Karya Salma
Sudah berapa kali Bunda menasihati Nia dan abangnya untuk belajar hidup prihatin. Setiap menasihati itu, selalu membawa-bawa anak penjual sayur yang semenjak tiga bulan terakhir menjadi langganan Bunda. Bukan tidak suka dinasihati, tapi Nia merasa kesal juga jika terlalu sering dibanding-bandingkan dengan penjual sayur itu. Bukankah Nia sekarang sudah rajin nabung? Nia sudah mengurangi kebiasaan jajannya.
“Kamu liat, anak yang selalu mengantar sayur itu! orang tuanya tentu bangga padanya. Setiap hari dia bantu orang tua walau hanya mengharap untung lima ratus rupiah. Tentu dia anak yang berbakti sekali,” kata bunda Nia suatu hari. Kata-kata itu muncul gara-gara Nia menunda-nunda tugasnya mencuci piring.
Kemarin, Bang Rey yang dibandingkan Bunda dengan penjual sayur itu. Awalnya, Bang Rey ingin mencuci tas sekolahnya. Ia merendam tas itu terlebih dahulu. Namun, karena keasyikan main bola dengan temannya, Bang Rey lupa dengan tas sekolah yang telah direndam. Karena baunya sudah berubah, akhirnya Bunda turun tangan untuk mencuci tas sekolah itu.
“Rey, kalau nyuci tas, jangan kelamaan
direndam. Kapan keringnya kalau direndam terus? Nanti matahari keburu hilang,”
semprot bunda ketika Bang Rey baru saja sampai di rumah sehabis main bola.
“Eh, iya, Bun. Kalo gak kering, Rey pakai tas yang satu lagi aja,” jawab Bang Rey
sambil berlari menuju kamar mandi, sementara bunda hanya bisa geleng-geleng
kepala.
Bang Rey heran, ternyata ember tempat ia
merendam tas sekolahnya sudah kosong. Ia kembali keluar mencari Nia.
“Dek, kamu yang nyuci tas Abang? Makasih,
ya!” ucap Bang Rey sambil nyengir kepada Nia, begitu Nia dijumpainya di ruang
keluarga.
“Bukan Adek, tapi Bunda. Lagian Abang kebiasaan,
deh! Rendam cucian selalu lama-lama.
Bau, tau!” celetuk Nia tanpa menoleh pada abangnya itu.
“Hanya nyuci tas sekolah aja kamu gak beres!” Tiba-tiba saja Bunda sudah
berada di samping mereka.
“Iya, Bun. Tadi Rey diajak Fauzi main bola,” jawabnya membela
diri.
“Bunda tidak melarang kamu main bola.
Yang bunda mau, kamu bisa membagi waktumu. Tak ada orang yang sepanjang hari
bermain saja. Ada waktunya bekerja juga. Kamu lihat tuh, anak-anak yang
berjualan sayur tiap sore itu. Mereka juga sekolah, sempat bermain juga, tapi
mereka juga sempat berjualan sayur tiap sore!” nasihat Bunda, kemudian berjalan
menuju dapur.
Walau tidak menjawab lagi, dalam hati Nia
dan Bang Rey merasa bundanya mengada-ada dan berlebihan mengelu-elukan penjual
sayur itu. Mana mungkin anak-anak penjual sayur itu sekolah? Kapan pula mereka
punya waktu belajar dan mengerjakan PR? Bukankah mereka juga harus mencari
sayur dan mengikat sayur-sayur itu sejak pagi? Demikian kalimat-kalimat
pertanyaan yang muncul di hati Nia.
“Kalau Ayah dan Bunda juga petani, kita
juga mau jualan sayur, kok,” ujar Nia, menunjuk-kan pembelaannya terhadap
abangnya.
“Betul, betul, betul!” balas Bang Rey
sambil mengangkat dua jempolnya.
Bunda yang belum sepenuhnya sampai ke
dapur, berbalik lagi mendengar celetuk Nia. Lagi-lagi Bunda geleng-geleng
kepala. Sepertinya mereka salah memahami maksud Bunda.
“Bunda bukannya nyuruh kalian jualan
sayur,” ujar Bunda dengan suara sedikit kesal. “Bunda hanya mau kalian bisa
membagi waktu. Anak yang jualan sayur itu hanya contoh kalau dia bisa membagi
waktu, paham?” lanjut bunda untuk kemudian betul-betul pergi ke dapur.
Sementara abang adik itu hanya saling tatap.
Nia berpindah ke kamarnya karena Bang Rey
sudah beranjak ke kamar mandi. Hati Nia masih menyimpan rasa dongkol walaupun
kali ini yang ditegur Bunda bukan dirinya. Tapi tetap saja bunda mengarahkan
kepada mereka berdua. Terlebih yang dicontohkan lagi-lagi anak penjual sayur
itu.
Nia duduk di kursi belajarnya. Diraihnya
pulpen yang terletak dalam sebuah kotak, kemudian membuka kembali buku
latihannya. Soal matematika yang diberikan Pak Syaiful kemarin belum selesai ia
kerjakan. Ada tiga soal lagi yang membuat ia berhenti mengerjakannya tadi. Soal
itu terlalu sulit menurutnya. Begitu dilihatnya soal itu lagi, kembali
keningnya berkerut. Terlebih soal itu juga menuntut jawaban menyamakan satuan
ukuran. “Aduh, pasti nilaiku di bawah Ayu lagi!” gumam Nia sambil menopang
dagunya dengan tangan. Tiba-tiba ia ingat pada Ayu teman sekelasnya yang jago
matematika itu. Ayu selalu menyelesaikan soal-soal yang diberikan Pak Syaiful
lebih awal dan jawabannya juga selalu benar. Sebenarnya Nia penasaran juga
dengan Ayu. Nia ingin bertanya Ayu ikut bimbel matematika di mana, tapi Nia
tidak begitu dekat dengan Ayu. Ayu anak yang pendiam, tidak terlalu banyak
bicara. Ayu juga jarang bergabung dengan teman-teman sekelas untuk menyerbu
kantin sekolah pada jam istirahat. Walau tidak banyak bicara, Ayu murah senyum.
“Assalamualaikum, sayur, Bu!” sebuah suara
membuyarkan lamunan Nia tentang Ayu.
“Huhhh, pasti si tukang sayur idola Bunda
lagi!” gumam Nia sambil mengintip keluar kamar. Betul saja, Bunda sudah
bergegas menuju teras rumah. Seperti biasa, Bunda terlihat senang karena selalu
dapat sayur yang segar-segar.
“Habisin sayurnya! Itu sayur segar dibawa
anak gadis itu tuh. Anak baik dan ramah, ...,”
banyak lagi embel-embel dari Bunda untuk menasihati mereka ketika malas
makan sayur. Bahkan Ayah pun akan ikut-ikutan dengan kata-kata,“Biar sehat dan
cerdas.” Nia mengira-ngira, nanti apa lagi yang akan disampaikan Bunda
kepadanya dan Bang Rey.
Tiba-tiba saja rasa penasaran mengusik
Nia. Tiba-tiba Nia ingin melihat wajah penjual sayur kebanggaan bunda itu.
Perlahan-lahan Nia keluar kamar dan mengendap-endap menuju ruang tamu. Dari
balik gorden, Nia melihat bunda sibuk memilih beberapa ikat sayur sementara
gadis penjual sayur terlihat merunduk merapikan dagangannya sehingga Nia tidak
bisa melihat wajahnya. Di samping gadis itu, ada seorang anak laki-laki yang
memegang sebuah kantong kresek. Mungkin itu adik gadis itu, pikir Nia.
Setelah Bunda menyerahkan uang, Nia bisa
melihat dengan jelas wajah penjual sayur itu. “Ayu!” bisiknya. Berulang Nia
mengerjapkan matanya untuk meyakinkan bahwa dia salah lihat. Barangkali saja
gara-gara Nia sedang mengingat Ayu yang jago matematika di kelasnya itu tadi.
Ternyata tidak, Nia tidak salah lihat. Itu benar-benar Ayu, Ayu Amelia, teman
sekelasnya. Telinga Nia juga dengan jelas mendengar Bunda menyebut nama anak
itu, Ayu.
Sebelum Bunda masuk rumah, buru-buru Nia
masuk lagi ke kamarnya. Ia malu ketahuan mengintip oleh bundanya.
Sesampai di kamar, Nia menyandarkan
kepalanya ke dinding tempat tidur. Perasaannya tiba-tiba jadi tidak menentu.
Ada rasa malu dan menyesal yang membaur jadi satu. Nia malu karena ternyata Ayu
yang jago matematika itu masih sempat membantu orang tuanya pada sore-sore
seperti ini. Ternyata dia tidak bimbel seperti yang Nia kira, atau mengerjakan
PR seperti dirinya saat ini. Tentunya Ayu sudah membagi waktu dengan baik
sehingga ia tidak pernah terlambat ke sekolah atau tidak mengerjakan PR. Nia
juga sudah menyesal tidak percaya pada Bunda yang mengatakan penjual sayur itu
anak sekolah. Nia juga menyesali sikapnya selama ini yang melalaikan pekerjaan
di rumah yang diberikan Bunda. Padahal hanya sekadar mencuci piring dan menyapu
rumah. Dalam hatinya Nia ingin menceritakan ini pada Bang Rey.
***
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, teman-teman sekelas Nia segera berhamburan keluar kelas menuju kantin sekolah. Hari ini Nia tidak berminat mengikuti teman-temannya ke kantin. Kebetulan juga ia membawa bekal roti dari rumah. Nia beranjak mendekati meja Ayu yang berjarak dua deret dari meja Nia. Ayu menyambutnya dengan senyum.
“Hai, Yu, kamu tidak ke kantin?” tanya Nia
agak kikuk.
“Gak, aku sudah sarapan tadi,” jawab Ayu
dengan ramahnya. “Kamu kenapa gak ke kantin?” Ayu balik bertanya.
“Sama, aku juga tadi sudah sarapan. Lagian
aku juga bawa roti,” balas Nia. Rasa kikuknya sudah berkurang.
“Mm ... Yu, aku boleh nanya, ya?”
“Nanya apa?”
“Mmm ... maaf, mm ... yang jualan sayur ke
rumahku itu kamu, ya?” Suara Nia terdengar ragu-ragu.
“Iya, aku jualan sayur tiap sore. Tapi aku
gak tau rumah kamu yang mana?” jawab Ayu tanpa beban.
“Rumahku yang di depan kantor Pos.”
“Oh, jadi Bu Laila itu ibu kamu?” Ayu
tampak sangat senang seperti baru mendapat hadiah.
Nia hanya mengangguk dan ikut tertawa mengikuti Ayu.
“Ibu kamu baik, ya. Suka borong jualanku.
Tidak pernah nawar-nawar lagi seperti ibu-ibu yang lain. Jadi jualanku cepat
habis,” lanjut Ayu masih dengan senyum sumringahnya menunjukkan giginya yang
rapi.
Sedikit pun Ayu tidak menunjukkan rasa
canggung pada Nia. Sementara Nia tidak menjawab. Justru dia terpaku dengan cara
bicara dan sikap Ayu. Ternyata Ayu tidak sependiam yang ia bayangkan.
Sepertinya Ayu lebih cocok sebagai kakak ketimbang teman sekelasnya. Ia
terlihat lebih dewasa di mata Nia.
“Aku
jualan sayur untuk bantu-bantu ayahku. Dulu kakakku yang berjualan. Karena
sekarang dia sudah kuliah, aku yang menggantikannya,” lanjut Ayu. Kali ini raut
muka Ayu berbeda. Ia hanya menunjukkan senyum tipis.
“Hebat, ya, kakakmu sudah mahasiswa!” Nia
terpukau mendengar kata mahasiswa itu.
“Kakakku kuliah sambil bekerja, Nia.
Maklum, kami keluarga tak mampu. Untung uang kuliahnya gratis dari pemerintah,”
jelas Ayu lagi.
Percakapan itu terus berlanjut hingga bel
masuk kembali berbunyi. Dari cerita Ayu, Nia mengetahui bahwa Ayu tak lagi
punya ibu. Ia ditinggalkan oleh ibunya saat melahirkan adiknya yang paling
kecil. Saat itu Ayu dan keluarganya sangat terpukul karena kehilangan ibu dan
adiknya sekaligus. Hanya semangat, belajar dengan giat, dan tetap berdoa kepada Allah yang diandalkan
oleh Ayu dan kakaknya untuk bisa mengubah keadaan keluarganya.
Menjelang bel pulang sekolah berbunyi, Nia
lebih banyak diam. Cerita Ayu tadi membuat ia banyak melamun dan ingin segera
pulang. Untung saja Nia tidak ketahuan guru saat melamun.
***
Sudah
tiga hari semenjak Nia dekat dengan Ayu, ada perubahan yang sangat mencolok
terhadap sikap Nia di rumah. Begitu juga dengan Bang Rey. Sudah tiga hari ini
juga Ayah dan Bunda tidak pernah lagi membangunkan dan menyuruh mereka salat
Subuh. Bahkan sebelum berangkat ke sekolah, Nia sudah menyapu rumah tanpa
diperintahkan Bunda. Tak ada lagi suara meributkan dasi atau kaos kaki antara
abang dan adik itu menjelang berangkat sekolah. Ketika Bunda melihat kamar Bang
Rey, ternyata kamar tesebut sudah rapi. Tak ada lagi handuk basah di atas kasur
atau buku yang berserak di lantai. Semuanya bersih.
“Heran, kok anak-anak berubah
sendirinya, ya, Yah?” tanya Bunda sebelum Ayah berangkat kerja.
“Jangan heran, seharusnya Bunda bersyukur! Tandanya mereka dapat hidayah,” jawab Ayah sambil berlalu menuju motornya.
Sampai saat ini, Nia belum berterus terang pada Bunda bahwa Ayulah yang membuatnya berubah. Ayu, si penjual sayur itu telah membuka matanya untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Rasa syukur itulah yang mendorong Nia rajin membantu Bunda di rumah.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar