Kamis, 07 Oktober 2021

Gadis Misterius

 Oleh Salma


Sudah seminggu keluarga Aina tinggal di Komplek Tulip Raudah. Karena Aina beserta ayah dan bundanya masih sibuk menata rumah, Aina belum sempat mengenal lebih banyak tetangganya. Mereka baru sempat berkenalan dengan tetangga yang ada di samping kiri  dan kanan.  Aina pun belum punya teman seusianya di sini.

Selama empat hari belakangan, Aina dibuat penasaran oleh seorang gadis yang menurut Aina cantik. Usianya kira-kira seumuran Aina. Setiap Aina pulang sekolah, gadis itu sudah berdiri di sudut pagar depan rumah Aina. Dia selalu mengembangkan senyum ketika matanya beradu pandang dengan Aina. Setelah melempar senyum, gadis itu pun pergi tanpa bicara apa-apa. Aina pun langsung masuk ke rumah tanpa memperhatikan ke mana gadis itu berjalan. Hanya saja Aina merasa gadis itu misterius.

Apakah gadis itu tidak sekolah? Apakah dia anak tetangga depan atau samping rumah? Kenapa dia tidak menyapa Aina saja kalau memang ingin berteman? Atau jangan-jangan dia bukan .... Ah! Pikiran aneh pun melintas di benak Aina.

“Nasinya dimakan Ai!” Suara Bunda mengagetkan Aina dari lamunannya. Tanpa Aina sadari, nasi yang diambilnya tadi sudah dingin.

“Eh, iya, Bun!” jawab Aina sambil melempar senyum kepada Bunda.

Kamu kenapa? Lagi mikirin apa?” selidik Bunda. Senyum aneh Aina mengundang pertanyaan Bunda.

“Ah, gak mikirin apa-apa, Bunda!” jawab Aina bohong.

“Jangan bohong! Bunda kan lihat sendiri. Sampai-sampai matamu pun melotot dan mulutnya komat-kamit, gitu?”

“Hanya mikirin tugas kelompok, Bun,” jawab Aina bohong. Ia sengaja tidak memberitahu bundanya sebelum ia mengetahui siapa sebenarnya gadis yang  selalu berdiri di sudut pagar rumah itu.

Bunda segera berlalu ke dapur tanpa bertanya lagi pada Aina. Sementara Aina melanjutkan makannya hingga selesai. Ia takut Bunda akan bertanya-tanya lagi. Sambil makan, Aina sempat merencanakan sesuatu untuk memecahkan misteri tentang gadis manis itu.

***

Hari ini Aina bergegas keluar dari gerbang sekolah. Ia ingin segera sampai di rumah. Yani, yang sedari tadi berharap pulang bersama Aina, harus kecewa ketika tahu Aina sudah duluan naik angkot.

Angkot berhenti tepat di depan gang rumah Aina. Setelah membayar ongkos angkot tersebut, Aina segera berjalan menuju rumahnya. Dari kejauhan, seperti biasa, Aina sudah melihat gadis misterius itu berdiri di depan pagar rumah. Hari ini gadis itu memakai gaun hijau muda. Rambutnya yang ikal itu dibiarkan tergerai hingga bahunya. Kali ini Aina tidak ingin membiarkan gadis itu pergi sebelum berkenalan dengannya. Untuk itu, Aina mempercepat langkahnya. Begitu Aina sampai ke gerbang rumah, ia sudah mendapatkan hadiah senyum dari sang gadis itu. Buru-buru Aina menegur sang gadis.

“Hai!” Sapa Aina mencoba makin dekat.

Aina tidak mendapat jawaban dari gadis itu. Lagi-lagi gadis itu hanya senyum dan menganggukkan kepalanya. Aina bingung dan sedikit ragu mencoba semakin dekat. Kemudian Aina mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri. Namun sayang, uluran tangan Aina tidak mendapatkan sambutan. Lagi-lagi hanya senyuman gadis itu yang ia terima. Kali ini senyumannya lebih sumringah. Dari wajahnya, terlihat sang gadis amat senang bertemu Aina. Hanya saja Aina merasa heran dan kecewa karena gadis itu tidak mau berbicara. Walaupun begitu, Aina tetap membalas dengan senyuman.

Beberapa detik mereka hanya beradu pandang dan saling senyum. Selanjutnya, gadis itu menundukkan wajahnya. Aina bisa melihat wajah gadis misterius itu berubah menjadi sendu. Setelah itu, sang gadis membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Aina dalam kebingungan.

Aina mengikuti langkah gadis itu. Ia melihat gadis misterius itu berbelok ke kanan begitu sampai di perempatan jalan. Aina terus mengikuti hingga gadis itu berhenti di depan rumah nomor dua. Seorang ibu berdiri di pintu pagar menyambut kedatangan sang gadis. Aina memberanikan diri mendekati mereka.

“Kamu yang baru pindah ke sini, ya?” Dengan ramah sang ibu bertanya terlebih dahulu. Sebelah tanggannya merapikan rambut sang gadis misterius.

“Betul, Tante. Nama saya Aina,” balas Aina tak kalah ramah.

“Ayo masuk, Aina!” ajak wanita yang kira-kira seumuran bunda Aina.

Aina masuk dan diajak duduk di teras rumah yang asri itu. Lagi-lagi Aina dibuat bingung dengan gadis misterius itu. Dia hanya mengangguk dan senyum-senyum saja saat ibunya berbicara dengan Aina.

"Ini anak tante. Namanya Aisyah. Sejak lahir Aisyah mempunyai kelainan. Dia tidak bisa mendengar dan berbicara seperti kita. Kami di rumah sudah terbiasa berbicara dengan Aisyah menggunakan isyarat. Tangan kanan Aisyah juga tidak bisa berfungsi dengan normal. Jadi Aisyah menulis atau makan menggunakan tangan kiri. Aisyah dulu sekolah di SLB, tapi sudah enam bulan ini, Aisyah tidak mau lagi sekolah. Katanya ada yang suka jahil padanya di sekolah.” Ibu Aisyah menjelaskan kondisi anaknya pada Aina.

Aina kaget mendengar penjelasan ibu Aisyah. Sungguh Aina tidak menyangka sama sekali kalau Aisyah yang cantik itu tidak bisa berbicara dan mendengar dengan sempurna. Aina jadi mengerti kenapa Aisyah tidak menerima uluran tangannya saat memperkenalkan diri tadi.

“Maaf, Tante, Ai tidak tahu jika kondisi Aisyah seperti itu,” kata Aina. Ada perasan haru dan menyesal dalam hatinya.

“Sejak Aisyah tahu Aina tinggal di gang depan, dia suka ke sana. Katanya dia ingin berteman dengan Aina, tapi dia takut Aina tidak menyukainya,” jelas ibu Aisyah.

“Ai senang kok, Tante. Ai tidak masalah berteman dengan Aisyah. Kapan Aisyah mau, Aisyah boleh datang ke rumah Ai. Kalau boleh, Ai juga mau main ke sini,” balas Aina sambil menunjukkan wajah senangnya.

Terjawab sudah rasa penasaran Aina selama ini. Setelah pamit pada Aisyah dan ibunya, Aina pun pulang. Ada sedikit rasa tak menentu di dadanya. Ia sendiri tidak paham perasaan apakah itu. Yang jelas, begitu sampai di rumah, Aina langsung memeluk Bunda. Tanpa sengaja, air mata Aina meleleh.

“Kamu kenapa, Nak?” tanya Bunda panik. Bayangan sesuatu yang menakutkan langsung menghantui pikiran Bunda. Tentu sudah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan pada Aina, pikir Bunda.

“Ai, Ai minta maaf, Bun! Ai sudah banyak dosa! Ai, anak yang tidak tahu diuntung! Hiks ... hiks!” Aina makin terisak dan membuat Bunda semakin bingung dan panik.

Bunda membimbing Aina untuk duduk di sofa. Perasaan panik melihat sikap Aina membuat badan Bunda mulai lemas, seakan tak kuat untuk berdiri lagi.

“Ayo, cerita yang benar sama Bunda! Apa yang terjadi, Ai?” desak Bunda setelah mereka duduk.

Aina mencoba menghapus  air mata dan menenangkan hatinya. Setelah itu, Aina menceritakan pertemuannya dengan Aisyah dan ibunya. Perasaan Bunda yang tadinya cemas terhadap Aina berubah menjadi haru. Mata Bunda terlihat berkaca-kaca saat mendengarkan cerita Aina.

“Kasihan Aisyah! Makanya kita yang sudah terlahir dengan tubuh sempurna ini jangan lupa bersyukur! Jangan sombong! Jangan suka pilih-pilih teman! Di mata Allah semua sama, hanya tingkat ketakwaannya yang membuat kita berbeda. Ai boleh ajak Aisyah bermain ke sini.  Walaupun Aisyah tidak bisa bicara, Ai bisa pakai bahasa isyarat atau  bahasa tulisan,” jelas bunda dengan lembut.

“Terima kasih, Bunda!” ucap Aina sambil kembali memeluk Bunda.

“Iya. Sudah, ganti baju sana, terus salat! Habis itu makan!” titah Bunda pada Aina.

Aina pun beranjak ke kamar. Tak henti ia berucap syukur dalam hatinya. Hari ini Aina dapat teman baru sekaligus pelajaran baru dalam hidupnya.

*****

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan Awal Januari

Oleh Salma Deras Bersama gemuruh Menggenang Menggiring berjubel sampah Deras Diiringi badai Gelisah Menyasar jalan-jalan berbatu Deras Membe...