Kamis, 07 Oktober 2021

Mak Mun

 Oleh Salma

Aku betul-betul terperanjat ketika membuka pintu mobil. Seseorang ternyata sudah duduk di bangku depan. Dialah Mak Mun, wanita yang sudah puluhan tahun menderita gangguan kejiwaan. Wanita itu tertawa menunjukkan gigi ompongnya. Aku hanya melongo, kemudian mundur dua langkah. Kubiarkan pintu mobil tetap terbuka. Tapi tak ada gelagat Mak Mun untuk turun. Justru ia memperbaiki duduknya dan mengepit tas tangannya ke pangkuannya. Ia berperilaku layaknya nyonya empunya mobil.

Suami, ibu, dan dua orang sepupuku menyusul ke mobil. Hari ini kami akan menghadiri acara pernikahan kerabat yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.

"Ada apa?" tanya Erika, sepupuku heran.

Aku tidak berani bicara. Hanya mata dan mulutku mengisaratkan bahwa ada orang yang duduk di depan. Erika melongok ke dalam mobil dari pintu belakang. Mengetahui siapa yang duduk di sana, Erika kembali ke rumah. Aku dengar tawa Erika pecah dalam rumah. Sementara yang lain mengikuti Erika dengan matanya. Penasaran, ibu ikut melongok ke mobil. Ibu tiba-tiba gusar. Melihat itu aku pun bertambah cemas.

"Ada-ada saja! Kenapa sampai dia tahu kita mau berangkat?" Ibu bertanya entah pada siapa dan kembali ke rumah. Sedangkan aku tak berani meninggalkan tempat itu, takut Mak Mun berbuat aneh-aneh dalam mobil.

Suamiku yang sedari tadi hanya garuk-garuk kepala, akhirnya bicara juga. "Biar aja! Kamu duduk di belakang!" katanya padaku hati-hati.

Aku hanya mengangguk. Takut mengeluarkan kata-kata yang nanti justru membuat Mak Mun mengamuk. Jika Mak Mun mengamuk, sepanjang hari ia akan bicara tak henti. Segala sumpah-serapah akan keluar dari mulutnya. Siapa pun yang lewat di depannya akan diomeli walaupun tak jelas apa salahnya. Sejauh ini memang Mak Mun belum pernah melakukan kekerasan fisik seperti orang-orang yang mengalami gangguan psikis lainnya. Hanya kata-kata yang berisi umpatan - yang jika orang biasa yang mengucapkannya - akan menimbulkan rasa sakit hati bagi orang yang kena.

Akhirnya mobil kami bergerak meninggalkan rumah, dengan Mak Mun yang tetap duduk di samping suamiku tentunya. Suasana mobil sepi dari kelakar atau pembicaraan apa pun. Erika dan Nisa yang biasanya rame dan suka usil malah tak berani bersuara. Sesekali aku melirik ke belakang saat kudengar suara cekikikannya yang ditahan-tahan. Sementara ibu terlihat cemberut dari tadi. Ibu adalah orang yang sering diomeli oleh Mak Mun. Terlebih jika ibu dilihatnya pergi atau pulang dari pesta. Pernah juga peristiwa seperti ini terjadi beberapa kali pada tetangga yang lain. Ketika hendak mengantar mempelai pria, Mak Mun sudah duluan naik mobil pengantar tersebut. Namun mereka melapor kepada keluarga Mak Mun. Dengan bujuk rayu atau terkadang paksaan, mereka berhasil membawa Mak Mun turun dari mobil dan kembali ke rumah mereka. Setelah itu, rumah Mak Mun akan rusuh sepanjang hari itu.

Rasa cemas, takut, dan kesal silih berganti menyerangku selama di perjalanan. Bisa-bisanya Mas Kus membiarkan Mak Mun ikut. Bagaimana nanti jika Mak Mun malah mengacaukan acara akad nikah itu? Atau dia marah-marah tak menentu pada orang-orang yang hadir di sana. Atau ia akan mengeluarkan kata-kata kotor pada orang yang menghalangi langkahnya. Atau bisa jadi ia akan melahap semua hidangan tanpa basa-basi. Ih, sungguh mengerikan! Aku bergidik, tak sanggup membayangkan acara yang sakral itu akan berubah jadi ramai dan kacau. Aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kesal. Aku yakin ibu pun sedang memikirkan hal yang sama denganku. Kulihat wajah Mas Kus dari kaca depan. Ia tenang-tenang saja seperti tak terjadi apa-apa.

"Udah, tenang aja!" kata Mas Kus saat melirik kaca depan. Sepertinya ia membaca keresahanku.

"Hhhh!" Hanya desah kesal yang bisa keluar dari bibirku. Sekali lagi Mas Kus melirik lewat kaca depan. Jahatnya, ia malah tersenyum.

Kulihat Mak Mun sangat senang. Wajahnya kelihatan cerah. Sekilas Mak Mun terlihat normal. Tak ada yang ganjil dari caranya berpakaian. Antara baju dan kerudung yang ia pakai sepadan. Hanya bedak dan lipstiknya yang sedikit asal. Memang dari segi pakaian, Mak Mun tak pernah kekurangan. Mantu Mak Mun selalu memperhatikan pakaiannya.

Tak terasa, mobil kami sampai juga di tujuan. Mas Kus segera memarkir mobil di tempat parkir yang sudah disediakan. Ada keraguan bagi kami untuk turun dari mobil. Namun tidak bagi suamiku. Ia segera turun kemudian memutar jalannya dan membukakan pintu untuk Mak Mun. Setelah itu, Mas Kus membuka pintu di sampingku.

"Ayo, turun! Nanti telat," ajak Mas Kus pelan yang aku ikuti dengan perasaan was-was. Ibu, Erika, dan Nisa pun menyusul.

"Maaf Mas, Mbak! Emak sudah merepotkan. Saya tadi mencari-cari emak. Ada yang melihat emak menaiki mobil Mas Kus. Maka segera saya susul." Seseorang tiba-tiba sudah berada di antara kami yang masih ragu melangkah masuk pekarangan. Dia tak lain adalah putra Mak Mun. Ada perasaan bersalah di raut mukanya.

"Gak apa, Dik. Mak Mun sepertinya senang selama di perjalanan," balas Mas Kus. Aku dan ibu turut mengiyakan demi menghilangkan perasaan bersalah anak Mak Mun. Tak tega juga melihat raut muka putra Mak Mun penuh dengan kecemasan seperti itu. Tentu sedari tadi dia mengiringi mobil kami dengan motornya.

Laki-laki itu berusaha membujuk ibunya untuk diajak pulang. Namun Mak Mun kukuh tidak mau pulang. Mak Mun tetap ingin masuk ke dalam ruangan. Akhirnya Mas Kus mengajak putra Mak Mun ikut masuk ke tempat acara. Tidak baik juga mereka menjadi perhatian beberapa pasang mata.

Selama prosesi akad nikah berlangsung, Mak Mun betul-betul duduk dengan tenang. Matanya tak lepas dari pasangan pengantin. Sekali-sekali ia ikut tertawa saat pembawa acara melontarkan lelucon untuk kedua mempelai. Sungguh jauh berbeda dengan sikap keseharian Mak Mun selama ini. Begitu juga saat makan. Mak Mun hanya menunggu sampai aku menawarkan dia makan. Mak Mun minta kepadaku untuk diambilkan nasi dan lauknya. Barangkali karena ia sudah terbiasa makannya diambilkan oleh mantunya.

Begitu acara selesai, putra Mak Mun tak perlu susah-susah membujuk emaknya pulang. Dengan manja Mak Mun memegang tangan anaknya dan mengikutinya menuju area parkir. Aku yang lebih banyak fokus pada Mak Mun, merasa lega melihat pemandangan itu.

"Pelan-pelan aja, Dik!" nasihat Mas Kus setelah anak Mak Mun pamit kepada kami. Sedang Mak Mun tak bicara apa pun kecuali senyum-senyum saja setelah duduk di belakang anaknya.

Begitu mobil kami bergerak, Erika mulai lagi dengan kejahilannya. "Maka sang permaisuri pun kembali menduduki kursi kebesarannya...!"

"Setelah Mak Mun dijemput oleh putranya ...!" Nisa menimpali dengan menirukan suara pemain teater.

"Alah, beraninya ngomong sekarang. Tadi kenapa semua diam?" ledek Mas Kus hingga suasana kembali ramai.

Sebaliknya, aku kembali kepikiran Mak Mun. Ada keanehan yang kurasa pada diri Mak Mun hari ini. Apa yang menjadi kekahwatiranku tidakterjadi sama sekali. Apakah Mak Mun sudah sembuh?

"Barangkali selama ini Mak Mun memang ingin diajak ke tempat pesta atau hajatan, tapi tak ada yang mau ngajak. Makanya Mak Mun jadi seperti itu," kata Mas Kus berandai-andai.

"Dulu, Mak Mun itu pintar, baik juga. Setelah berpisah dengan suaminya, Mak Mun mulai berperangai aneh. Sebenarnya dia berpisah dengan suaminya bukan karena ada masalah antara mereka. Hanya orang tua Mak Mun yang memang sedari awal tidak menyukai mantunya itu. Alasan mereka, suaminya bukan berasal dari keluarga terpandang. Berbagai cara diusahakan oleh orang tua Mak Mun untuk membuat mereka bercerai. Hingga anak Mak Mun berumur satu tahun, suami Mak Mun betul-betul pergi meninggalkannya. Mak Mun sudah berusaha untuk mencari tahu keberadaan suaminya, akan tetapi Mak Mun tidak menemukan jawaban. Saat Mak Mun dipaksa menikah dengan pria pilihan orang tuanya, saat itu pula Mak Mun menjadi orang pendiam dan selalu mengurung diri di kamar. Bahkan anaknya yang masih bayi pun sering diabaikan. Untung kakak Mak Mun cepat mengambil tindakan sehingga bayinya itu dibesarkan oleh kakak Mak Mun." Demikian cerita ibu tentang masa lalu Mak Mun. Terang aku merasa prihatin mendengar cerita ibu. Erika dan Nisa pun berhenti berkomentar. Barangkali mereka juga merasakan hal yang sama denganku.

***

Dua minggu berselang semenjak Mak Mun ikut bersama kami ke tempat pesta, selama itu pula tidak terdengar lagi suara Mak Mun ribut atau marah-marah di depan rumahnya. Mak Mun pun tidak terlihat lagi keluar rumah. Padahal selama ini hampir setiap hari Mak Mun berjalan ke pasar meminta-minta atau mengutip barang-barang yang ia maui di pasar. Bahkan beberapa kali Mak Mun terjaring dan dibawa ke panti sosial oleh petugas dinas sosial kota.

Hari ini aku berniat mencari tahu keadaan Mak Mun. Ibu yang biasanya tiap hari melihat Mak Mun, ternyata juga tak pernah lagi melihatnya semenjak pulang dari pesta itu. Begitu hendak keluar rumah, aku mendengar tetangga depan rumah mengabari ibu bahwa Mak Mun baru saja meninggal dunia. Bergegas aku dan ibu berangkat ke rumah Mak Mun. Kami dapati beberapa tetangga dan keluarga Mak Mun sudah berada di rumah itu. Terlihat juga Dokter Mila duduk di samping tubuh Mak Mun yang berbalut mukena. Kata Dokter Mila, Mak Mun tidak sadarkan diri begitu selesai shalat Zuhur. Dokter Mila segera dijemput mantu Mak Mun. Namun, saat Dokter Mila sampai, Mak Mun sudah tidak bernapas lagi. Innalillahiwainnailaihirojiun.

 ****


3 komentar:

Hujan Awal Januari

Oleh Salma Deras Bersama gemuruh Menggenang Menggiring berjubel sampah Deras Diiringi badai Gelisah Menyasar jalan-jalan berbatu Deras Membe...