Rabu, 22 September 2021

Penjual Sayur Itu Teman Sekelas Nia

 Karya Salma

Sudah berapa kali Bunda menasihati Nia dan abangnya untuk belajar hidup prihatin. Setiap menasihati itu, selalu membawa-bawa anak penjual sayur yang semenjak tiga bulan terakhir menjadi langganan Bunda. Bukan tidak suka dinasihati, tapi Nia merasa kesal juga jika terlalu sering dibanding-bandingkan dengan penjual sayur itu. Bukankah Nia sekarang sudah rajin nabung? Nia sudah mengurangi kebiasaan jajannya.

“Kamu liat, anak yang selalu mengantar sayur itu! orang tuanya tentu bangga padanya. Setiap hari dia bantu orang tua walau hanya mengharap untung lima ratus rupiah. Tentu dia anak yang berbakti sekali,” kata bunda Nia suatu hari. Kata-kata itu muncul gara-gara Nia menunda-nunda tugasnya  mencuci piring.

Kemarin, Bang Rey yang dibandingkan Bunda dengan penjual sayur itu. Awalnya, Bang Rey ingin mencuci tas sekolahnya. Ia merendam tas itu terlebih dahulu. Namun, karena keasyikan main bola dengan temannya, Bang Rey lupa dengan tas sekolah yang telah direndam. Karena baunya sudah berubah, akhirnya Bunda turun tangan untuk mencuci tas sekolah itu.

“Rey, kalau nyuci tas, jangan kelamaan direndam. Kapan keringnya kalau direndam terus? Nanti matahari keburu hilang,” semprot bunda ketika Bang Rey baru saja sampai di rumah sehabis main bola.

“Eh, iya, Bun. Kalo gak kering, Rey pakai tas yang satu lagi aja,” jawab Bang Rey sambil berlari menuju kamar mandi, sementara bunda hanya bisa geleng-geleng kepala.

Bang Rey heran, ternyata ember tempat ia merendam tas sekolahnya sudah kosong. Ia kembali keluar mencari Nia.

“Dek, kamu yang nyuci tas Abang? Makasih, ya!” ucap Bang Rey sambil nyengir kepada Nia, begitu Nia dijumpainya di ruang keluarga.

“Bukan Adek, tapi Bunda. Lagian Abang kebiasaan, deh! Rendam cucian selalu lama-lama. Bau, tau!” celetuk Nia tanpa menoleh pada abangnya itu.

“Hanya nyuci tas sekolah aja kamu gak beres!” Tiba-tiba saja Bunda sudah berada di samping mereka. 

“Iya, Bun. Tadi Rey  diajak Fauzi main bola,” jawabnya membela diri.

“Bunda tidak melarang kamu main bola. Yang bunda mau, kamu bisa membagi waktumu. Tak ada orang yang sepanjang hari bermain saja. Ada waktunya bekerja juga. Kamu lihat tuh, anak-anak yang berjualan sayur tiap sore itu. Mereka juga sekolah, sempat bermain juga, tapi mereka juga sempat berjualan sayur tiap sore!” nasihat Bunda, kemudian berjalan menuju dapur.

Walau tidak menjawab lagi, dalam hati Nia dan Bang Rey merasa bundanya mengada-ada dan berlebihan mengelu-elukan penjual sayur itu. Mana mungkin anak-anak penjual sayur itu sekolah? Kapan pula mereka punya waktu belajar dan mengerjakan PR? Bukankah mereka juga harus mencari sayur dan mengikat sayur-sayur itu sejak pagi? Demikian kalimat-kalimat pertanyaan yang muncul di hati Nia.

“Kalau Ayah dan Bunda juga petani, kita juga mau jualan sayur, kok,” ujar Nia, menunjuk-kan pembelaannya terhadap abangnya.

“Betul, betul, betul!” balas Bang Rey sambil mengangkat dua jempolnya.

Bunda yang belum sepenuhnya sampai ke dapur, berbalik lagi mendengar celetuk Nia. Lagi-lagi Bunda geleng-geleng kepala. Sepertinya mereka salah memahami maksud Bunda.

“Bunda bukannya nyuruh kalian jualan sayur,” ujar Bunda dengan suara sedikit kesal. “Bunda hanya mau kalian bisa membagi waktu. Anak yang jualan sayur itu hanya contoh kalau dia bisa membagi waktu, paham?” lanjut bunda untuk kemudian betul-betul pergi ke dapur. Sementara abang adik itu hanya saling tatap.

Nia berpindah ke kamarnya karena Bang Rey sudah beranjak ke kamar mandi. Hati Nia masih menyimpan rasa dongkol walaupun kali ini yang ditegur Bunda bukan dirinya. Tapi tetap saja bunda mengarahkan kepada mereka berdua. Terlebih yang dicontohkan lagi-lagi anak penjual sayur itu.

Nia duduk di kursi belajarnya. Diraihnya pulpen yang terletak dalam sebuah kotak, kemudian membuka kembali buku latihannya. Soal matematika yang diberikan Pak Syaiful kemarin belum selesai ia kerjakan. Ada tiga soal lagi yang membuat ia berhenti mengerjakannya tadi. Soal itu terlalu sulit menurutnya. Begitu dilihatnya soal itu lagi, kembali keningnya berkerut. Terlebih soal itu juga menuntut jawaban menyamakan satuan ukuran. “Aduh, pasti nilaiku di bawah Ayu lagi!” gumam Nia sambil menopang dagunya dengan tangan. Tiba-tiba ia ingat pada Ayu teman sekelasnya yang jago matematika itu. Ayu selalu menyelesaikan soal-soal yang diberikan Pak Syaiful lebih awal dan jawabannya juga selalu benar. Sebenarnya Nia penasaran juga dengan Ayu. Nia ingin bertanya Ayu ikut bimbel matematika di mana, tapi Nia tidak begitu dekat dengan Ayu. Ayu anak yang pendiam, tidak terlalu banyak bicara. Ayu juga jarang bergabung dengan teman-teman sekelas untuk menyerbu kantin sekolah pada jam istirahat. Walau tidak banyak bicara, Ayu murah senyum.

“Assalamualaikum, sayur, Bu!” sebuah suara membuyarkan lamunan Nia tentang Ayu.

“Huhhh, pasti si tukang sayur idola Bunda lagi!” gumam Nia sambil mengintip keluar kamar. Betul saja, Bunda sudah bergegas menuju teras rumah. Seperti biasa, Bunda terlihat senang karena selalu dapat sayur yang segar-segar.

“Habisin sayurnya! Itu sayur segar dibawa anak gadis itu tuh. Anak baik dan ramah, ...,”  banyak lagi embel-embel dari Bunda untuk menasihati mereka ketika malas makan sayur. Bahkan Ayah pun akan ikut-ikutan dengan kata-kata,“Biar sehat dan cerdas.” Nia mengira-ngira, nanti apa lagi yang akan disampaikan Bunda kepadanya dan Bang Rey.

Tiba-tiba saja rasa penasaran mengusik Nia. Tiba-tiba Nia ingin melihat wajah penjual sayur kebanggaan bunda itu. Perlahan-lahan Nia keluar kamar dan mengendap-endap menuju ruang tamu. Dari balik gorden, Nia melihat bunda sibuk memilih beberapa ikat sayur sementara gadis penjual sayur terlihat merunduk merapikan dagangannya sehingga Nia tidak bisa melihat wajahnya. Di samping gadis itu, ada seorang anak laki-laki yang memegang sebuah kantong kresek. Mungkin itu adik gadis itu, pikir Nia.

Setelah Bunda menyerahkan uang, Nia bisa melihat dengan jelas wajah penjual sayur itu. “Ayu!” bisiknya. Berulang Nia mengerjapkan matanya untuk meyakinkan bahwa dia salah lihat. Barangkali saja gara-gara Nia sedang mengingat Ayu yang jago matematika di kelasnya itu tadi. Ternyata tidak, Nia tidak salah lihat. Itu benar-benar Ayu, Ayu Amelia, teman sekelasnya. Telinga Nia juga dengan jelas mendengar Bunda menyebut nama anak itu, Ayu.

Sebelum Bunda masuk rumah, buru-buru Nia masuk lagi ke kamarnya. Ia malu ketahuan mengintip oleh bundanya.

Sesampai di kamar, Nia menyandarkan kepalanya ke dinding tempat tidur. Perasaannya tiba-tiba jadi tidak menentu. Ada rasa malu dan menyesal yang membaur jadi satu. Nia malu karena ternyata Ayu yang jago matematika itu masih sempat membantu orang tuanya pada sore-sore seperti ini. Ternyata dia tidak bimbel seperti yang Nia kira, atau mengerjakan PR seperti dirinya saat ini. Tentunya Ayu sudah membagi waktu dengan baik sehingga ia tidak pernah terlambat ke sekolah atau tidak mengerjakan PR. Nia juga sudah menyesal tidak percaya pada Bunda yang mengatakan penjual sayur itu anak sekolah. Nia juga menyesali sikapnya selama ini yang melalaikan pekerjaan di rumah yang diberikan Bunda. Padahal hanya sekadar mencuci piring dan menyapu rumah. Dalam hatinya Nia ingin menceritakan ini pada Bang Rey.

      ***

Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, teman-teman sekelas Nia segera berhamburan keluar kelas menuju kantin sekolah. Hari ini Nia tidak berminat mengikuti teman-temannya ke kantin. Kebetulan juga ia membawa bekal roti dari rumah. Nia beranjak mendekati meja Ayu yang berjarak dua deret dari meja Nia. Ayu menyambutnya dengan senyum.

“Hai, Yu, kamu tidak ke kantin?” tanya Nia agak kikuk. 

“Gak, aku sudah sarapan tadi,” jawab Ayu dengan ramahnya. “Kamu kenapa gak ke kantin?” Ayu balik bertanya.

“Sama, aku juga tadi sudah sarapan. Lagian aku juga bawa roti,” balas Nia. Rasa kikuknya sudah berkurang. 

“Mm ... Yu, aku boleh nanya, ya?”

“Nanya apa?”

“Mmm ... maaf, mm ... yang jualan sayur ke rumahku itu kamu, ya?” Suara Nia terdengar ragu-ragu.

“Iya, aku jualan sayur tiap sore. Tapi aku gak tau rumah kamu yang mana?” jawab Ayu tanpa beban.

“Rumahku yang di depan kantor Pos.”

“Oh, jadi Bu Laila itu ibu kamu?” Ayu tampak sangat senang seperti baru mendapat hadiah.

Nia hanya mengangguk  dan ikut tertawa mengikuti Ayu.

“Ibu kamu baik, ya. Suka borong jualanku. Tidak pernah nawar-nawar lagi seperti ibu-ibu yang lain. Jadi jualanku cepat habis,” lanjut Ayu masih dengan senyum sumringahnya menunjukkan giginya yang rapi.

Sedikit pun Ayu tidak menunjukkan rasa canggung pada Nia. Sementara Nia tidak menjawab. Justru dia terpaku dengan cara bicara dan sikap Ayu. Ternyata Ayu tidak sependiam yang ia bayangkan. Sepertinya Ayu lebih cocok sebagai kakak ketimbang teman sekelasnya. Ia terlihat lebih dewasa di mata Nia.

“Aku jualan sayur untuk bantu-bantu ayahku. Dulu kakakku yang berjualan. Karena sekarang dia sudah kuliah, aku yang menggantikannya,” lanjut Ayu. Kali ini raut muka Ayu berbeda. Ia hanya menunjukkan senyum tipis.

“Hebat, ya, kakakmu sudah mahasiswa!” Nia terpukau mendengar kata mahasiswa itu.

“Kakakku kuliah sambil bekerja, Nia. Maklum, kami keluarga tak mampu. Untung uang kuliahnya gratis dari pemerintah,” jelas Ayu lagi.

Percakapan itu terus berlanjut hingga bel masuk kembali berbunyi. Dari cerita Ayu, Nia mengetahui bahwa Ayu tak lagi punya ibu. Ia ditinggalkan oleh ibunya saat melahirkan adiknya yang paling kecil. Saat itu Ayu dan keluarganya sangat terpukul karena kehilangan ibu dan adiknya sekaligus. Hanya semangat, belajar dengan giat,  dan tetap berdoa kepada Allah yang diandalkan oleh Ayu dan kakaknya untuk bisa mengubah keadaan keluarganya.

Menjelang bel pulang sekolah berbunyi, Nia lebih banyak diam. Cerita Ayu tadi membuat ia banyak melamun dan ingin segera pulang. Untung saja Nia tidak ketahuan guru saat melamun.

     ***

Sudah tiga hari semenjak Nia dekat dengan Ayu, ada perubahan yang sangat mencolok terhadap sikap Nia di rumah. Begitu juga dengan Bang Rey. Sudah tiga hari ini juga Ayah dan Bunda tidak pernah lagi membangunkan dan menyuruh mereka salat Subuh. Bahkan sebelum berangkat ke sekolah, Nia sudah menyapu rumah tanpa diperintahkan Bunda. Tak ada lagi suara meributkan dasi atau kaos kaki antara abang dan adik itu menjelang berangkat sekolah. Ketika Bunda melihat kamar Bang Rey, ternyata kamar tesebut sudah rapi. Tak ada lagi handuk basah di atas kasur atau buku yang berserak di lantai. Semuanya bersih. 

“Heran, kok anak-anak berubah sendirinya, ya, Yah?” tanya Bunda sebelum Ayah berangkat kerja.

“Jangan heran, seharusnya Bunda bersyukur! Tandanya mereka dapat hidayah,” jawab Ayah sambil berlalu menuju motornya. 

Sampai saat ini, Nia belum berterus terang pada Bunda bahwa Ayulah yang membuatnya berubah. Ayu, si penjual sayur itu telah membuka matanya untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Rasa syukur itulah yang mendorong Nia rajin membantu Bunda di rumah.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan Awal Januari

Oleh Salma Deras Bersama gemuruh Menggenang Menggiring berjubel sampah Deras Diiringi badai Gelisah Menyasar jalan-jalan berbatu Deras Membe...