Senin, 20 September 2021

Bako

Karya Salma     

        Entah sudah berapa lama aku tidak menginjakkan kaki di rumah ini. Dulu, saat masih duduk di bangku SD aku sering bermain bahkan tidur di sini. Tapi, seiring bertambah usiaku, rumah ini jarang aku kunjungi. Seingatku waktu SMP hanya dua kali aku mendatangi rumah ini. Ketika itu aku disuruh Ibu mengantarkan kain panjang Etek Nursiah yang dipakai untuk menggendong adikku pulang ke rumah sehabis kenduri di rumah ini. Kali yang kedua ketika kami diajak ayah berlebaran ke sini. Waktu itu semua saudara ayah berkumpul di sini. Ketika itulah aku mulai merasa tidak nyaman berada di rumah ini. Aku jadi tidak suka dengan sebutan "Buyung" yang hanya di rumah ini saja populernya. Di rumah kami, di sekolah, juga tetangga, selalu memanggil aku sebagaimana nama yang diberikan ayah dan ibuku. Tetapi di rumah bakoku ini namaku jadi berbeda. Sementara sepupuku yang lain dipanggil sesuai nama mereka masing-masing. Aku jadi merasa tidak dihargai atau diremehkan di sini. Aku jadi kehilangan rasa percaya diri berada di sini. Seingatku, aku jugalah yang paling sering disuruh Etek Nursiah dulu mengangkat air dari sumur ke rumah, habis makan cuci piring sendiri, atau membeli sesuatu yang diperlukan ke warung, sementara saudaraku yang lain dibiarkan bermain tanpa gangguan. Ah, entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak sejak itu. Sejak itu aku juga punya banyak alasan untuk tidak ikut Ayah ke rumah ini. Sebuah sikap yang tidak pantas untuk dicontoh, tetapi aku melakukannya.
       Rumah ini sudah banyak berubah. Dinding bagian belakang tidak lagi dengan anyaman bambu, sudah disemen. Mungkin saat Etek Nursiah membangun rumah sekalian diganti dinding itu. Bahkan itu juga tidak seperti belakang rumah karena ada jendela dan teras yang tersambung dengan rumah Etek Nursiah. Dapur yang dulunya mempunyai tiga buah tungku untuk memasak menggunakan kayu, sekarang sudah berganti dengan lantai keramik, atapnya pun tidak lagi hitam oleh asap.
      "Eh, ada Uda Nasril, " sapa seseorang mengagetkanku. Ternyata itu Hamidah, anak Etek Nursiah. Rupanya panggilannya kepadaku sudah berubah. Bukankah dulu dia tidak pernah memanggil aku 'uda'. Dia selalu memanggil aku 'Buyung', sama dengan penduduk rumah ini.
      "Oh,Hamidah. Bagaimana kabarmu?" jawabku agak kaku.
      "Alhamdulillah sehat, Uda! Mimpi apa Uda datang ke rumah bako?" Sebuah pertanyaan yang cukup menusuk dan membuat aku gugup.
      "Hhemm...namanya juga bako, ya harus dikunjungilah," jawabku akhirnya. "Etek mana?" tanyaku selanjutnya.
      "Ibu ke Payakumbuh, bersama anggota majlis taklim. Ada acara di sana," balasnya sambil meletakkan nampan ke atas meja makan.
      "Setiap lebaran semua berkumpul di sini. Hanya Uda yang tidak pernah ikut berkumpul. Mida tau, Uda pulang kampung setiap lebaran, tapi tak pernah ke sini," sambungnya. Gaya berbicaranya mirip gaya bicara Etek Nursiah.
      "Ee...Mida juga tak pernah datang ke rumah Uda, kan? Harusnya Mida tiap lebaran silaturrahmi dengan mamak," balasku tidak mau kalah. Aku merasa seperti perempuan saja.
      "Untuk apa pula Mida datang lagi, kan Mak Ngah, Etek, dan Risni sudah ke sini setiap lebaran pertama," balasnya lagi, menyebut ayah, ibu, dan adikku.
      "Oohh...!" Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Sungguh, aku tidak mau berdebat dengan Hamidah, kemenakan ayahku ini. Menurutku ternyata pendidikan tidak banyak mengubah pola pikirnya tentang kehidupan sosial. Pola pikirnya sama seperti sikap yang ditunjukkan Etek Nursiah terhadap keluarga ibuku selama ini. Sepertinya rumah kami tidak pantas untuk dikunjungi oleh bakoku ini.
      "Sudah semester berapa Mida sekarang?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
      "Semester enam, Uda."
      "Mudah-mudahan cepat selesai kuliahnya."
      "Aamiin! Semoga Mida juga cepat dapat kerja seperti Uda," katanya.
      "Aamiin! Insya Allah!" balasku sambil beranjak menuju ruang tengah rumah.
      "Assalamualaikum!" ucapku menyapa Pak Uncu yang sedang duduk di kursi rotan. Kursi itu sejak aku kecil sudah ada. Ternyata sampai saat ini masih terpelihara.
       Betapa mirisnya, di saat usianya menuju senja, Pak Uncu hidup tanpa dampingan istri dan anak beliau. Di rumah ini Pak Uncu memasak dan mencuci sendiri. Sesekali makan di rumah Etek Nursiah atau diantar ke rumah ini oleh Etek Nursiah. Tetapi aku melihat Pak Uncu menikmati hari-harinya.
      "Beginilah hidup, Nasril. Beruntung rumah ini masih ada. Kalau tidak, Pak Uncu tentu sudah menumpang di rumah etekmu itu," kata Pak Uncu di sela-sela pembicaraan kami. Aku sendiri tidak banyak memberikan komentar atau bertanya tentang cerita Pak Uncu. Selain segan, sebenarnya ibuku sudah banyak bercerita tentang keadaan Pak Uncu. Semenjak beliau di-PHK dari perusahaan tempatnya bekerja, rumah tangga Pak Uncu selalu bermasalah. Terlebih ketika Pak Uncu menderita stroke,  hingga Pak Uncu memilih untuk tinggal sendiri di rumah ini.
      Aku agak kaget melihat foto wisudaku terpajang di dinding rumah ini. Berderet dengan tiga foto lain yang juga sedang berpakaian wisuda. Itu adalah foto sepupuku. Seingatku, aku tidak pernah mencetak foto dengan ukuran sebesar itu. Yang ada pada album foto di rumah hanya foto yang dicetak oleh tukang foto khusus hari wisuda itu.
      "Itu Mida yang memajangnya, Uda," kata Hamidah tiba-tiba mengagetkanku. Sepertinya dia tahu aku sedang bertanya-tanya dalam hati.
      "Dari mana Mida dapat foto itu?"
      "He he, adalaaah...," jawabnya sambil menunjukkan sederet gigi yang rapi dan senyum manisnya.
      "Hmm...," aku juga membalas dengan tersenyum dan tidak lagi bertanya. Zaman sekarang segalanya mudah didapatkan orang. Apalagi hanya foto seperti itu, pikirku.
      "Uda, ini minum Uda, juga Mak Uncu. Diminum ya, Uda."
      "Iya, terima kasih, Mida," balasku dan segera duduk di samping Pak Uncu. Kulihat ada keripik ubi, peyek, dan beberapa potong bolu coklat di atas meja itu.
     "Minumlah, Nas. Itu juga ada kue sama kerupuk," kata Pak Uncu seraya mengambil cangkir di depannya.
      "Mida yang buat itu, Uda," Mida memberi tahu tanpa kutanya.
      "Oh, ya, anak perempuan harus pintar masak," jawabku tanpa memuji kue buatan Hamidah. Menurutku itu lumrah. Adikku Risni juga sering memasak kue, puding, atau apalah, yang bisa dikudap Ayah sebagai teman minum teh sore-sore sepulang dari sawah.

     Sehabis berbincang-bincang dengan Pak Uncu, aku pamit untuk pulang. Pak Uncu mengajakku untuk menginap di rumah bakoku ini. Tapi, aku juga ingin menikmati kebersamaanku dengan Ayah, Ibu, dan Risni. Apalagi dua hari lagi aku harus kembali ke kota untuk masuk kerja. 

      "Sebentar lagi Ibu pulang, Uda tunggulah dulu. Sudah lama sekali Uda tak bertemu Ibu, kan? Masa sama bako tak rindu?" Hamidah juga mencoba menahanku. 

     Ah, aku jadi serba salah. Di satu sisi aku ingin segera pulang. Di sisi lain, aku merasa tidak enak hati jika sudah sampai di rumah ini, tetapi tidak bertemu dengan Etek Nursiah. Kalau ditanya hati kecilku, sebenarnya memang tidak ada keinginanku untuk bertemu beliau. Entah kenapa sikap beliau terhadapku sewaktu aku kecil membuat aku enggan untuk bertemu beliau.

      "Sebaiknya aku pulang dulu, besok aku ke sini lagi. kebetulan ada temanku juga mau datang ke rumah hari ini," kataku memecahkan sendiri rasa serba salah yang aku hadapi. Aku tidak berbohong, karena memang aku sudah berjanji dengan Alfian, teman SMA-ku dulu. Saat itu juga handphoneku berdering. Kulihat di layar nama Alfian. Ternyata aku sudah ditunggu Alfian di rumah. Alasanku untuk pulang ke rumah menjadi kuat.
      ***
      Masa cuti yang kuambil tanpa terasa sudah akan berakhir. Saatnya aku kembali ke kota tempat aku mengabdikan ilmu yang aku peroleh selama masa pendidikan. Rasa rindu dengan orang tua, adik, sanak saudara, dan teman lumayan terobati. Sejak kemarin, Ibu sibuk memasak makanan yang hendak kubawa ke kota. Mulai dari keripik pisang hingga rendang. Aku sudah melarang Ibu untuk itu, tapi... ya, namanya ibu tetap saja melakukan apa yang dia suka. Katanya dia akan senang bila anaknya kembali ke rantau membawa bekal yang dia masak sendiri. Untuk menyenangkan hatinya itu, aku pun dengan bersemangat mengemas makanan itu ke dalam sebuah dus.
      Tengah sibuk mengepak barang-barangku, suara motor terdengar memasuki halaman rumah. Ternyata Etek Nursiah dengan Hamidah.
      "Jadi Uda berangkat hari ini?" tanya Hamidah langsung saja padaku tanpa menegur Ibu terlebih dahulu.
      "Iya, Mida, si Buyung berangkat nanti habis magrib. Hari Senin dia harus masuk kerja," tiba-tiba Ibu seakan lebih berhak menjawab pertanyaan Hamidah. Alis gadis itu tampak agak terangkat. Mungkin dia kaget karena bukan aku yang menjawab pertanyaannya atau mungkin kaget Ibu menyebut nama Buyung, atau memang dia tidak suka dengan Ibu. Ah, entahlah! Rasanya aku pun tidak perlu mengulang jawaban dari Ibu. Aku hanya mempersilakan Etek Nursiah dan Hamidah duduk.

       "Ini ada oleh-oleh untuk dibawa ke kota, Nas. Si Mida yang buat. Kalau etek,  sudah tak bisa lagi buat kue-kue itu." Tek Nursiah menyodorkan  bungkusan padaku.
      "Aduh, Etek sama Mida jadi repot...makasih, ya, Tek, Mida," balasku walau dalam hati aku sangat heran dengan semua ini. 

     Jangankan untuk memberi, berkunjung ke rumah orang tuaku ini saja boleh dikata mereka sangat enggan. Bahkan pada hari-hari dimana orang-orang saling berkunjung menjalin silaturrahim dengan sanak saudara, bakoku ini tidak melakukannya dengan kami. Boleh dibilang dengan jari berapa kali Tek Nursiah berkunjung ke rumah ini. Yang jelas, seingatku ketika aku kelas tiga SMA, Tek Nursiah datang menjenguk ayah yang sedang sakit dan waktu itu beliau marah pada ibu karena tidak membawa ayah ke rumah sakit. Aku sempat merasa kesal karena Ibu menangis mendengar kata-kata bakoku itu. Saat aku diterima masuk perguruan tinggi negeri melalui  jalur undangan, Tek Nursiah juga datang ke rumah. Waktu itu aku betul-betul kaget karena aku pikir beliau akan mengucapkan selamat padaku seperti yang dilakukan sanak famili yang lain. Tidak taunya, Tek Nursiah malah mematahkan semangatku, ayah, dan juga ibuku. 
     "Ingek, Uda! Biaya kuliah tu indak saketek, jan pulo Uda sampai manggadai tanah pusako untuak kuliah si Buyuang isuak. Kana, Da, Uda punyo kamanakan lo nan paralu dibimbiang (Ingat, Uda! Biaya kuliah tidak sedikit, jangan pula sampai menjual tanah pusaka untuk kuliah si Buyung nanti. Ingat juga bahwa Uda punya keponakan yang perlu dibimbing)!" Demikian Etek Nursiah berkata kepada ayah, yang sampai saat sekarang masih terngiang-ngiang dalam ingatanku. 
     "Eh, Uda Nas dikasih oleh-oleh malah sedih." Suara Hamidah membuat aku sedikit kaget dari lamunan tentang masa lalu itu.
    "Ah, ndak...merasa terharu," balasku berbohong.
     "Mida pikir tadi Uda tidak suka kue buatan Mida," kata Hamidah dengan nada merajuk tetapi bibirnya tersenyum.
     "Kalau rejeki tak pernah ditolak, Mida, apalagi dari bako," ibu ikut menjawab lagi.
     "Betul, Kak Mida. Lagian kue buatan bako beda rasanya dengan yang lain," kata Risni menimpali sambil meletakkan minum di depan Etek Nursiah dan Hamidah. Aku hanya senyum sambil geleng-geleng kepala.

***

     Senja mulai menapak menuju malam. Gerimis yang sempat turun menambah gundah rasa ini untuk berpisah dengan Ayah, Ibu, dan Risni. Walau sudah terbiasa berpisah dengan mereka, tetap saja hatiku merasa sedih pada situasi-situasi seperti ini.
     Keluarga yang melepas keberangkatanku kali ini pun lebih banyak daripada yang biasa karena ada Pak Uncu, Etek Nursiah, dan Hamidah.
      "Jangan lupa berkabar begitu sampai di rantau ya, Uda!" seru Hamidah saat aku berpamitan kepada semua. Yang lain juga menimpali dengan berbagai pesan dan cilotehan, yang aku sendiri sudah tak mampu menangkapnya satu per satu.

***
     Aku kembali sibuk dengan rutinitas keseharianku bekerja di sebuah perusahaan. Ternyata benar cuti bisa mengembalikan semangat kerja seseorang. Aku seakan punya energi baru dalam menghadapi pekerjaan yang sudah terpampang di depan mata. Aku juga yakin ada doa Ayah dan Ibu di setiap langkahku sebab ridha Allah ada pada ridho orang tua, karena Allah ridho, rezeki yang kudapat semoga berkah.
     Sedikit demi sedikit aku bisa mengumpulkan uang untuk membeli sebuah rumah. Walau sederhana, namun aku merasa bangga bisa memiki rumah sendiri. Aku juga ingin mengajak Ayah, Ibu, dan Risni ke kota ini. Sebentar lagi Risni juga tamat SMA. Aku sudah minta pada Ayah dan Ibu agar Risni melanjutkan kuliah dan tinggal bersamaku. Mereka menyetujuinya.
      Belakangan ini pikiranku agak dibebani oleh kabar-kabar yang sesungguhnya membuat aku resah. Pertanyaan teman-temanku melalui WA tentang hubunganku dengan Hamidah serasa menggangguku. Belum lagi kabar dua hari yang lewat aku terima dari ibu yang menyatakan bahwa bakoku menginginkan aku berjodoh dengan Hamidah. Etek Nursiah dengan Hamidah pun semenjak kepulanganku dari kampung semakin sering meneleponku. Pada awalnya aku menganggap itu adalah bentuk perhatian mereka kepadaku. Tetapi makin ke sini arah pembicaraan Etek Nursiah membuat aku tidak suka. Walaupun sering dibumbui dengan candaan tapi aku menangkap itu sebagai keseriusannya. "Hati-hati, Nas, jangan sampai tergadai badan di rantau. Ingat ada gadis minang menunggumu yang sudah jelas asal-usulnya...," kata Etek Nursiah saat  panggilan video. "Kalau kau menikah dengan orang seberang, alamat orang tua, keluarga, dan kampung takkan tersilau," kata Etek Nursiah juga pada kesempatan lain. Intinya aku bisa menangkap apa yang tersirat dari ucapan Etek Nursiah.
      "Nas, kalau kau memang tidak menyukai Hamidah, tidak apa-apa. Tetapi pandai-pandailah. Ibarat menarik rambut dalam tepung, rambut tak putus tepung tak berserak. Jangan memberi dia harapan. Kasihan nanti dia kecewa dan merasa malu dengan orang sekampung. Hubungan keluarga pun akan jadi tidak baik. Lagian ayahmu hanya menyerahkan semua padamu. Kalau engkau bersedia, syukur, kalau tidak, ya, ayah pun tak memaksa," kata Ibu dengan nada berhati-hati tadi malam melalui telepon. Aku agak lega mendengar penyataan Ibu. Itu artinya Ayah dan Ibu menyerahkan padaku soal jodohku. Namun aku sangat yakin kalau sebenarnya ada beban yang ibu rasakan dengan keadaan ini. Terlebih lagi bagaimana ibu menghadapi Etek Nursiah. Selama ini aku lihat Ibu selalu tidak punya kata-kata untuk membalas ucapan atau sikap yang ditunjukkan Etek Nursiah yang lebih sering melukai perasaan Ibu. Ibu memilih diam kemudian diam-diam juga menangis. Aku tahu itu.
      Aku mencoba membalas pesan-pesan dari Hamidah dan Etek Nursiah sesuai pesan Ibu. Aku tidak ingin mereka sakit hati jika pada kenyataannya aku tidak punya perasaan khusus kepada Hamidah. Sebisanya kucoba memberikan penjelasan pada mereka bahwa soal  jodoh adalah urusan Allah. Siapa pun yang menjadi pasangan hidupku tidak akan membuat aku semakin jauh dari keluarga dan kampung halaman. Yang lebih penting menurutku, untuk membangun sebuah rumah tangga mesti dilandasi oleh rasa cinta dan kasih sayang, dan itu tidak bisa dipaksakan.
     Niatku untuk langsung tidur sehabis salat Isya harus tertunda akibat mataku memang sulit terpejam. Bayangan Nadya, gadis sederhana yang santun, salehah, dan pekerja keras itu seakan mengikuti setiap gerakku. Tanpa sengaja, aku juga membanding-bandingkan Nadya dengan Hamidah. Aku sudah mengenal Nadya semenjak duduk di bangku kuliah. Setahun yang lalu Nadya juga bekerja di perusahaan yang sama denganku. Kebersamaan itu makin menguatkan perasaan yang kupendam sebelumnya.  Menurutku tak mudah untuk mendapatkan hati Nadya karena sainganku cukup banyak pada waktu itu. Bahkan sekarang pun tetap ada laki-laki yang mencoba untuk mendapatkan Nadya. Aku merasa sangat beruntung karena Nadya menjatuhkan pilihannya padaku. Aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku juga sudah menceritakan hubunganku dengan  Nadya pada Ibu dan Risni. Sedang Ayah cukup mengetahui dari Ibu saja.
      "Jika kamu sudah siap, datanglah ke rumahku menemui ayahku. Halalin aku biar bisa kamu ajak ke mana kamu suka," begitu kata Nadya suatu hari ketika aku mengajaknya berkemah bersama teman-teman sekantor. Ya, pernyataan itu yang selalu kupegang. Mungkin  inilah waktunya untukku mengajak orang tuaku menemui orang tua Nadya. Ingatanku pada Nadya seakan mendesakku untuk keluar dari masalah perjodohan dengan bakoku ini. Aku harus segera mengambil sikap agar persoalan ini tidak berlarut-larut. Kalaupun akan ada perselisihan antara Ayah dengan Etek Nursiah dan Hamidah atau dengan bakoku yang lain, semoga hanya sementara. Bukankan mereka akan tetap jadi bakoku tanpa harus menikah dengan keponakan ayahku itu?

***
     Allah Maharahman, pernikahanku dengan Nadya berjalan sesuai rencanaku. Lebaran tahun ini aku sengaja mengajak Nadya dan mertuaku ke kampung halaman. Mereka memang sudah punya niat untuk menginjakkan kaki di ranah minang. Selama ini mereka hanya mendengar cerita orang atau hanya melihat di layar televisi akan keindahan alam Minangkabau.  Seharusnya memang sehabis pernikahanku empat bulan yang lalu diadakan pesta di rumah orang tuaku sebagai pemberitahuan kepada orang sekampung bahwa aku sudah menikah, namun Ayah dan Ibu memutuskan cukup dengan kenduri kecil saja dan tidak perlu menghadirkan pengantinnya. Aku dan Nadya hanya menurut saja. Kami yakin tentunya ayah dan ibu punya alasan yang kuat untuk mengambil keputusan tersebut.
       Lebaran pertama, aku mengajak Nadya berkunjung ke rumah-rumah bakoku. Tujuan pertama adalah ke rumah Etek Nursiah. Memang ada rasa canggung untuk masuk rumah Etek Nursiah, terlebih setelah namaku kembali berubah menjadi 'Buyung' di rumah ini.  Biarlah, apapun itu, aku harus memaksakan diri untuk datang ke sini.
      "Pandai orang rumahmu beradat, Buyung? Kau harus ajari dia cara beradat kita," demikian kata Etek Nursiah di sela pembicaraan kami yang rada hambar.
      "Iya, Uda Buyung... Menantu orang Minang juga harus bisa masak rendang dan sambalado, kalau tidak, nanti mertuanya cuma makan tempe dan tahu saja," timpal Hamidah lebih pedas lagi.  Aku lega karena Nadya hanya menatapku dengan senyuman mendengarkan itu semua.

      Setelah pamit dari rumah bakoku itu, entah kenapa aku segera ingin pulang dan memeluk Nadya. Aku akan bisikkan padanya, "Aku tidak salah memilihmu!"

*****


*bako = keluarga dari pihak ayah
* mamak = paman


5 komentar:

Hujan Awal Januari

Oleh Salma Deras Bersama gemuruh Menggenang Menggiring berjubel sampah Deras Diiringi badai Gelisah Menyasar jalan-jalan berbatu Deras Membe...