Karya Salma
Sudah
lebih sepuluh tahun Pak Gulo tinggal di kampung ini. Pak Gulo ditempatkan
sebagai guru SMP di sini sehingga beliau harus meninggalkan kampung halamannya
yang terletak di Pulau Nias. Selain mengajar, Pak Gulo juga senang berkebun. Tanah
di sekitar rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sekolah, ditanami dengan
berbagai jenis tanaman. Beberapa tanaman
itu sudah besar-besar dan sudah berbuah. Saat musim buah seperti rambutan,
kuini, atau durian, Pak Gulo selalu membawa buah itu ke sekolah untuk dimakan
bersama guru-guru lain.
Pada bulan ini bertepatan dengan musim
buah kuini. Pohon kuini Pak Gulo juga berbuah. Melihat buahnya yang lebat, Pak
Gulo sudah berniat untuk membagikan buah kuini itu kepada bapak dan ibu guru di sekolah lagi. Barangkali sekitar
dua atau tiga hari lagi buah itu baru bisa dipanen.
***
Aril, Tio, Asnan, dan Erik berjalan
bersama pulang sekolah seperti biasanya. Empat sahabat itu selalu berangkat dan
pulang sekolah bersama. Walaupun berlainan kelas, mereka tetap sepakat untuk
berangkat bersama. Siang itu mulai mendung. Angin bertiup agak kencang. Jika
sudah seperti ini, anak-anak paling suka berlari ke bawah pohon kuini. Angin
akan menjatuhkan buah-buah kuini yang sudah matang.
“Kita lewat jalan pintas aja, gimana?”
usul Tio pada teman-temannya.
“Oke, setuju!” balas mereka serempak.
Senyum mengembang dari bibir masing-masing. Sepertinya mereka sudah sama-sama
paham mengapa Tio memberi usul seperti itu.
Jalan pintas yang mereka maksud adalah
melewati kebun-kebun warga. Jalan ini hanyalah jalan setapak. Dibandingkan
melewati jalan raya, jalan setapak ini sebenarnya lebih dekat dengan timpat
tinggal empat sekawan itu, terutama rumah Asnan. Bukan hanya Aril, Tio, Asnan,
dan Erik saja yang melewati jalan ini jika musim buah. Banyak orang lain yang
juga akan melewati jalan tersebut. Terlebih lagi jika angin bertiup kencang.
Sayangnya, sudah beberapa menit empat
sekawan itu menunggu, hanya satu buah kuini yang jatuh. Itu pun ternyata sudah
dimakan tupai sebagian. Mereka terlihat kecewa.
“Udahlah, kita pulang saja! Aku sudah
lapar,” ajak Asnan.
“Pulang aja kau duluan, Nan,” jawab Erik.
“Iya, kita mau tunggu angin kencang
sekali lagi!” seru Aril yang berdiri agak jauh dari mereka. Matanya masih liar
meneliti semak yang ia sibakkan dengan kaki.
“Ah, gak mau aku! Mana enak pulang
sendirian,” jawab Asnan lagi. Langkahnya yang sudah terlanjur duluan beberapa
meter, ia surutkan kembali.
Didorong oleh rasa penasaran, keempat
anak itu berjalan ke arah kanan mengikuti jalan setapak yang lainnya. Sekitar
seratus meter mereka berjalan, aroma wangi kuini merebak mengusik penciuman
empat sekawan tersebut. Sontak mata mereka mencari sumber aroma tersebut.
Ternyata aroma itu berasal dari sebatang kuini yang pohonnya berada di balik dinding
tembok yang ada di sisi jalan. Pohon itu tidak terlalu tinggi, namun buahnya
sangat lebat. Sebagian buahnya merunduk ke balik tembok tersebut. Pemandangan
itu membuat empat sekawan itu saling senyum.
“Jangan! Itu punya orang!” seru Aril
ketika dilihatnya Erik menjolok kuini itu dengan ranting kayu.
“Ah, semua yang ada di sini kan juga
punya orang. Apa bedanya?” bela Asnan.
“Bedalah! Yang pohonnya besar di sana itu
tumbuh liar,” ujar Aril mempertahankan pendapatnya.
“Bukannya itu juga kebun orang?” tanya Tio.
“Betul kebun orang, tapi kuininya tidak
sengaja ditanam dan tidak sengaja pula dipelihara. Buktinya, sudah sering kita
mencari buah kuini ke sana tapi tidak dimarahi pemilik kebun, kan?” Aril
mencoba meyakinkan lagi.
“Buggg ...!” Suara buah kuini jatuh ke
tanah. Ternyata Erik tetap melanjutkan aksinya. Sedangkan Tio dan Asnan segera
mengutip buah tersebut.
“Baru dua, Rik! Tuh, kan masih ada lagi
yang udah matang. Pukul aja biar jatuh!” seru Tio.
Hanya hitungan detik, tiga buah kuini
secara bergantian terpelanting lagi ke tanah. Tio dan Asnan bersorak gembira.
Hanya Aril yang terlihat cemas. Rasa was-was mulai menjalari persaannya.
Sedikit pun Aril tidak berminat dengan kuini itu walaupun buahnya terlihat
ranum. Yang ada justru rasa takut di hatinya.
“Udah, ah! Aku gak ikut! Nanti ketahuan
yang punya!” ujar Aril sambil berbalik arah menuju pulang.
Saat Aril berbalik arah, Tio, Erik, dan
Asnan juga memutar kepalanya ke arah Aril. Akan tetapi, seseorang yang amat
mereka kenali sedang berkacak pinggang di sudut tembok dinding pembatas. Sontak mata mereka membelalak karena yang
berdiri di sana adalah Pak Gulo. Beliau masih memakai pakaian dinasnya. Bagaimana
Pak Gulo tahu mereka di sana? Buah kuini yang sudah di tangan masing-masing,
dengan sendirinya turun ke tanah lagi tanpa komando.
“Ini ya, yang kalian pelajari di sekolah
tadi?” Tanya Pak Gulo sinis.
Semua menunduk, tak ada yang berani
menatap wajah Pak Gulo. Aril yang merasa dirinya tidak terlibat, memberanikan
diri untuk berbicara.
“Ss ... saya tidak ikut mengambilnya,
Pak,” kata Aril gugup. Namun tetap saja
Aril tidak sanggup menatap wajah guru yang disegani oleh semua siswa di
sekolahnya itu.
“Ya, saya sudah tau!” Suara Pak Gulo
terdengar ketus, namun membuat hati Aril lega.
Kalau Pak Gulo tahu, itu artinya beliau
sudah lama berdiri di sini, pikir Aril. Ah, sungguh memalukan dengan apa yang
sudah mereka lakukan.
“Kalian tahu siapa yang punya kuini ini?”
tanya Pak Gulo sambil menunjuk pada dahan kuini yang menjulang keluar dinding.
“Ti ... tidak, Pak!” sahut mereka hampir
serentak.
“Berarti kalian tidak minta izin untuk
memetiknya?” lanjut Pak Gulo geram.
“Iya, Pak.” Aril yang menjawab kali ini.
“Nah, itu namanya apa?” tanya Pak Gulo.
“Mm ... mencuri, Pak!” Jawaban itu pun
hampir serentak mereka ucapkan.
“Hukumnya apa mencuri itu?” desak Pak Gulo
lagi.
“Dosa, Pak!” Lagi-lagi mereka menjawab
dengan kompak.
“Tuh, tau! Kenapa masih dilakukan?”
Kali ini tak ada yang berani menjawab.
Masing-masing menyadari bahwa yang mereka lakukan itu salah.
“Bukankah teman kalian si Aril sudah
mengingatkan? Kenapa masih dikerjakan juga? Kalau memang kalian mau, minta saja
pada yang punya. Lagi pula, seharusnya kalian pulang dulu ke rumah supaya orang
tua kalian tidak kecarian!” Kalau orang tua kalian Bapak kasih tau, tentu
mereka akan malu. Janganlah suka bikin orang tua kalian malu dan cemas terhadap
perangai kalian. Cukup mereka lelah mencari nafkah untuk anaknya!” Suara Pak
Gulo tidak lagi terdengar marah. Namun kata-katanya membuat Tio, Erik, dan
Asnan merasa terpukul.
“Ma ... maafkan kami, Pak!” kata Erik
terlebih dahulu. Ia betul-betul malu dan menyesal karena ia yang bersemangat
sekali untuk mengambil kuini itu. Kemudian Asnan dan Tio juga ikut meminta
maaf.
“Baiklah, kali ini saya maafkan. Tapi
jangan kalian ualangi lagi! Mengambil sesuatu yang bukan hak kita adalah dosa!”
“Iya, Pak,” jawab empat sekawan itu
serentak.
Kemudian Erik mengutip lagi kuini yang
tergeletak di tanah. Ia menyerahkan buah itu kepada Pak Gulo.
“Kalian bawa aja kuini itu! Nanti dimakan
sehabis makan nasi!” ujar Pak Gulo.
“Tapi, Pak ....”
“Sudahlah!” Pak Gulo langsung memotong
pembicaraan Asnan. “Ini adalah kuini
saya. Kalau kalian mau lagi besok, tinggal minta sama saya,” lanjut Pak Gulo.
Pernyataan Pak Gulo sontak membuat empat
sekawan itu kaget. Wajah mereka menjadi
merah menahan malu.
“Kalau begitu, terima kasih, Pak! Sekali
lagi kami minta maaf!” Keempat anak itu
menyalami Pak Gulo secara bergantian. Setelah itu, masih dengan wajah menunduk,
semuanya berjalan menuju pulang ke rumah masing-masing.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar