Senin, 04 Oktober 2021

Pohon Kuini Pak Gulo

 Karya Salma


Sudah lebih sepuluh tahun Pak Gulo tinggal di kampung ini. Pak Gulo ditempatkan sebagai guru SMP di sini sehingga beliau harus meninggalkan kampung halamannya yang terletak di Pulau Nias. Selain mengajar, Pak Gulo juga senang berkebun. Tanah di sekitar rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sekolah, ditanami dengan berbagai  jenis tanaman. Beberapa tanaman itu sudah besar-besar dan sudah berbuah. Saat musim buah seperti rambutan, kuini, atau durian, Pak Gulo selalu membawa buah itu ke sekolah untuk dimakan bersama guru-guru lain.

Pada bulan ini bertepatan dengan musim buah kuini. Pohon kuini Pak Gulo juga berbuah. Melihat buahnya yang lebat, Pak Gulo sudah berniat untuk membagikan buah kuini itu kepada bapak dan ibu guru di sekolah lagi. Barangkali sekitar dua atau tiga hari lagi buah itu baru bisa dipanen. 

***

Aril, Tio, Asnan, dan Erik berjalan bersama pulang sekolah seperti biasanya. Empat sahabat itu selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Walaupun berlainan kelas, mereka tetap sepakat untuk berangkat bersama. Siang itu mulai mendung. Angin bertiup agak kencang. Jika sudah seperti ini, anak-anak paling suka berlari ke bawah pohon kuini. Angin akan menjatuhkan buah-buah kuini yang sudah matang.

“Kita lewat jalan pintas aja, gimana?” usul Tio pada teman-temannya.

“Oke, setuju!” balas mereka serempak. Senyum mengembang dari bibir masing-masing. Sepertinya mereka sudah sama-sama paham mengapa Tio memberi usul seperti itu.

Jalan pintas yang mereka maksud adalah melewati kebun-kebun warga. Jalan ini hanyalah jalan setapak. Dibandingkan melewati jalan raya, jalan setapak ini sebenarnya lebih dekat dengan timpat tinggal empat sekawan itu, terutama rumah Asnan. Bukan hanya Aril, Tio, Asnan, dan Erik saja yang melewati jalan ini jika musim buah. Banyak orang lain yang juga akan melewati jalan tersebut. Terlebih lagi jika angin bertiup kencang.

Sayangnya, sudah beberapa menit empat sekawan itu menunggu, hanya satu buah kuini yang jatuh. Itu pun ternyata sudah dimakan tupai sebagian. Mereka terlihat kecewa.

“Udahlah, kita pulang saja! Aku sudah lapar,” ajak Asnan.

“Pulang aja kau duluan, Nan,” jawab Erik.

“Iya, kita mau tunggu angin kencang sekali lagi!” seru Aril yang berdiri agak jauh dari mereka. Matanya masih liar meneliti semak yang ia sibakkan dengan kaki.

“Ah, gak mau aku! Mana enak pulang sendirian,” jawab Asnan lagi. Langkahnya yang sudah terlanjur duluan beberapa meter, ia surutkan kembali.

Didorong oleh rasa penasaran, keempat anak itu berjalan ke arah kanan mengikuti jalan setapak yang lainnya. Sekitar seratus meter mereka berjalan, aroma wangi kuini merebak mengusik penciuman empat sekawan tersebut. Sontak mata mereka mencari sumber aroma tersebut. Ternyata aroma itu berasal dari sebatang kuini yang pohonnya berada di balik dinding tembok yang ada di sisi jalan. Pohon itu tidak terlalu tinggi, namun buahnya sangat lebat. Sebagian buahnya merunduk ke balik tembok tersebut. Pemandangan itu membuat empat sekawan itu saling senyum.

“Jangan! Itu punya orang!” seru Aril ketika dilihatnya Erik menjolok kuini itu dengan ranting kayu.

“Ah, semua yang ada di sini kan juga punya orang. Apa bedanya?” bela Asnan.

“Bedalah! Yang pohonnya besar di sana itu tumbuh liar,” ujar Aril mempertahankan pendapatnya.

“Bukannya itu juga kebun orang?” tanya  Tio.

“Betul kebun orang, tapi kuininya tidak sengaja ditanam dan tidak sengaja pula dipelihara. Buktinya, sudah sering kita mencari buah kuini ke sana tapi tidak dimarahi pemilik kebun, kan?” Aril mencoba meyakinkan lagi.

“Buggg ...!” Suara buah kuini jatuh ke tanah. Ternyata Erik tetap melanjutkan aksinya. Sedangkan Tio dan Asnan segera mengutip buah tersebut.

“Baru dua, Rik! Tuh, kan masih ada lagi yang udah matang. Pukul aja biar jatuh!” seru Tio.

Hanya hitungan detik, tiga buah kuini secara bergantian terpelanting lagi ke tanah. Tio dan Asnan bersorak gembira. Hanya Aril yang terlihat cemas. Rasa was-was mulai menjalari persaannya. Sedikit pun Aril tidak berminat dengan kuini itu walaupun buahnya terlihat ranum. Yang ada justru rasa takut di hatinya.

“Udah, ah! Aku gak ikut! Nanti ketahuan yang punya!” ujar Aril sambil berbalik arah menuju pulang.

Saat Aril berbalik arah, Tio, Erik, dan Asnan juga memutar kepalanya ke arah Aril. Akan tetapi, seseorang yang amat mereka kenali sedang berkacak pinggang di sudut tembok dinding pembatas.  Sontak mata mereka membelalak karena yang berdiri di sana adalah Pak Gulo. Beliau masih memakai pakaian dinasnya. Bagaimana Pak Gulo tahu mereka di sana? Buah kuini yang sudah di tangan masing-masing, dengan sendirinya turun ke tanah lagi tanpa komando.

“Ini ya, yang kalian pelajari di sekolah tadi?” Tanya Pak Gulo sinis.

Semua menunduk, tak ada yang berani menatap wajah Pak Gulo. Aril yang merasa dirinya tidak terlibat, memberanikan diri untuk berbicara.

“Ss ... saya tidak ikut mengambilnya, Pak,”  kata Aril gugup. Namun tetap saja Aril tidak sanggup menatap wajah guru yang disegani oleh semua siswa di sekolahnya itu.

“Ya, saya sudah tau!” Suara Pak Gulo terdengar ketus, namun membuat hati Aril lega.

Kalau Pak Gulo tahu, itu artinya beliau sudah lama berdiri di sini, pikir Aril. Ah, sungguh memalukan dengan apa yang sudah mereka lakukan.

“Kalian tahu siapa yang punya kuini ini?” tanya Pak Gulo sambil menunjuk pada dahan kuini yang menjulang keluar dinding.

“Ti ... tidak, Pak!” sahut mereka hampir serentak.

“Berarti kalian tidak minta izin untuk memetiknya?” lanjut Pak Gulo geram.

“Iya, Pak.” Aril yang menjawab kali ini.

“Nah, itu namanya apa?” tanya Pak Gulo.

“Mm ... mencuri, Pak!” Jawaban itu pun hampir serentak mereka ucapkan.

“Hukumnya apa mencuri itu?” desak Pak Gulo lagi.

“Dosa, Pak!” Lagi-lagi mereka menjawab dengan kompak.

“Tuh, tau! Kenapa masih dilakukan?”

Kali ini tak ada yang berani menjawab. Masing-masing menyadari bahwa yang mereka lakukan itu salah.

“Bukankah teman kalian si Aril sudah mengingatkan? Kenapa masih dikerjakan juga? Kalau memang kalian mau, minta saja pada yang punya. Lagi pula, seharusnya kalian pulang dulu ke rumah supaya orang tua kalian tidak kecarian!” Kalau orang tua kalian Bapak kasih tau, tentu mereka akan malu. Janganlah suka bikin orang tua kalian malu dan cemas terhadap perangai kalian. Cukup mereka lelah mencari nafkah untuk anaknya!” Suara Pak Gulo tidak lagi terdengar marah. Namun kata-katanya membuat Tio, Erik, dan Asnan merasa terpukul.

“Ma ... maafkan kami, Pak!” kata Erik terlebih dahulu. Ia betul-betul malu dan menyesal karena ia yang bersemangat sekali untuk mengambil kuini itu. Kemudian Asnan dan Tio juga ikut meminta maaf.

“Baiklah, kali ini saya maafkan. Tapi jangan kalian ualangi lagi! Mengambil sesuatu yang bukan hak kita adalah dosa!”

“Iya, Pak,” jawab empat sekawan itu serentak.

Kemudian Erik mengutip lagi kuini yang tergeletak di tanah. Ia menyerahkan buah itu kepada Pak Gulo.

“Kalian bawa aja kuini itu! Nanti dimakan sehabis makan nasi!” ujar Pak Gulo.

“Tapi, Pak ....”

“Sudahlah!” Pak Gulo langsung memotong pembicaraan  Asnan. “Ini adalah kuini saya. Kalau kalian mau lagi besok, tinggal minta sama saya,” lanjut Pak Gulo.

Pernyataan Pak Gulo sontak membuat empat sekawan itu  kaget. Wajah mereka menjadi merah menahan malu.

“Kalau begitu, terima kasih, Pak! Sekali lagi kami minta maaf!”  Keempat anak itu menyalami Pak Gulo secara bergantian. Setelah itu, masih dengan wajah menunduk, semuanya berjalan menuju pulang ke rumah masing-masing.

*****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan Awal Januari

Oleh Salma Deras Bersama gemuruh Menggenang Menggiring berjubel sampah Deras Diiringi badai Gelisah Menyasar jalan-jalan berbatu Deras Membe...