Oleh Salma
Sudah
seminggu keluarga Aina tinggal di Komplek Tulip Raudah. Karena Aina beserta ayah
dan bundanya masih sibuk menata rumah, Aina belum sempat mengenal lebih banyak
tetangganya. Mereka baru sempat berkenalan dengan tetangga yang ada di samping
kiri dan kanan. Aina pun belum punya teman seusianya di sini.
Selama empat hari belakangan, Aina dibuat
penasaran oleh seorang gadis yang menurut Aina cantik. Usianya kira-kira
seumuran Aina. Setiap Aina pulang sekolah, gadis itu sudah berdiri di sudut
pagar depan rumah Aina. Dia selalu mengembangkan senyum ketika matanya beradu
pandang dengan Aina. Setelah melempar senyum, gadis itu pun pergi tanpa bicara
apa-apa. Aina pun langsung masuk ke rumah tanpa memperhatikan ke mana gadis itu
berjalan. Hanya saja Aina merasa gadis itu misterius.
Apakah gadis itu tidak sekolah? Apakah
dia anak tetangga depan atau samping rumah? Kenapa dia tidak menyapa Aina saja
kalau memang ingin berteman? Atau jangan-jangan dia bukan .... Ah! Pikiran aneh
pun melintas di benak Aina.
“Nasinya dimakan Ai!” Suara Bunda
mengagetkan Aina dari lamunannya. Tanpa Aina sadari, nasi yang diambilnya tadi
sudah dingin.
“Eh, iya, Bun!” jawab Aina sambil
melempar senyum kepada Bunda.
Kamu kenapa? Lagi mikirin apa?” selidik
Bunda. Senyum aneh Aina mengundang pertanyaan Bunda.
“Ah, gak mikirin apa-apa, Bunda!” jawab
Aina bohong.
“Jangan bohong! Bunda kan lihat sendiri.
Sampai-sampai matamu pun melotot dan mulutnya komat-kamit, gitu?”
“Hanya mikirin tugas kelompok, Bun,”
jawab Aina bohong. Ia sengaja tidak memberitahu bundanya sebelum ia mengetahui
siapa sebenarnya gadis yang selalu
berdiri di sudut pagar rumah itu.
Bunda segera berlalu ke dapur tanpa
bertanya lagi pada Aina. Sementara Aina melanjutkan makannya hingga selesai. Ia
takut Bunda akan bertanya-tanya lagi. Sambil makan, Aina sempat merencanakan
sesuatu untuk memecahkan misteri tentang gadis manis itu.
***
Hari ini Aina bergegas keluar dari
gerbang sekolah. Ia ingin segera sampai di rumah. Yani, yang sedari tadi
berharap pulang bersama Aina, harus kecewa ketika tahu Aina sudah duluan naik
angkot.
Angkot berhenti tepat di depan gang rumah
Aina. Setelah membayar ongkos angkot tersebut, Aina segera berjalan menuju
rumahnya. Dari kejauhan, seperti biasa, Aina sudah melihat gadis misterius itu berdiri
di depan pagar rumah. Hari ini gadis itu memakai gaun hijau muda. Rambutnya
yang ikal itu dibiarkan tergerai hingga bahunya. Kali ini Aina tidak ingin
membiarkan gadis itu pergi sebelum berkenalan dengannya. Untuk itu, Aina
mempercepat langkahnya. Begitu Aina sampai ke gerbang rumah, ia sudah
mendapatkan hadiah senyum dari sang gadis itu. Buru-buru Aina menegur sang
gadis.
“Hai!” Sapa Aina mencoba makin dekat.
Aina tidak mendapat jawaban dari gadis
itu. Lagi-lagi gadis itu hanya senyum dan menganggukkan kepalanya. Aina bingung
dan sedikit ragu mencoba semakin dekat. Kemudian Aina mengulurkan tangannya
sambil memperkenalkan diri. Namun sayang, uluran tangan Aina tidak mendapatkan
sambutan. Lagi-lagi hanya senyuman gadis itu yang ia terima. Kali ini
senyumannya lebih sumringah. Dari wajahnya, terlihat sang gadis amat senang
bertemu Aina. Hanya saja Aina merasa heran dan kecewa karena gadis itu tidak
mau berbicara. Walaupun begitu, Aina tetap membalas dengan senyuman.
Beberapa detik mereka hanya beradu pandang
dan saling senyum. Selanjutnya, gadis itu menundukkan wajahnya. Aina bisa
melihat wajah gadis misterius itu berubah menjadi sendu. Setelah itu, sang
gadis membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Aina dalam kebingungan.
Aina mengikuti langkah gadis itu. Ia
melihat gadis misterius itu berbelok ke kanan begitu sampai di perempatan
jalan. Aina terus mengikuti hingga gadis itu berhenti di depan rumah nomor dua.
Seorang ibu berdiri di pintu pagar menyambut kedatangan sang gadis. Aina
memberanikan diri mendekati mereka.
“Kamu yang baru pindah ke sini, ya?” Dengan
ramah sang ibu bertanya terlebih dahulu. Sebelah tanggannya merapikan rambut sang
gadis misterius.
“Betul, Tante. Nama saya Aina,” balas
Aina tak kalah ramah.
“Ayo masuk, Aina!” ajak wanita yang
kira-kira seumuran bunda Aina.
Aina masuk dan diajak duduk di teras
rumah yang asri itu. Lagi-lagi Aina dibuat bingung dengan gadis misterius itu.
Dia hanya mengangguk dan senyum-senyum saja saat ibunya berbicara dengan Aina.
"Ini anak tante. Namanya Aisyah. Sejak
lahir Aisyah mempunyai kelainan. Dia tidak bisa mendengar dan berbicara seperti
kita. Kami di rumah sudah terbiasa berbicara dengan Aisyah menggunakan isyarat.
Tangan kanan Aisyah juga tidak bisa berfungsi dengan normal. Jadi Aisyah
menulis atau makan menggunakan tangan kiri. Aisyah dulu sekolah di SLB, tapi
sudah enam bulan ini, Aisyah tidak mau lagi sekolah. Katanya ada yang suka
jahil padanya di sekolah.” Ibu Aisyah menjelaskan kondisi anaknya pada Aina.
Aina kaget mendengar penjelasan ibu
Aisyah. Sungguh Aina tidak menyangka sama sekali kalau Aisyah yang cantik itu
tidak bisa berbicara dan mendengar dengan sempurna. Aina jadi mengerti kenapa Aisyah
tidak menerima uluran tangannya saat memperkenalkan diri tadi.
“Maaf, Tante, Ai tidak tahu jika kondisi Aisyah
seperti itu,” kata Aina. Ada perasan haru dan menyesal dalam hatinya.
“Sejak Aisyah tahu Aina tinggal di gang
depan, dia suka ke sana. Katanya dia ingin berteman dengan Aina, tapi dia takut
Aina tidak menyukainya,” jelas ibu Aisyah.
“Ai senang kok, Tante. Ai tidak masalah
berteman dengan Aisyah. Kapan Aisyah mau, Aisyah boleh datang ke rumah Ai.
Kalau boleh, Ai juga mau main ke sini,” balas Aina sambil menunjukkan wajah
senangnya.
Terjawab sudah rasa penasaran Aina selama
ini. Setelah pamit pada Aisyah dan ibunya, Aina pun pulang. Ada sedikit rasa
tak menentu di dadanya. Ia sendiri tidak paham perasaan apakah itu. Yang jelas,
begitu sampai di rumah, Aina langsung memeluk Bunda. Tanpa sengaja, air mata
Aina meleleh.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya Bunda panik.
Bayangan sesuatu yang menakutkan langsung menghantui pikiran Bunda. Tentu sudah
terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan pada Aina, pikir Bunda.
“Ai, Ai minta maaf, Bun! Ai sudah banyak
dosa! Ai, anak yang tidak tahu diuntung! Hiks ... hiks!” Aina makin terisak dan
membuat Bunda semakin bingung dan panik.
Bunda membimbing Aina untuk duduk di
sofa. Perasaan panik melihat sikap Aina membuat badan Bunda mulai lemas, seakan
tak kuat untuk berdiri lagi.
“Ayo, cerita yang benar sama Bunda! Apa
yang terjadi, Ai?” desak Bunda setelah mereka duduk.
Aina mencoba menghapus air mata dan menenangkan hatinya. Setelah itu,
Aina menceritakan pertemuannya dengan Aisyah dan ibunya. Perasaan Bunda yang
tadinya cemas terhadap Aina berubah menjadi haru. Mata Bunda terlihat
berkaca-kaca saat mendengarkan cerita Aina.
“Kasihan Aisyah! Makanya kita yang sudah
terlahir dengan tubuh sempurna ini jangan lupa bersyukur! Jangan sombong! Jangan
suka pilih-pilih teman! Di mata Allah semua sama, hanya tingkat ketakwaannya
yang membuat kita berbeda. Ai boleh ajak Aisyah bermain ke sini. Walaupun Aisyah tidak bisa bicara, Ai bisa
pakai bahasa isyarat atau bahasa
tulisan,” jelas bunda dengan lembut.
“Terima kasih, Bunda!” ucap Aina sambil
kembali memeluk Bunda.
“Iya. Sudah, ganti baju sana, terus
salat! Habis itu makan!” titah Bunda pada Aina.
Aina pun beranjak ke kamar. Tak henti ia
berucap syukur dalam hatinya. Hari ini Aina dapat teman baru sekaligus
pelajaran baru dalam hidupnya.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar