Jumat, 01 Oktober 2021

O o, Kamu Ketahuan!

Karya Salma 

“Yes! Tempatnya strategis!” gumam Leo setelah melihat tempat duduknya dalam ruang ujian semester yang akan dilaksanakan mulai hari Senin. Bangku yang akan ditempati Leo tepat di sebelah dinding urutan ke tiga dari depan. Tempat itulah yang menurut Leo strategis.

Seperti mendapatkan sebuah hadiah, Leo bersenandung riang di kamarnya sepulang sekolah. Leo sangat yakin, ujian semester ini dia akan mendapat nilai yang tinggi. Leo sekarang membuat janji dengan Danni. Mereka akan main bola sore ini di lapangan.

“Leo, kamu mau ke mana?” tanya ibunya begitu  melihat Leo mengikatkan tali sepatunya.

“Main bola sama Danni, Bu,” jawab Leo mulai bangkit dan menuntun sepedanya ke halaman.

“Mainnya jangan kelamaan! Nanti kamu capek dan tidak belajar malam. Ingat, hari Senin kamu ujian!” Ibu mengingatkan Leo akan kewajibannya untuk belajar menjelang ujian. Bukan hanya untuk ujian, setiap hari Ibu mengingatkan Leo agar selalu belajar, agar selalu mengerjakan PR. Ibu tidak mau lagi mendengar laporan wali kelas Leo saat dia tidak mengerjakan PR yang diberikan guru.

“Iya, Bu. Leo gak lama-lama mainnya!” Leo kemudian menaiki sepedanya meninggalkan ibu yang geleng-geleng kepala.

Lima menit menjelang magrib, Leo kembali ke rumah. Janjinya untuk tidak lama-lama ternyata hanya di mulut Leo saja. Ayah menatap wajah Leo dengan kesal. Lagi-lagi Leo melanggar peraturan ayahnya. Ayah mengajari agar sebelum magrib anggota di rumahnya sudah selesai mandi. Begitu azan magrib, semua sudah siap-siap untuk menunaikan salat Magrib. Ayah tidak mengeluarkan kata-katanya. Ia hanya menatap tajam Leo yang berdiri kaku di samping sepedanya. Ia tak berani menatap manik mata ayah. Ia menyadari bahwa ia salah. Setelah ayah berangkat ke masjid, barulah Leo beranjak dari tempat dia mematung.

“Segera mandi, trus salat!” titah Ibu kepada Leo.

Seperti kucing dibawakan lidi, Leo hanya mampu mengangguk dan segera ke kamar mandi. Dalam hatinya ia menyadari bahwa Ayah dan Ibu marah dengan sikapnya.

Sehabis makan malam, Leo kembali mendapat nasihat dari ayah agar belajar untuk ujian ini. Ini adalah ujian kenaikan kelas. Ayah dan Ibu tidak mau Leo tinggal kelas gara-gara malas belajar. Leo bukanlah anak bodoh, namun jika malas belajar, sepandai apa pun orang belum tentu dapat menjawab soal-soal ujiannya. Itu sebabnya Ayah dan Ibu selalu mengingatkan Leo. Lagi-lagi Leo mengangguk untuk mengiyakan nasihat  mereka.      Begitu sampai di kamar, Leo meraih handphone-nya yang terletak di atas meja. Niat semula membuka buku, malah yang ia buka handphone. Apalagi ada pesan dari Danni yang menanyakan sudah level berapa Leo memainkan game yang kemarin ditunjukkannya. Hampir setengah jam mereka berdiskusi perkara game itu. Merasa tertantang oleh Danni yang sudah sampai pada level tujuh, Leo memacunya malam itu juga. Ia baru sampai pada level empat. Kalau bisa ia akan menyamai Danni. Ia pun berusaha untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya.

“Leo, sebelum tidur, sepedanya disimpan dulu!” Terdengar suara Ibu sambil mengetuk pintu kamar Leo.

“Ya, Bu,” balas Leo tanpa mengalihkan pandangannya dari layar androidnya itu.

Sudah pukul sebelas malam, setelah rumah terdengar sepi menandakan seisinya sudah tidur, saat itulah Leo memasukkan sepedanya ke dalam rumah.  Setelah itu, ia melanjutkan membuka game itu lagi sampai dia tidak menyadari matanya terlelap.

      ***

Pagi ini cuaca lumayan cerah. Siswa datang ke sekolah lebih awal. Sepertinya mereka takut telat karena hari ini adalah hari pertama ujian akhir semester genap. Taman sekolah pun terlihat sepi, tidak seperti biasanya. Begitu sampai di sekolah anak-anak langsung menuju ruang ujiannya masing-masing. Sebagian mereka terlihat sibuk membuka buku seraya menunggu waktu ujian dimulai. Ada juga beberapa siswa yang asyik bercengkrama di teras kelas.

Sesampai di kelas, Leo memasukkan sesuatu ke laci mejanya setelah ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Tak ada yang mengetahui apa yang sedang Leo simpan di dalam laci mejanya. Kemudian Leo ikut bergabung dengan Danni dan teman-temannya yang duduk-duduk di teras.

Setelah bel berbunyi, seluruh siswa mulai berbaris di depan ruangan ujian. Mereka akan melihat dan menerka-nerka guru yang akan mengawas di ruangannya masing-masing. Banyak juga yang merasa pengawas ujian berpengaruh terhadap ujian mereka seperti halnya Leo dan Danni.

Leo menelan ludah cemas ketika yang masuk sebagai pengawas di ruangannya adalah Pak Bara. Pak Bara sangat terkenal dengan disiplinnya. Beliau selalu mengawasi ujian dengan ketat. Benar saja, sebelum duduk di kursi masing-masing, Pak Bara menginstruksikan agar semua tas siswa ditaruh di depan kelas. Yang boleh dibawa ke tempat duduk hanya pulpen dan kartu ujian. Pak Bara juga mengingatkan agar tidak ada yang mencoba untuk curang dalam ujian.

Begitu membaca soal, Leo terlihat gelisah. Soal nomor satu dan dua dari mata pelajaran IPA itu sudah membuat dia pucat. Yang ditanya tentang besarnya resultan dan arah gaya. Walaupun soalnya pilihan ganda, namun Leo tidak bisa menentukan mana jawaban yang tepat. Ia lewati soal tersebut, beralih ke soal berikutnya. Ternyata lagi-lagi membuat keningnya berkerut. Bagaimana tidak, jika pertanyaan yang tertera di sana adalah menghitung cepat rambat gelombang, mengukur kedalaman laut, dan hukum pemantulan cahaya. Bukankah itu ada rumusnya? Leo tidak ingat sama sekali rumus untuk mencarinya.

Tangan Leo berkeringat. Belum apa-apa, ia sudah mengelap tangannya ke celananya. Diliriknya Lala yang duduk di depannya, Lala tenang-tenang saja. Sekilas ia coba mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, sepertinya teman-temannya mengerjakan soal itu tanpa hambatan. Malahan mereka sibuk menulis di kertas buram yang sengaja dibagikan untuk menghitung. Badan Leo mulai panas dingin. Lembar jawabannya masih kosong. Kemudian, dengan sudut matanya, Leo melirik Pak Bara. Ternyata Pak Bara sedang sibuk membuka laptopnya. Kesempatan itu tidak disia-siakan Leo. Ia mengeluarkan benda pipih yang tadi disimpannya di laci meja. Dengan mata waspada, ia mulai berselancar dengan benda pipih itu sehingga ia dapat menjawab tiga  soal sekaligus.

Leo segera menyimpan benda pipih itu lagi di laci, begitu dilihatnya Pak Bara berdiri. Ia pura-pura membaca soal dan mencoret-coret kertas buram. Sedangkan sudut matanya tetap mengintai gerak-gerik Pak Bara. Setelah Pak Bara kembali fokus pada laptopnya, Leo kembali melanjutkan aksinya. Kali ini, Leo tidak bisa membagi perhatiannya. Apa yang dicarinya belum ia temukan jawabannya di benda pipih itu. Dicobanya lagi untuk lebih fokus, barulah Leo mendapatkan dua jawaban lagi. Tanpa disadari Leo, ada sepasang mata yang sedang mengamati aktivitasnya saat itu.

“Sini, Bapak bantu!” Sebuah suara setengah berbisik tepat di samping telinga Leo disertai sebuah tangan meraih benda pipih ajaib itu dari tangan Leo.

Seperti petir di siang bolong menyentakkan kesadaran Leo. Matanya tak sanggup melihat wajah Pak Bara . Ia hanya mampu tertunduk. Lagi-lagi keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Pak Bara mengambil lembar jawaban Leo. Sejenak Pak Bara menimang-nimang kertas jawaban itu. Setelah itu, Pak Bara mengembalikannya pada Leo.

Masih untung Leo disuruh melanjutkan ujian IPA itu lagi. Kalau tidak, tentu nilai IPA Leo akan gagal.  Akan tetapi, kali ini Leo hanya mampu mereka-reka jawaban soal demi soal yang tersisa. Perasaan tidak nyaman pun mulai menggerogoti hati Leo. Ia mengerjakan soal itu dengan dada berdebar-debar dan was-was. 

“Leo, temui saya di kantor nanti sehabis ujian!” ujar Pak Bara saat menerima lembar jawaban dari Leo.

Leo hanya mampu mengangguk dengan wajah pucat. Tatapan tajam Pak Bara membuat tangan dan kakinya gemetar. Tak dapat ia bayangkan lagi seandainya Pak Bara melaporkan perbuatannya kepada wali kelas, guru IPA, dan guru BK. Leo juga tidak berani meminta handphone-nya kepada Pak Bara.

“Oo... oo ... kamu ketahuan ...!” Lala dan Agnes, teman sekelas Leo, serentak menirukan potongan dari lagu Matta Band itu.

“Menyontek lagi ... hi ... hi ...,” lanjut Marta diiringi gelak tawa temannya yang lain.

Leo sempat menatap tajam pada Marta. Selama ini memang Leo sering membujuk Marta agar  memberikan contekan PR. Namun, saat ini Leo tak mampu berkata-kata, kecuali berjalan menuju ruangan guru.

Begitu sampai di ruang guru, ternyata Leo mendapati Pak Bara sedang berbicara dengan Pak Hendra, wali kelasnya. Sudah barang tentu Pak Bara melaporkan perbuatan buruk Leo saat ujian tadi. Terlihat wajah Pak Hendra menahan emosi saat menerima handphone sitaan milik Leo dari Pak Bara. Sorotan tajam mata Pak Hendra membuat keringat dingin Leo kembali muncul. Belum lagi hardikan dan pertanyaan Pak Hendra yang sinis kepadanya. Leo pun menangis menerima kenyataan ini.

Akhirnya, setelah mendapat nasihat dari Pak Hendra dan Pak Bara, Leo meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan buruknya itu. Walaupun begitu, tetap saja Leo membawa surat panggilan untuk orang tuanya agar datang ke sekolah. Untuk sementara, handphone milik Leo tetap ditahan oleh Pak Hendra. Beliau akan memberikan langsung pada orang tua Leo besok.

Dengan tangan gemetar, Leo memberikan surat panggilan dari sekolah kepada ibunya. Ibu mengernyitkan keningnya begitu menerima surat tersebut. Setelah membaca surat tersebut, Ibu mengerti apa yang telah terjadi dengan Leo. Maka lagi-lagi Leo harus menerima kata-kata pedas, kali ini dari ibunya. Bahkan, ia juga harus menahan rasa sakit di telinganya akibat jeweran Ibu. Sudah dapat dibayangkan bagaimana pula nanti tanggapan ayahnya setelah pulang bekerja. Lagi-lagi Leo menangis. Ia sangat menyesal. Dalam hati, Leo sudah bertekad tidak akan menyontek lagi. Mulai saat itu ia pastikan dirinya akan belajar sungguh-sungguh.

*****

2 komentar:

  1. Wah...Leo kena batunya...semoga tidak diulang lagi... terima kasih sudah berbagi cerpen indah...salam hormat 🙏

    BalasHapus
  2. Terima kasih juga sudah mengunjungi blog saya 🙏
    Salam literasi

    BalasHapus

Hujan Awal Januari

Oleh Salma Deras Bersama gemuruh Menggenang Menggiring berjubel sampah Deras Diiringi badai Gelisah Menyasar jalan-jalan berbatu Deras Membe...