran dan kebutuhan dapur lainnya. Itu sebabnya Ridwan
tidak punya waktu untuk bermain dengan teman-teman sebayanya.
Keinginan Ridwan menulis surat untuk
ayahnya diwujudkan sehabis magrib. Dalam benak Ridwan, banyak hal yang ingin ia
sampaikan dalam surat itu. Ia menulis surat itu pada buku latihannya sebagai
tugas sekolah yang diberikan Bu Leni.
“Buat
Ayah
Assalamualaikum wr wb.
Semoga Ayah tetap dalam lindungan Allah swt. dan selalu diberi kesehatan
serta rezeki yang melimpah. Begitu juga Ridwan dan Ibu di kampung. Aamiin!
Ridwan sangat merindukan Ayah. Sudah lama sekali rasanya Ridwan tidak
bertemu ayah. Ridwan sangat berharap kita bisa segera berkumpul lagi. Pernah
tiga kali Ridwan menghubungi nomor Ayah melalui telepon genggam Mak Tua
Halimah, tetapi nomor ayah selalu tidak aktif. Ingin rasanya Ridwan menyusul
Ayah ke Jawa ketika libur sekolah, tapi Ridwan belum siap. Ridwan belum punya
cukup uang untuk ongkos ke sana. Ridwan sedang berusaha menabung sekarang, Yah.
Nanti kalau tabungan Ridwan sudah cukup,
Ridwan akan menyusul Ayah ke rantau.
Oh, ya, Ayah...kalau Ridwan nanti lulus SMP, Ridwan ingin melanjutkan
sekolah ke SMK. Ridwan suka sekali bidang otomotif. Setamat SMK itu, Ridwan
akan bekerja agar Ibu tidak terlalu capek mencari uang lagi.
Cukup sekian dulu surat dari Ridwan. Jika ada kata-kata Ridwan yang
kurang berkenan di hati Ayah, Ridwan minta maaf.
Wassalam dari Ananda
Ridwan”
Demikian surat yang ditulis Ridwan. Setelah ia membaca surat itu kembali, air mata meleleh membasahi pipinya. Ada rasa yang berkecamuk di dadanya yang tidak ia mengerti. Isi surat itu pun sebenarnya belum mewakili apa yang ia rasakan. Masih banyak yang hendak ia sampaikan kepada ayahnya, namun ia tak mampu menulis lebih dari itu. Setelah menyalin surat itu pada selembar kertas, Ridwan melipat surat itu. Itulah yang hendak ia kirimkan kepada ayahnya.
Hari Minggu Ridwan menaiki sepedanya ke
rumah Mak Tua Halimah. Ridwan harus mengayuh sepeda selama setengah jam untuk
sampai ke sana. Ia ingin meminta alamat yang jelas agar surat yang ia kirim
bisa langsung sampai ke tangan ayahnya. Sesampai di sana, kakak perempuan
ayahnya itu memeluk Ridwan penuh haru. Bahkan Mak Tua Halimah berkali-kali
menahan linangan air matanya saat berbicara dengan Ridwan. Entah apa yang
membuat wanita paruh baya itu demikian.
“Biarlah Mak Tua yang mengirimkan surat
itu ke ayahmu,” kata Mak Tua Halimah dengan suara agak parau.
Dengan senang hati pula Ridwan memberikan
surat yang sudah beramplop itu kepada mak tuanya. Ridwan yakin jika Mak Tua yang
mengirim, surat itu tentu cepat sampai ke tangan ayahnya.
Tidak seperti kedatangannya dua bulan yang
lalu, Mak Tua tidak lagi menawarkan Ridwan untuk menelepon ayahnya. Sebelumnya
Mak Tua selalu menghubungi ayah Ridwan ketika Ridwan datang. Sayangnya, nomor
telepon yang dituju selalu tidak aktif. Hari ini Ridwan tidak lagi berharap
ajakan Mak Tua untuk menelepon ayahnya. Ia hanya berharap suratnya segera
sampai ke tangan sang ayah.
***
Tiga bulan berlalu, harapan demi harapan
dipupuk Ridwan dalam hatinya untuk mendapatkan surat balasan dari sang ayah.
Seiring dengan itu, kerinduan pada sang ayah pun seakan menggunung. Namun,
sepertinya hanya tinggal harapan. Tak ada kabar apa pun yang ia terima.
Beberapa kali Ridwan mencoba mencari tahu kepada Mak Tua Halimah tentang surat
yang ia kirim, selalu dijawab bahwa suratnya sudah dikirim dan pasti sampai
pada ayahnya. Sabar dan sabar, selalu itu yang disampaikan Mak Tua kepada
Ridwan. Hanya anehnya, Mak Tua selalu terlihat seperti orang menahan tangis. Ridwan
pun tidak punya keberanian untuk bertanya banyak pada mak tuanya itu.
Di
balik kerinduan Ridwan, ada kebohongan besar yang disimpan Mak Tua Halimah.
Bukan karena teganya Mak Tua Halimah, namun ada hal yang belum bisa
disampaikannya kepada Ridwan.
Nun di seberang sana, seorang laki-laki
sedang membaca sepucuk surat untuk kesekian kalinya dari balik jeruji besi.
Setiap kali ia membaca surat itu, air matanya bercucuran. Surat yang
diterimanya beberapa bulan yang lalu itu sudah terlihat lusuh. Surat yang tak
sanggup ia membalasnya. “Maafkan Ayah, Ridwan. Saat ini ayahmu ini belum bisa
membalas suratmu. Tunggulah Ayah keluar dari penjara! Ayah akan ceritakan semua
padamu. Tentang kerasnya hidup. Juga tentang keadilan yang bisa dibeli,”
gumamnya seraya melipat kembali surat itu.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar